Beranda » Pariwisata » Diskusi Kebangsaan XXIII: Perda Pendidikan Karakter, Hapus Bakat Korupsi
Dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG, Bupati Kulon Progo (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XXIII: Perda Pendidikan Karakter, Hapus Bakat Korupsi

DR. HASTO WARDOYO, SP, OG, BUPATI KULON PROGO

SAYA itu bermula sebagai ahli kebidanan kandungan. Ya, jadi urusannya hanya wudel (pusar-red) ke bawah lutut ke atas. Ya, kalau tadi Pak Eka mengatakan saya tukang suntik, iya, karena lima tahun pekerjaan saya nyuntik pasien. Dan, saya di pedalaman, jadi tidak ada jalan darat, adanya hanya perahu. Jadi ibu-ibu ini merapat ke saya, kemudian saya suntik dari perahu saya. Kemudian setelah itu pantatnya jalan lagi, gantian pantat berikutnya, gitu ya.

Itu hampir lima tahun. Kadang-kadang jarum saya masih nancep di pantat, perahunya sudah jalan. Kadang-kadang, eksiden itu namanya. Tapi ini tidak etis karena nyuntik di depan umum, tapi kan karena ini darurat di pedalaman.

Tapi saya sekarang sudah kembali ke ‘jalan yang benar’, jadi sudah tidak melakukan itu lagi. Oleh karena itu, ini selalu saya sampaikan supaya saya dimaklumkan kalau seandainya pemahaman saya itu kurang. Karena ilmu saya mengambil spesialis kebidanan, setelah itu mengambil sub bayi tabung, sehingga hari ini ahli saya adalah stemsel dan bayi tabung. Jadi kalau menabung bayi dengan saya oke.

Kemudian di Kulonprogo memang menggunakan visi misi, mandiri dan berprestasi. Artinya di sana juga ada sehat, mandiri, berprestasi. Sebetulnya sehat itu ya harapannya clear and clean, nanti bagaimana kita itu bersih, tetapi dari sisi kita tidak korupsi bahasan hari ini.            

Nanti saya juga akan berguru kepada Pak Dr. Zaki, saya kira bagaimana membersihkan kita tidak secara fisik clear tetapi secara batiniah barangkali banyak bisa kita bersama. Sebetulnya kalau saya bicara korupsi ya, agak terganggu juga karena negara kita itu konon dikatakan negara yang paling banyak angka-angka korupsinya. Kemudian di sana ada data menempatkan Indonesia itu di angka 107. Itu data tahun 2015, tetapi tahun 2017 kita sudah lumayan membaik, karena kita di urutan 96. Sehingga ketika kita di urutan 96, ya dianggap Corruption Index kita itu lumayan membaik.

 

Indonesia, Rangking 96

Kemudian ini Pak Agus Raharjo, Ketua KPK 4 Desember kemarin juga mengatakan kalimat yang memberikan optimisme kepada kita, kami merinci data mulai 1998 beliau katakan bahwa tahun 1998 indeks korupsi kita termasuk rendah di Asia, bersama Vietnam, kemudian Thailand, Brunei, dan Malaysia. Tetapi saat ini disampaikan, maka kita mengalami suatu perbaikan. Dan kalau kita lihat ini, di tahun 2017, negara kita indeksnya 37. Ini menunjukkan bahwa kita di rangking 96 dari 181 negara.

Ini sebetulnya ada tren perbaikan, meskipun di terakhir itu stagnan. Ada persepsi bahwa stagnan ini disebabkan banyak Bupati yang ditangkap. Sehingga stagnan. Tetapi kalau saya, waktu saya jadi dokter di Puskesmas itu, sebelum saya ada, sebelum saya jadi dokter di Puskesmas itu, Puskesmas itu belum pernah ada dokternya, karena di pedalaman Kalimantan. Itu tidak pernah ada kematian ibu, tidak pernah ada kematian bayi. Jadi Kepala Dinas itu, wah ini Puskesmasnya bagus, tidak pernah ada kematian ibu, kematian bayi. Setelah saya datang ke sana, langsung kematian ibu naik, kematian bayi naik. Karena yang dulu tidak pernah dilaporkan.

Nah, saya dokter baru kan semangat, saya catat, maksudnya biar saya dapat prestasi, ternyata malah sebaliknya. Begitu saya laporkan, begitu ada dokter baru, ternyata angka kejadian kematian ibu dan bayi naik. Padahal sebelumnya banyak juga tetapi tidak tercatat. Setelah kita catat kemudian akhirnya naik. Makanya ada bias di sini. Oleh karena itu data ini juga bagus, tetapi kita juga belum bisa lah 100% meyakini data ini.

Kalau kita lihat perbaikan yang dikatakan oleh Pak Agus Ketua KPK itu seperti ini. Ketika rangking, indeks kita sudah 37 naik, kemudian di tahun 2017 itu Indonesia itu menjadi urutan nomer 5 di sini, kita skor indeksnya 37 rangkingnya 96, Singapura itu rangking 6, jadi jauh di atas kita, Brunei, dan seterusnya. Konon dulu tahun 1998 itu Indonesia itu di bawahnya Thailand, Vietnam, Myanmar dan seterusnya. Jadi data ini menunjukkan secara riil bahwa kita ini ada perbaikan, artinya di pemerintahan Pak Jokowi ini juga lumayan. DPR-nya Pak Idham, Presidennya Pak Jokowi.

Ini selingan saja. Tadi pas Pak Idham nyanyi itu saya kaget juga, wah ternyata Pak Idham itu seperti anak muda. Kalau saya sebagai dokter kan melihat orang yang masih bisa nyanyi, nahan nafas itu kan orang yang jantungnya sehat. Makanya Pak Idham terbukti jantungnya sehat. Setelah orasi, orasinya seperti mahasiswa. Tadi Pak Idham itu luar biasa, insyaallah masih bisa mewakili kita semua di tingkat nasional. Dan harus kita dukung.

Inilah kemudian profil Indonesia di akhir tahun 2016. Rangking kita sebetulnya di Asean lumayan, tetapi jika dibandingkan dengan Singapura jauh. Korupsi itu masih menjadi bagian hidup kita yang kemudian memang perlu kita perbaiki terus. Kalau penyebab korupsi itu teorinya banyak, saya juga baca, tapi karena saya bukan ahlinya, tidak bisa seperti orang-orang yang ahli mempelajari ilmu ini, karena ilmu saya sudah kedokteran. Tapi kalau saya melihat di desa atau di kabupaten, orang itu memang persis seperti yang diteorikan BPS ya, bahwa setiap 100 orang, kalau di DIY ini angkanya ada 8,1 itu agak eror. Setiap 100 orang, 8,1. Rata-rata nasional setiap 100 orang yang eror 6,1. DIY itu agak lebih tinggi daripada rata-rata nasional.   Artinya kalau saya punya karyawan atau PNS 100, kira-kira 8 yang agak setengah kopling. Disuruh bersih-bersih tidak bisa, pinginnya korup saja, maunya mbathi saja. Setiap ada proyek nylekuthisnya setengah mati. Ya pinginnya itu dapat-dapat-dapat terus, naudzubillah mindzalik. Ini sudah menjadi karakter ya. Karakter dia itu ingin memiliki kepunyaan orang lain. Dan karakter seperti ini ya persis karakter gangguan ringan. Kan gangguan ringan itu ada jenis gangguan jiwa skeptomania. Dia itu pingin selalu senang kalau mengambil milik orang lain.       

Orang desa itu saja bakat ngambil barang orang lain tinggi sekali. Ada orang tani itu punya kebun yang bagus ya, kemudian rambannya itu banyak untuk makanan ternak. Tapi ketika melihat tetangganya punya ramban, tangane ya cluthak tetep ngambil rambane tanggane, gitu lho. Ini bangganya setengah mati, wah saya bisa ngambil anunya orang lho, tidak ketahuan lho. Jadi bangga akan dosa-dosa itu ada. Itu kenyataan, bangga akan dosa-dosa. Karena banyak orang cerita wah dapat, dapat lho. Dapat apa? Lha orang dapat kok senenge lho. Ming ngunthet we suenenge mekakat. Lha mohon maaf, kalau saya ngumpulkan pemborong-pemborong itu ya, saya bilang, kalau saya punya anak cucu, naudzubillahi mindzalik, tidak akan saya jadikan pemborong, apalagi mborong pekerjaan pemerintah. Amit-amit jabang bayi, saya bilang begitu.

Waduh, kok Pak Bupati ngomong-nya begitu ya? Lha iya. Wong kamu itu setiap hari pergi ke lapangan ngontrol bangunan, pikirannya satu kok, endi sing isa diunthet, endi sing isa diunthet. Memang itu saja kok. Nek semene isa dikurangi, pakune isa dikurangi, wesine isa dikurangi, nek isa dikurangi, sing digoleki ming sing arep ngunthet-ngunthet. Lha iki piye? Wong nggolek rezeki untuk anaknya, untuk istrinya kok pikirane nguthet wesi, ngunthet wesi. Lha apa ora wesine mlebu neng weteng, semene mlebu neng weteng. Bagaimana mau barokah? Tapi ini fenomena lho. Kalau misalnya ada 100 pemborong, kalau tadi ada 100 orang umum ada 8 yang setengah kopling.

Simak juga:  Pemimpin-24

 

Revolusi Mental Penting        

Saya itu sampai tahun 2011, ngajar dokter-dokter, dokter spesialis. Saya hapal betul, murid calon dokter sudah ada 100, ini pasti nanti 7 atau 8 ada yang eror. Tanggungjawabnya tidak jelas, pasien ditinggal pergi, malah ada yang selingkuh dengan pasiennya. Macam-macam, ini sudah 8 di antara 100 itu sudah ada.

Makanya kalau menurut saya, pembangunan mental atau revolusi mental ini penting sekali. Nanti Pak Zaki saya kira siraman rohaninya penting. Apa, sebetulnya bagaimana pembangunan dalam bidang spiritual dan relegiusitas ini bisa mengatasi masalah ini. Saya kira ini ranahnya Pak Zaki.

Kalau saya dengan Pak Idham mungkin karena basicnya di birokrasi, ya kami bagaimana membuat PNS itu langkah tegap. Protapnya jelas, kontrolnya jelas, terus kita memberi contoh, itu saja. Saya sebagai Bupati gajiya Rp 6.400.000,-. Kalau tukin, tunjangan kinerja kita tidak dapat, karena Bupati bukan PNS. Sehingga Sekda mendapatkan gaji Rp 30 juta, Bupati Rp 6.400.000 potong apa-apa itu, zakat, pajak dan sebagainya, terima Rp 5.800.000. baru pulang di jalan ketemu konstituen, sampai rumah sudah habis. Belum sampai rumah, karena kalau orang, pejabat yang dipilih oleh rakyat itu, berat beda dengan yang tidak dipilih oleh rakyat. Pak Idham saya yakin sudah sangat katam dengan segala hal.

Pak, Pak Bupati tahu tidak bedanya Pilkabe dan Pilkada? Repot juga ya, saya dokter spesialis kebidanan ya ngertilah pilkabe, tapi kalau suruh bedanya dengan pilkada kan aku ya ra ngerti gitu lho. Pilkabe itu kalau lupa minum jadi, hamil, kalau pilkada, kalau jadi lupa. Astaghfirullah, ha ini wis pinter-pinteran. Rakyat itu pinter-pinter. Oleh karena itu, ada banyak penyebab yang langsung maupun tidak langsung juga karakter individu, juga pengaruh struktural. Ini sangat penting di dalam birokrasi, juga mempengaruhi bagaimana ada di sana.   

Faktor politik kalau saya lihat di sini kan ada to, pembiayaan partai politik, ternyata di sana faktor korupsi itu. Saya itu sering ketemu Bupati-bupati seluruh Indonesia , kadang-kadang saya juga sering geli lho. Bupati-bupati seluruh Indonesia itu, wah ini bupati ki ana limang atus, iki nek sing setengah kopling 8 saben satus kan paling enggak bupati sing rada eror ya 8 x 5 lah, patang puluh lah paling. Jadi kalau KPK nangkap 100, ya dua kali lipatlah kira-kira. Tapi kenyataannya kadang-kadang memang begitu juga.

Saya ketemu seorang Bupati, diskusi. “Aduh, saya segera pulang ini, Pak,” katanya. “Kenapa pulang?” tanya saya. “Wah ini saya baru lelangan, nanti kalau saya nggak pulang, saya nggak dapat bagian.”

Astaghfirullah hal’adzim. Bupati kok ya nylekuthis, saya bilang. Jujur begitu itu. Terus nanti hapenya ada tiga, empat begitu. Ada yang betul-betul agak mreman sedikit begitu, pulang hapenya yang satunya diinjak, cemplungke kolam begitu. Waduh iki nek hape ini ditanya di yaumul akhir kan terus isa crita werna-werna. Saya merasa oh ya memang mentalitas kita masih jauh dari yang diharapkan. Sehingga faktor karakter saya kira menjadi satu hal yang penting.

Ha inilah, sehingga penyebab korupsi itu banyak. Saya tidak akan cerita. Ada contoh penegakan hukum yang kurang konsisten, beda pemerintahan beda perlakuan, penyalahgunaan kekuasaan ada yang takut dianggap bodoh, kalau tidak menggunakan kesempatan. Ada juga. Wah, saya tidak merasa, nanti dianggap tidak berani ya. Ini juga ada. Dan lingkungan yang anti korupsi juga mendukung, lalu budaya memberi upeti, imbalan jasa atau hadiah ini juga besar lho. Kalau misal ooh ini mau diangkat menjadi kepala dinas, habis itu terus ngantarin ingkung, itu kan ada.

Makanya ya, kami mencoba di Kulonprogo itu sudahlah, semua dilelang, pokoknya jangan ada orang memberi sesuatu kalau baru naik jabatan. Kalau tetap mau memberi, saya bilang berilah kepada orang miskin. Jadi kalau di Kulonprogo ada orang baru saja saya lantik jadi eselon dua, terus dia kalau mau bersyukur memberi saja kepada orang miskin. Terus hari Minggu itu ikut bedah rumah, ikhlas bawa uang berapa, kasihkan kepada orang yang dibedah rumahnya. Janda-janda tua itu banyak yang tidak ada yang ngurus. Kalau janda muda sudah banyak yang ngurus. Ha itu tugasnya Bupati ya di situ itu.

Oleh karena itu kami di Kulonprogo supaya clear and clean, kami melatihnya begitu. Ada misalkan investor, izin dikeluarkan. Terus dia bilang, wah Pak Bupati butuh apa? Wah ini mesti mancing-mancing. Karena izin dikeluarkan lalu mancing-mancing, lalu kadang-kadang izin belum dikeluarkan. Anda itu kalau mau shodaqoh mbok shodaqoh saja. Tidak usah sama kepala dinas, tidak usah kepada Bupati, tetapi orang miskin di Kulonprogo banyak sekali. Nah, berilah kepada orang miskin. Punya uang lima puluh juta, datang ke lima janda tua, bedah rumah kalau hari Minggu, sehingga 10 juta, 10 juta, 10 juta, sudah selesai. Di dunia tidak ada urusan, di akhirat insyaallah ya anda ya lumayanlah.

 

Bakat Korupsi

Sebetulnya lingkungan kita tidak bersih memang. Jadi pancingan-pancingan itu banyak. Itu kira-kira, apa rakyat itu tidak punya bakat korupsi? Sangat bakat. Yang teriak-teriak, korupsi, korupsi! Yang ngomong begitu karena tidak jadi apa-apa. Begitu jadi apa-apa, dia lebih korupsi. Itu. Jadi hati-hati juga ya. Rakyat itu, zaman Pak Harto, dapat bantuan Banpres dibagi, sapi Banpres. Ini harus recycling, nanti disiklus kemudian dikembalikan lagi. Manak satu, sapi manak satu, manak dua, dikasihkan tetangga, setelah ketiga baru dirinya. Tapi itu habis, itu.

Waktu Banpres itu habis. Ditanya sapinya ke mana? Oh kejepit Pak. Oh, berarti mati kejepit kandhang. Ternyata tidak. Kejepit hutang. Sudahlah, kambing itu juga saya suwun sama Ngarsa Dalem, di Kokap tempat saya lahir, kemiskinannya ada 11 ribu orang miskin pak. Pak Gubernur lalu bantu dan bilang “Sudah gini aja, tak kasih wedhus 11 ribu. Harganya itu hampir Rp 6 milyar. Satu orang miskin satu kambing.

Antara orang miskin dengan kambingnya, banyak kambingnya. Tahun pertama kambing 11 ribu. Tahun ketiga dicek tinggal 8 ribu. Tahun berikutnya habis. Astaghfirullah hal ‘adzim. Karena mereka ini punya bakat korupsi. Jadi kalau ada pejabat korupsi juga masih ada, tetapi kalau rakyate itu juga ada koruptor proletar, namanya ya, kalau ada diktator proletar, ada koruptor proletar. Ini kenyataan lho.

Terus ada PNPM Mandiri. Ada UEP, usaha ekonomi produktif, apa itu? Uang berputar, beredar simpan pinjam, ternyata tidak ada simpan-pinjam itu ya, yang ada pinjam-pinjam. Tidak ada simpannya ya. Setelah itu dicek NPLnya, ternyata masyaallah, NPLnya tinggi sekali, UEP itu NPLnya bisa 40%, bisa 50%, bisa 35%, yang ngemplang itu. Setelah itu SPP, simpan-pinjam perempuan. Ini agak bagus, maksudnya seperti UEP, tetapi yang simpan-pinjam kelompok ibu-ibu. Alhamdulillah, yang kelompok ibu-ibu yang ngemplang 15%, 10%, gitu ya. Artinya ibu-ibu itu lebih waras daripada bapak-bapak.

Simak juga:  Pemimpin-45

Padahal perbankan itu mensyaratkan 5%, jadi ya repot kita itu memang. Ya, itulah bahwa bakat korupsi saya sampaikan di sini, bahwa kita ini punya habit, habit itu corruption. Supaya kita nanti mau memperbaiki satu sistem, jangan hanya pejabatnya saja yang terus dikejar-kejar, tapi pendidikan karakter anak-anak muda kita bagaimana. Supaya tidak menjadi habitual. Jadi kambing kelompok habis. Makin lama bisa makin habis. Ayam juga akan menjadi ayam opor. Jadi banyak yang hilang. Terus begitu yang bakat-bakat korupsi begitu.

Lele juga. Pas melaunching lele, wah Bupati datang itu ikannya bagus-bagus. Begitu ditinggal, sebulan tinggal terpalnya, itu juga ada. Ya, karena dijual sama orang, atau apalah. Karena bakat korupsi itu ada. Ha saya kira hal-hal seperti ini jangan dilupakan. Jangan sampai kita nanti fokusnya hanya pada pelaku-pelaku yang seolah-olah punya kekuasaan, tetapi rakyat tidak dicerdaskan. Ini saya kira korupsi ini penting perlu dilihat yang senyatanya.

 

Tentang Toleransi

Yang terakhir, mengenai toleransi. Sebetulnya kalau saya baca, negara kita adalah negara yang indeks toleransinya yaitu 48. Rata-rata Asia 58, rata-rata dunia 64. Artinya apa, kita ini adalah orang yang paling toleran di dunia. Makanya kemudian lahirlah Pancasila sebagai nilai-nilai luhur bangsa, karena orang toleran itu suka gotong-royong dan suka kekeluargaan dan kerjasama.

Bahwa Pancasila itu musyawarah mufakat, kemudian gotong-royong, kalau diringkas jadi satu sila, gotong-royong dan rakyat menjadi satu hal yang sangat fundamental penting, yang memaknai hidup kita itu rakyat. Pak Idham kalau menasihati saya awal saya jadi Bupati, yang penting rakyat. Pertama rakyat, kedua rakyat, ketiga rakyat, istri itu nomer pitulikurlah. Terus istri protes, aku ya rakyat lho.

Tapi sumbernya Pancasila itu apa? Toleransi sebetulnya. Kemudian kita suka bergotong-royong. Nah skor kita 48 itu skor yang sangat baik, sehingga way of life kita adalah Pancasila, itu suatu hal yang sangat tepat sekali. Hanya dalam pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila itu kemudian sering ada eror atau cacat yang kemudian perlu dikalibrasi.

Tadi Pak Idham pun sudah mengatakan bahwa UU pun sudah ada kecacatan. Nah, filosofi secara kolektif sebagai nilai-nilai luhur ini akan menjadikan satu ideologi yang namanya Pancasila dan Pancasila sebagai ideologi bangsa diterjemahkan dalam langkah-langkah politik melalui suatu UU. Tetapi UU itu dalam pengambilan kebijakannya kemudian mengalami cacat-cacat atau deformitas atau dalam kedokteran namanya anomali atau juga mengalami patologi. Sehingga ada fisiologi demokrasi, ada patologi demokrasi, kemudian ada patofisiologi demokrasi. Patofisiologi demokrasi itu cara menjelaskan bagaimana demokrasi menjadi depatologis. Kalau di kedokteran memang adanya fisiologi, patologi, patofisiologi, sebenarnya sama, bisa diterapkan.

Ha itulah, cacat atau patologi itu tadi membutuhkan suatu revolusi atau reformasi sebetulnya, karena kita ada kekerasan meningkat, ada radikalisme, kemudian ada korupsi, ada kesenjangan sosial, ada kapitalisme baru, ada liberalisme, dan seterusnya. Itu adalah cacat-cacat yang kita lihat.

Saya kira itu dan kami bersyukur ya kalau melihat data itu, meskipun isu-isu bahwa intoleransi ini berkembang, kalau disurvei ada sekitar 10 juta orang, yang setuju bahwa negara kita ini tidak memberikan toleransi kepada agama tertentu atau kelompok tertentu. Tetapi kalau melihat ini, kalau ditanya, apakah setuju bahwa Pancasila merupakan ideologi yang paling tepat untuk negara Indonesia, maka yang bilang setuju masih 61 persen ditambah yang sangat setuju 7%, jadi luar biasa, masih kita tenang lah.

Kemudian kalau ada pertanyaan. kalau agama lain merupakan agama yang tidak baik, maka yang tidak setuju 69%, kemudian yang sangat tidak setuju 7%, jadi masih lebih dari 75%, itu tidak setuju kalau agama lain itu merupakan agama yang tidak baik. Jadi pertanyaan-pertanyaan seperti ini saya kira sangat penting untuk kita lihat. Kalau ada intoleransi ini, misalkan ada reaksi pertama saat membaca dan mendengar berita-berita terkait isu keragaman dalam agama atau cenderung menghasut, maka 44,2% dia adalah menolak itu, tidak bisa menerima itu, sehingga saya kira kita masih modal, tetapi di sini ada 4%, angka 4% yang perlu perhatian.

Kalau menurut saya diskusi hari ini merupakan yang sangat baik sekali, karena kemudian kita harus mempertahankan jangan sampai 4% itu kemudian naik-naik terus. Dan data dari laporan kebebasan beragama dan keyakinan, juga alhamdulillah naik pesat sehingga ini, gangguan untuk pengamalan kebebasan beragama itu laporan-laporannya tahun 2016 ada 97 tapi ini tidak naik pesat. Tahun-tahun berikutnya hanya sekitar itu. Jadi ini saya kira memberi harapan.

 

Perda Pendidikan Karakter

Saya kira itu, yang terakhir kami mengatasi itu dengan revolusi mental untuk supaya gotong-royong diperkuat, karena gotong-royong itu membuat kita tidak mengenal perbedaan apa-apa. Sehingga kami di Kulonprogo itu mengedepankan gotong-royong. Jadi jalan-jalan desa kami gotong-royongkan, setiap hari Minggu bedah rumah kita lakukan, kemudian zakat infaq shodaqoh dan dana persembahan kita kumpulkan. Alhamdulillah, 2018 ini zakat infaq shodaqoh dan dana persembahan di Kulonprogo Rp 5,2 milyar. Ini satu tahun, padahal kita termasuk bukan orang-orang kaya lho di Kulonprogo.

Persembahannya banyak, kemudian zakatnya juga banyak, itulah yang bisa mempererat kita di dalam bergotong-royong dengan masyarakat dan banyak hal yang bisa kita lakukan di tengah-tengah masyarakat untuk mempererat itu. Dan kami di Kulonprogo mengajak anak-anak untuk mengamalkan gotong-royong. Supaya dia, bela Kulonprogo, beli Kulonprogo, nanti disangka kampanye sama anak-anak ya. Jadi saya punya Perda, namanya Perda Pendidikan Karakter. Perda Pendidikan Karakter itu perda, dan ini kita bikin tahun 2005. Kemudian mulai kita amalkan mulai 1 Januari 2018.

Ada tiga unsur, unsur yang pertama adalah Pengamalan Pancasila, unsur yang kedua adalah relegiusitas, kemudian unsur yang ketiga adalah Kemataraman. Ha ini mohon doanya, mudah-mudahan di Kulonprogo nanti dengan pelaksanaan pendidikan karakter, ini kita bisa mengatasi masalah korupsi dan juga masalah intoleransi tadi. Perda yang sudah ada dan sudah kita tuangkan dalam Perbup.

Dan yang terakhir, mohon doanya, 2019 alhamdulillah Kulonprogo bisa menyelesaikan proses yang panjang membangun bandara internasional, namanya sudah ditetapkan oleh Pak Gubernur, namanya New Yogyakarta International Airport, yang insyaallah akan diresmikan oleh Pak Presiden Jokowi di awal bulan April.

Nah, Bapak Ibu sekalian insyallaah besok kalau mendarat di Yogya, mendaratnya di Kulonprogo. Dan kalau mendarat di Kulonprogo jangan lupa besok bela beli Kulonprogo lah. Apa-apa yang dibeli produk Kulonprogo.

Kami sudah bisa bikin air, namanya “Airku”, dan PDAM MoU dengan AP 1 supaya semua airport itu harus menggunakan air punya PDAM. Kalau tidak pakai “Airku” tak boleh mendarat, saya bilang begitu. *** (SEA)

Lihat Juga

Derap Kebangsaan XXV: Media, Awalnya Didirikan oleh Para Pejuang

DRS. H. IDHAM SAMAWI Untuk ke sekian kali, saya sampaikan apresiasi kepada jajaran PWS atas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *