Rabu , 20 Februari 2019
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XXII: Perempuan Jangan Alergi dengan Politik
Penyerahan kenang-kenangan lukisan sketsa wajah Hj. Winarti karya Vincensius Dwimawan oleh Oka Kusumayudha, Pangarsa Abdi Dalem PWS (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XXII: Perempuan Jangan Alergi dengan Politik

HJ. WINARTI, SE, MH, BUPATI TULANG BAWANG, LAMPUNG

PADA diskusi hari ini, terima kasih tak terhingga kepada panitia, terutama PWS Yogyakarta yang sudah memberikan ruang kepada saya, Bupati Tulang Bawang, bupati perempuan pertama di Tulang Bawang, hasil Pilkada 2017.

Saat tadi mengheningkan cipta, tidak terasa ingin menangis, mengingat hari ini saya diberi kesempatan, kita semua diberi kesempatan untuk mengenang sejarah pertama kongres perempuan di Yogyakarta. Dan hari ini saya bersama Ibu-ibu Yogya dan mahasiswa Yogya. Ini bukan suatu kebetulan, tapi Allah sudah berkehendak, bahwa tidak ada yang tidak mungkin.     

Dari kecil sejak bisa membaca dan lain-lain, saya ingin mempelajari tentang sejarah kongres perempuan yang pertama dilakukan di Yogyakarta. Dan, hari ini kita bisa bersama-sama di sini untuk bisa meneruskan perjuangan para pahlawan kita, perempuan-perempuan hebat pada saat itu. Bung Karno menyebut perempuan-perempuan hebat itu sebagai Sarinahnya Indonesia. Maka perempuan dan laki-laki adalah sayap yang saling mendampingi untuk membangun negeri kita ini.

Tidak ada yang namanya perempuan itu di bawah atau di dapur. Yang ada perempuan di mana-mana, diberikan kesempatan untuk bisa eksis. Baik itu di dunia politik, dunia usaha, maupun yang lainnya.

Menjadi perempuan yang aktif memang menghadapi kendala. Tapi yakinlah, pada saat keinginan kita ingin benar-benar berbuat untuk minimal lingkungan, desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan Indonesia, asal konsisten, hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Terlebih apabila kita benar-benar punya integritas sebagai perempuan.

Kita akan lebih bisa investasi di bidang politik kalau masuk dalam bidang organisasi, salah satunya. Dan ini menuntut kita untuk bisa memberikan beberapa pemikiran. Bagaimana kita akan memberikan pemikiran dan lain-lain, mengambil kebijakan, kalau tidak ada di dalamnya.

Pada saat itu, 2009, saya putuskan begitu. Saya melihat ketimpangan di Kabupaten Tulang Bawang, terutama terhadap perempuan. Ini yang men-desak jiwa saya pada saat mengambil S-1-nya di Muhammadiyah. Bergabung dengan teman-teman aktivis di sana, dan cukup membuat kita membuka diri untuk berbakti kepada bangsa. Diteruskan, saya masuk partai politik untuk mencalonkan diri pada 2009. Dan, masyarakat mengakui bukan karena hal-hal yang lain, tapi bagaimana kita punya keinginan untuk mengubah daerahnya lebih baik.

 

Sedikit yang ke Parlemen

Jadi kembali lagi, bahwa di Indonesia sangat sedikit sekali perempuan yang bisa masuk ke parlemen, baik itu di tingkat pusat, di kabupaten maupun di provinsi. Begitu juga dengan jabatan strategis di eksekutif. Begitu juga di organisasi-organisasi yang lain. Ini yang mendorong kita untuk mengajak perempuan-perempuan, bahwa perem-puan tidak akan kalah sama laki-laki, yakin itu.

Nah, pada kesempatan sekarang ini kesetaraan jender dan alam politik memang sudah diakui. Bahkan Undang-undang mengharuskan partai politik menempatkan 30 persen kader perempuannya untuk dicalonkan sebagai anggota DPRD kabupaten, provinsi maupun DPR pusat dan DPD. Tapi ketika kita melihat kenapa perempuan masih sedikit keterpilihannya, bahkan saya melihat tahun 2015 sampai dengan tahun 2018 yang menjadi kepala daerah termasuk 2014 yang menjadi anggota DPRD baik tingkat I, II, maupun pusat itu masih di bawah 30 persen. Ini juga yang mendorong, kenapa kita mesti memberikan masukan, memacu semangat perempuan untuk duduk di parlemen.

Ketika kita mau memperhatikan perempuan dengan kebijakan, dengan kita masuk ke dalam sistem, itu lebih mudah. Contoh, kita memberikan anggaran yang pro rakyat dan pro perempuan. Pertama saat saya jadi ketua DPRD Tulang Bawang pada 2009, begitu membahas anggaran, kalau urusannya dengan perempuan, sepanjang itu semuanya sesuai dengan kepentingannya, DPRD itu diam tak berani menolak.

Pasti saya cek dulu, mana anggaran untuk perempuan, mana PKK. Semua yang berhubungan dengan anak dan perempuan, saya utamakan untuk selesai. Kalau bisa ditambah. Bahkan saya bilang kepada ibu-ibu, perempuan, organisasi perempuan semuanya, sepanjang itu memang benar regulasinya dilakukan, lalu sepanjang itu memang benar-benar dibutuhkan oleh ibu dan anak, kegiatan-kegiatannya dan bisa dipertanggungjawabkan, usulkan, tambahkan ke Ketua DPRD. Saya lebih baik tidak mengesahkan yang lain daripada saya menyengsarakan ibu dan anak, saya bilang begitu.

Dua periode berjalan, itu semuanya bisa clear. Lalu 2017 saya jadi Bupati, tepat tanggal 20 Desember kemarin, satu tahun saya jadi bupati. Apa yang dilakukan oleh perempuan, seorang kepala daerah perempuan. Dia menga-takan, dia harus pro perempuan, dia harus pro wanita, pro bayi dan anak, ini salah satunya.

 

25 Program Pro-rakyat

Program pemenangan bupati pada saat itu sangat menentukan. Mungkin figur sekian persen. Dan tidak kalah pentingnya adalah kuasa Illahi, keinginan dan garis tangan, tapi semua itu ditunjang dengan usaha. Ada 25 program pro rakyat, pro perempuan yang saya tawarkan kepada masyarakat. Apabila Winarti perempuan jadi bupati, maka semua kebutuhan yang mendasar, pemberdayaan untuk perempuan dan pemuda akan kita utamakan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan Pelestari Pancasila

Mungkin selama ini belum tersen-tuh, yang namanya perempuan, yang namanya pemuda, maka ada yang kami sebut 25 program pro rakyat atau 25 program unggulan. Salah satunya inilah yang memenangkan saya melawan incumbent, yang seluruh survei, lembaga survei, seluruh yang digunakan, mungkin ada sekitar 15, tidak ada satu pun yang memenangkan saya, pada saat itu. Tidak ada satu pun.

Tapi karena saya menggunakan sistem relawan dan juga program yang benar-benar bisa diyakinkan bahwa apabila Winarti jadi bupati, program ini akan masuk dalam RPJMD dan menjadi hak rakyat. Keyakinan itu, bahkan saya siap diturunkan kalau tidak memasukkan dalam RPJMD. Program pro-rakyat nanti bisa dibuka, di website-nya Tulang Bawang, banyak itu, termasuk bagaimana menekan kematian ibu dan anak. Salah satunya apa yang dilakukan oleh seorang bupati perempuan untuk berpihak kepada ibu dan anak, saya anggarkan, tahun 2018 kemarin, memberikan perhatian khusus terhadap bidan-bidan desa. Kalau di Yogya sini kan jalannya satu kampung dengan lainnya berdekatan, kalau kami dengan letak geografis yang seperti itu tidak memungkinkan untuk berdekatan dan bahkan ke kota sangat jauh. Sekitar dua jam itu ada dari desa ke kota.

Jadi dengan adanya penanganan di bidang kesehatan, ini sangat membantu yang namanya menekan kematian ibu dan anak. Dari hamil sampai dengan melahirkan, bagaimana bidan desa itu benar-benar memantau keberadaannya, kesehatannya dan sebagainya. Ini kita anggarkan khusus. Bahkan 2019, kita anggarkan kursus untuk masalah bagaimana kita menangani ibu dan anak perempuan, serta organisasi perempuan. Kurang lebihnya 10 milyar rupiah lebih, yang saya anggarkan untuk kegiatan-kegiatan perempuan.

Ini salah satu bentuk bagaimana kita berpihak kepada masyarakat, khususnya ibu dan anak. Banyak program-program yang saya berikan kepada perempuan, bahkan ada program yang namanya ekonomi kreatif khusus wanita. Kita berikan itu, nanti bikin kelompok, jadi setiap desa itu ada. Kemarin saya kumpulkan perwakilannya kurang lebih 500 wanita perwakilannya. Untuk 2019, pemberdayaan kursus wanita sudah mulai jalan. Bahkan anggarannya saya taruh di awal tahun, sehingga nanti kalau ada evaluasi, pada saat ada perubahan bisa ditambah di APBD Perubahan.

 

Masuk ke Dalam Sistem

Ini salah satu contoh pentingnya perempuan masuk dalam sistem untuk mengambil keputusan berpihak kepada masyarakat. Memang bisa saja jadi bupati atau kepala daerah yang lain atau menjadi pengusaha dan lain-lain, tapi kali ini kita bicara masalah perempuan dan politik.

Saya bilang, perempuan jangan alergi dengan politik. Karena ini penting. Ketika perempuan atau wanita masuk ke dalam sistem dengan diikuti belajar sebagaimana yang disampaikan oleh pahlawan wanita kita, RA Kartini. RA Kartini mengatakan, bagaimana mengubah kondisi perempuan-perempuan Indonesia. Beliau menulis dan sebagainya, kemudian melontarkan pendapatnya bahwa wanita harus berpendidikan, wanita harus belajar. Dengan belajar itulah, akan terlihat perempuan mengalami perubahan lebih baik.

Jadi saya berharap, ibu-ibu semuanya, seandainya ada calon anggota DPRD perempuan dan lain-lain, bicara kepada calon anggota DPR RI dan lain-lain, selalu bilang perempuan. Bagaimana bapak nanti jadi anggota DPR RI berpihak kepada perempuan, kami minta perjuangkan anggaran perempuan, selalu bicara itu. Fokus kepada anak, perempuan dan ibu. Bagaimana kita membela yang namanya perempuan, ibu dan anak.

Di Tulang Bawang, saya selalu mengajak namanya gotong-royong. Karena kita tahu semuanya dan paham, bahwa bangsa Indonesia ini adalah ideologinya Pancasila. Kita bisa besar begini karena beraneka ragam budaya, suku, agama, dan lain-lain. Jadi ketika saya dilantik, selesai dilantik, saya berpikir hanya satu, bagaimana budaya gotong-royong di Indonesia, di Tulang Bawang ini tetap dijaga.

Gotong-royong bukan hanya bersih-bersih, saya turun langsung. Jadi gotong-royong bukan hanya bersih-bersih, tapi juga bagaimana gotong-royong membangun karakter, membangun bangsa, membangun infrastruktur, bidang pendidikan, dan lain-lain. Diskusi seperti ini, kalau tidak ada gotong-royong dari senior-senior kita, dari Pak Idham dan Ibu semuanya, tak akan terjadi kita kumpul seperti ini.

Dengan gotong-royong, semua yang tidak mungkin menjadi mudah. Semua yang sulit menjadi gampang. Ini saya buktikan seperti ini. Bagaimana saat itu ada beberapa gedung, saluran air dan lain-lain yang sulit menunggu anggaran, ayo kita kumpulkan, semuanya, mulai dari bupati, Sekda, sampai kepala dinas, sampai honorer. Kita tunjukkan kepada masyarakat, jangan hanya masyarakatnya disuruh. Kita sebagai leadernya, sebagai pemimpin harus turun langsung ke lapangan.

Nah ini, salah satu contoh kecil bahwa gotong-royong bisa dilakukan di mana pun, termasuk bagaimana membangun di lingkungan kita. Ini sangat bermanfaat dan berarti. Saya membangun Tulang Bawang satu tahun dengan 25 program, dan bagaimana kita pro perempuan, berpihak kepada perempuan, organisasi-organisasi perempuan, semuanya diurusi. Saya bilang pada organisasi, sepanjang saya bisa bantu, dan sampeyan semuanya bisa mempertanggungjawabkan saya bantu. Karena kapasitas seorang bupati itu memberikan anggaran, salah satunya setelah disetujui oleh legislatif atau DPRD.

Simak juga:  Pemimpin-38

Maka saya lakukan itu untuk meya-kinkan bahwa perempuan masuk dalam sistem, dan bisa mengambil kebijakan bahkan mempengaruhi lingkungannya. Untuk urusan susu telur, ada program susu telur untuk anak sekolah. Diberi-kan kepada anak-anak kita yang sekolah SD swasta maupun negeri, Islam maupun non-Islam. Salah satunya untuk apa, menambah gizi, dan nutrisi, sehingga orang tuanya juga di rumah ingat, bahwa anak-anak butuh itu.

Nah, ini salah satunya yang ingin saya sampaikan, bahwa ada sosok yang bernama Idham Samawi yang sangat pro dengan program untuk perempuan. Pak Idham ini salah satu yang sangat pro perempuan. Sangat pro perempuan. Beliau selalu bilang, pesan sama saya, “Ingat Mbak Win, Ibu ketua umum kita ini perempuan, jadi tetaplah menjadi perempuan yang punya dedikasi, yang belajar terus, belajar untuk memahami ideologi Pancasila, gotong-royong seperti apa, tunjukkan kita walaupun perempuan, kita bisa komunikasi dengan Bapak-Bapak semuanya.”

Dengan dua kali menjadi Ketua DPRD, ini juga investasi, bagaimana di situ hampir 70 persen laki-laki semua. Tapi alhamdulillah, dengan kegotongroyongan tadi tidak ada yang sulit. Memang yang namanya dinamika politik, proses politik bermacam-macam, tapi intinya semua terkomunikasikan dengan baik. Karena tujuannya satu, untuk pengabdian yang tulus kepada rakyat Tulang Bawang dan Indonesia.

Saya juga selalu bilang, kalau bisa siapa saja tidak usah menghadap saya untuk hal-hal yang negatif. Datanglah kepada saya dengan berpikiran yang positif dan lobi-lobi positif. Saya hanya berharap itu dan tetap mengingatkan, dan diingatkan untuk tetap hati-hati dengan banyaknya masalah-masalah yang ada di kepala daerah dan lain-lain. Ada rasa takut dan sebagainya, tapi dengan bismillah, saya bermohon kepada Allah SWT agar niat untuk memberi kontribusi dengan 25 pro-gram yang benar-benar bersentuhan bagaimana Karang Taruna, bagaimana pemberdayaan pemuda-pemudi, saya anggarkan mulai 2019. Jadi pemuda nanti tidak hanya bicara masalah bagaimana bisa bertanding, bagaimana bisa menari, tidak. Tapi bagaimana memberdayakan pemuda.

Pemberdayaan ini sangat penting. Ketika kita bicara infrastruktur, ketika bicara bedah rumah, semuanya ada program bedah rumah. Bahkan kemarin untuk infrastruktur ada jalan di Kabupaten Tulang Bawang sudah 30 tahun tidak layak, 30 tahun tidak bisa dilewati dengan nyaman. Pada tanggal 7 Juli 2018, saya menghadap Pak Presiden, Pak Jokowi. Saya tidak berpikir yang lainnya, saya hanya memperjuangkan petani sama jalan yang sudah 30 tahun di Kabupaten Tulang Bawang tidak diberikan anggaran.

Setelah itu paginya pada acara seremoni yang sangat luar biasa, saya dipanggil. Beliau bilang, “Saya tahun ini bantu jalan Tulang Bawang yang sudah 30 tahun itu, saya bantu 60 milyar.” Langsung dikerjakan. Langsung dieksekusi.

Inilah salah satu keberpihakan kepada wong cilik, kepada rakyat, kepada petani dan sebagainya. Setiap ada event kita pergunakan untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan alhamdulillah Pak Jokowi memberikan apresiasi dan action sangat cepat. Bahkan dalam satu tahun saya memimpin, saya baru bisa menyiapkan program bedah rumah 60 unit. Saya menghadap Pak Jokowi.

Pak Jokowi melihat keseriusan saya memperjuangkan itu, lalu bilang, “Ya sudah Bu Win, 2018 500 unit bedah rumah saya kasih ke Tulang Bawang.” Alhamdulillah, langsung dieksekusi. Jadi tahun 2018, berkat Allah SWT sangat membantu saya membangun Tulang Bawang dari 60 unit, saya dapat tambahan 500 unit bedah rumah dari Pak Jokowi, sehingga ini membantu percepatan pengentasan kemiskinan yang ada di Kabupaten Tulang Bawang.

Setelah bedah rumah, setelah jalan, pemberdayaan ibu-ibu, anak, dan perempuan, maaf pemuda sampai bapak-bapak juga diberdayakan. Kita kasih anggaran porsi yang cukup sehingga mereka punya pendapatan. Kalau perempuan punya pendapatan, kalau pemuda punya pendapatan, kreatif, ini juga akan mengurangi hal-hal yang negatif.

       

Perangi Hoax

Mungkin itu dari saya, sekali lagi, jangan alergi dengan politik. Pemberdayaan sangat penting setelah melihat bagaimana kita menuju era digital, era di mana era yang menuntut untuk selalu eksis bahwa dunia medsos, facebook dan lainnya digunakan untuk hal-hal positif. Sosialisasi dengan hal-hal yang positif. Karena ini sangat penting ketika berita hoax tidak kita tangkal, tidak kita luruskan, membuat orang-orang merasa itu berita benar.

Sebagai perempuan, sebagai pemuda sebagai penerus bangsa, mari kita sama-sama perangi berita hoax yang ada di medsos. Ini juga akan membantu adik-adik kita, anak-anak kita yang melihat semuanya bahwa ada berita baik, ada berita buruk, saya kira bisa membedakan.    

Mudah-mudahan dengan diskusi pada hari ini, yang saya sampaikan mudah-mudahan bisa menambah semangat mahasiswa-mahasiswi dan ibu-ibu sekalian untuk tetap eksis bahwa perempuan dalam dunia politik itu sangat ditunggu di Indonesia. Selamat Hari Ibu semoga wanita-wanita Indonesia terutama yang ada di Yogyakarta ini, menjadi luar biasa setelah hari ini. Semoga Tuhan melindungi kita semua. *** (SEA)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XXII: Kanjeng Nyai Dewi Politisi

SELIRIA EPILOGUS DEWI, genderik dewa perempuan. Dewa Dewi. Kanjeng, menempati posisi sosial yang tinggi, kedudukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *