Beranda » Pendidikan » ARSIP PERS: Perkemahan Kaum Urakan
Suasana dan kegiatan Perkemahan Kaum Urakan yang ditampilkan Majalah Basis (kiri), WS Rendra yang menjadi cover majalah Basis edisi Djanuari 1972 - XXI-3 (kanan). (ft. sea)

ARSIP PERS: Perkemahan Kaum Urakan

MAJALAH Basis edisi Djanuari 1972 XXI-3 yang merupakan edisi khusus karena merangkap edisi bulan Desember 1971, Januari dan Februari 1972, menurunkan tulisan berkaitan dengan Perkemahan Kaum Urakan, yang digerakkan oleh WS Rendra, pemimpin Bengkel Teater, dan seniman terpandang kala itu.

Perkemahan Kaum Urakan yang berlangsung selama tiga hari di pantai Parangtritis, Bantul, pada bulan Oktober 1971, merupakan peristiwa budaya yang paling menonjol dan ‘menghebohkan’ saat itu. Peristiwa budaya tersebut tidak hanya menarik perhatian para pecinta dan pengamat budaya, tapi juga masyarakat luas. Tak hanya di Yogyakarta, tapi juga secara nasional. Bahkan juga melebar ke manca negara.

Berkaitan dengan Perkemahan Kaum Urakan itu ada dua tulisan yang ditampilkan majalah Basis tersebut. Tulisan Ruedi Hofmaan berjudul “Di Pojok Kebudayaan. Dan, tulisan WS Rendra “Alternatif dari Parangtritis”.

 

Izin Sempat Dicabut

Di era Orde Baru itu, kegiatan-kegiatan budaya atau pentas-pentas kesenian tak sesemudah sekarang. Proses izinnya lumayan ketat. Demikian pula yang terjadi pada kegiatan Perkemahan Kaum Urakan.

Seperti yang ditulis Ruedi Hofmann, kegiatan itu sempat dicurigai pihak berwajib. Sehingga izin yang sudah diberikan, sempat dicabut lagi. Tapi kemudian dengan perjuangan cukup keras, izin pelaksanaannya berhasil diperoleh kembali.

Menurut Ruedi Hofmann, kekhawatiran pihak berwajib tidak mempunyai alasan. Karena nyatanya, apa yang terjadi di Parangtritis tidak dapat disamakan dengan gejala Hippies dan Pop Festival, walaupun latarbelakang persoalan mirip sedikit. Karena di sini pun kaum muda mencari sikap baru terhadap dunia dan kehidupan.

Diuraikan Hofmann, acara perkemahan itu didahului di Sport Hall Kridosono Yogyakarta dengan pementasan “Dunia Azwar oleh Bengkel Teater, yang sebelumnya sudah banyak mendapat perhatian di Ibukota.

Simak juga:  Jurnalisme Menghukum (5): Pelanggaran Terhadap Kode Etik

Menjelang malam pertama, tulis Hofmann, dikelilingi oleh kurang lebih 200 peserta, di atas sebuah bukit pasir dekat Samudera, WS Rendra membuka acara. Dalam ceramahnya hidup disamakan dengan sebuah permainan anak-anak yang namanya puzzle. Seperti pada permainan tersebut kita mencari potongan-potongan triplek yang cocok, dan kalau ketemu terus harus kita cari yang berikut, demikian pula pertanyaan mengenai hidup kita. Begitu kita rasa ada jawaban, begitu timbul pertanyaan baru dan seterusnya tanpa henti-hentinya sampai ujung cakrawala. Manusia harus menanyakan segala sesuatu tanpa prasangka, tanpa apriori, tanpa tabu.

 

Pengertian ‘Urakan”

Hofmann menulis, seorang ahli bahasa dengan kamusnya mungkin dapat membuktikan bahwa ‘urakan’ sebetulnya mempunyai arti yang jelek. Tetaqpi WS Rendra sebagai penyair justru merasa berkewajiban untuk mencari istilah baru untuk mengungkapkan segi yang akan ditekankan.

Kaum urakan, lanjutnya, seakan-akan berdiri di pojok, bukan karena mereka itu mau mengasingkan diri dari masyarakat. Sebaliknya, oleh karena mereka secara aktif merasa terlibat, maka segala sesuatu mereka lihat dari sudut lain, dan dengan demikian mereka itu mendapatkan inspirasi baru.

Menurutnya, dalam arti ini Parangtritis oleh kaum urakan dipandang sebagai pojok. Sukar untuk membayangkan tempat yang lebih kaya variasi dan rangsangan alam daripada Parangtritis. Samudera India sangat hebat dengan ombak-ombak besar, sehingga tidak ada orang berani berlayar di sana. Di sebelah timur kelihatan karang-karang Gunungkidul dan di sebelah barat bukit-bukit pasir yang menimbulkan kesan seperti di padang gurun Sahara.

Simak juga:  Sistem Pers Indonesia (1) : Dari Pers Kebangsaan Ke Pers Liberal

Semua itu, urai Hofmann, lain sama sekali bila dibandingkan dengan alam di kota-kota besar, tempat kebanyakan peserta perkemahan. Di sana keramaian manusia, di sini alam yang sunyi senyap. Di sana hasil alam dipelihara atau dimanfaatkan secara kecil-kecilan, dan sampah mengotori segala tempat. Di sini keagungan laut dan gunung, semua serba besar dan luas, dan semua serba bersih, termasuk angin yang bertiup. Dengan demikian kita dapat bernafas secara bebas, dan pikiran kita menjadi bersih dari gangguan-gangguan.

 

Berikan Alternatif

Untuk tulisan WS Rendra “Alternatif dari Parangtritis, sepertinya layak disimak apa yang dikemukakannya pada dua alinea terakhir dari tulisan tersebut.

Dikemukakan Rendra, memang benar kaum urakan diharapkan bisa memberikan alternatif bagi kebudayaan yang mapan, namun hal itu tidak berarti bahwa kaum urakan harus setiap kali mengada-ada, mengarang alternatif. Alternatif harus timbul dari kebutuhan, sehingga dengan demikian kedudukannya dalam kehidupan menjadi autentik dan tidak terjerumus ke dalam mannerisme.

Selanjutnya, tulis Rendra lagi, alternatif yang nampak bisa jalan di dalam kehidupan yang urakan belum tentu bisa bulat-bulat dipindah ke dalam kebudayaan yang mapan, melainkan harus mengalami moderasi. Di samping itu kegunaan alternatif dari kehidupan kaum urakan  tidaklah semata-mata  tergantung dari bisa diterima atau tidaknya dalam masyarakat yang mapan. Melainkan bisa juga berguna sebagai perangsang perubahan tanpa menjadi contoh perubahan itu. Dan, juga bisa bermanfaat sebagai lawan dialog bagi norma-norma masyarakat mapan sehingga dengan begitu masyarakat mapan mempunyai barometer bagi norma-normanya. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Tragedi Udin & Khashoggi, Kelakuan Pecundang Selalu Terulang

Ketika wartawan Harian Bernas Yogyakarta Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin (32) dianiaya seseorang di depan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *