Sabtu , 7 Desember 2019
Beranda » Peristiwa » Prostitusi dan Kuesioner Penelitian
Ilustrasi Red Light District di Amsterdam. (ft. net)

Prostitusi dan Kuesioner Penelitian

INI cerita tentang kenangan, atau apalah namanya. Terjadi di sekitar tahun 1977/1978. Sebagai wartawan di Harian Berita Nasional Yogya, saya diajak turut serta dalam penelitian oleh mahasiswa-mahasiswa Fakultas Hukum salah satu universitas terkemuka di Yogyakarta  tentang prostitusi di Yogyakarta.

Penelitian dilakukan pada beberapa lokasi kawasan prostitusi, di antaranya di lokalisasi Kali Bayem (sekarang sudah tidak ada). Tak hanya mahasiswa, tapi juga wartawan, termasuk saya, diminta ikut membantu meneliti. Karenanya, saya pun diberi lembaran-lembaran kuesioner, yang digunakan dalam mengumpulkan berbagai keterangan dari para narasumber atau responden penelitian. Dan, respondennya adalah para perempuan yang bekerja di ranah prostitusi di situ.

Saya sudah dapat jatah respondennya. Pengasuh, atau tepatnya muncikari di tempat responden saya, memberi kebebasan memilih ruangan untuk bertemu dengan responden, bisa di ruang tamu, atau di dalam kamar. Maaf, saya tak perlu jelaskan di ruang mana yang dipilih untuk menemui responden itu.

Sebelum memulai, saya terlebih dulu membaca seluruh daftar pertanyaan di dalam lembar kuesioner. Lho, kok pertanyaan-pertanyaannya seperti ini? Kesan dan pertanyaan itulah yang muncul setelah membacanya.

Simak juga:  Kementerian Pertanian Berangkatkan Peneliti Berprestasi ke Taiwan

Kalau pertanyaan-pertanyaannya seperti itu, pikir saya, bagaimana bisa diperoleh data yang valid atau sungguh-sungguh. Misalnya, soal nama dan daerah asal mereka. Percayalah, tak akan ada yang berterus terang menyebut nama aslinya. Nama aslinya mungkin Y, tapi di lokalisasi itu namanya jadi M. Apalagi menyebut daerah asalnya, lengkap desa, nama jalan dan kota, ouw tabu sekali. Itu rahasia yang harus dijaga. Asalnya mungkin Wonogiri, ngakunya pasti Solo. Asalnya dari Nganjuk, bisa mengaku dari Malang. Atau asalnya dari Jember, bisa mengaku dari Madura.

Apalagi kalau ditanya alasannya bekerja di dunia prostitusi itu, alasannya selalu seragam dan terkesan klise, karena faktor ekonomi. Pendek kata, dari semua pertanyaan itu jawabannya sudah ada di benar saya.

 

Saya Jawab Sendiri

Nah, singkat cerita. Melihat daftar pertanyaan seperti itu, saya pun bilang ke Mbak responden, “Sudah Mbak, saya isi saja jawaban pertanyaan-pertanyaan ini ya… Mbak nyantai saja.”

“Ya, jawab sendiri saja, Mas. Saya sendiri ya, nggak begitu dong,” katanya sambil menyebut sebuah nama dan kota asalnya, yang saya yakini itu semua palsu.

Simak juga:  Pasar Kembang, Populer di Ranah Prostitusi

Maka semua pertanyaan di dalam kuesioner itu pun saya tuliskn sendiri jawabannya. Demikianlah, setelah tugas selesai, hasilnya pun saya serahkan atau kumpulkan ke koordinator tim.

Dalam perjalanan pulang, saya berpikir bagaimana mungkin data-data atau jawaban ‘omong kosong’ dari para responden seperti itu kemudian didiskusikan secara serius oleh tim peneliti.
Saya pun menjadi percaya tak semua metode atau teori penelitian sosial bisa digunakan dalam penelitian di lokalisasi prostitusi. Ada teori yang paling mujarab, investigasi dan partisipasi yang mendalam. Pendekatan dari hati ke hati…………. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (50)

Mas Pras keluar diiringi tatapan mata Aniek, Lisa dan Erna yang masih duduk santai di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x