Selasa , 17 September 2019
Beranda » Humaniora » “Pemberontakan Wanita” dan “Psikologi Jawa”
Cover Pemberontakan Wanita & Psikologi Jawa (ft. SEA/Ist)

“Pemberontakan Wanita” dan “Psikologi Jawa”

DI Hari Buku, 23 April, saya tergoda untuk mengajak Anda berbincang tentang dua buku yang bahasannya berbeda. Buku pertama berbicara tentang feminisme Islam, sedang buku kedua tentang psikologi Jawa. Buku yang berbicara tentang feminisme Islam berjudul “Pemberontakan Wanita”, dan buku berikutnya berjudul “Psikologi Jawa”. Baiklah, agar perbincangannya enak, saya mencoba menampilkannya satu persatu.

 

“Pemberontakan Wanita”

Fatima Mernissi, penulis feminis yang populer di kawasan Timur Tengah. Perempuan kelahiran Fez, Maroko, tahun 1940 ini telah menulis sejumlah buku. Buku-bukunya banyak bicara soal feminisme di dunia Islam, terutama Timur Tengah. Salah satu judul bukunya “Women’s Rebellion & Islamic Memory“, yang terbit pertama kali pada 1993. Edisi bahasa Indonesia buku ini berjudul ” Pemberontakan Wanita”, diterbitkan Mizan pada 1999.

Buku setebal 228 halaman ini terbagi dalam delapan bab. Bab pertamanya mengetengahkan judul sekaligus bahasan yang menarik. Bab pertama berjudul “Menulis Lebih Baik ketimbang Operasi Pengencangan Kulit Wajah”.

Fatima Mernissi mengawali bab pertama dengan menulis:

Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa! Dari saat Anda bangun, menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera lenyap dan kulit Anda akan terasa segar lagi. Menjelang tengah hari, ia berada pada kondisi prima. Dengan kandungan aktifnya, menulis menguatkan struktur kulit ari Anda. Pada akhir hari, kerut-kerut Anda sudah memudar dan wajah Anda menjadi lembut kembali.

Tulisnya lagi:

Cobalah menulis selama beberapa hari. Pada akhirnya, setiap upaya itu akan sama efektifnya dengan Resistance, krim kulit yang salinan iklannya saya pinjam di sini. Apa sih ruginya menulis? Tidak ada.

Ia pun mengatakan:

Menulislah selama satu jam setiap hari. Apa saja. Bahkan sepucuk surat pada perusahaan listrik setempat untuk memberi tahu mereka bahwa lampu di luar rumah Anda tidak bisa hidup. Anda tidak dapat membayangkan pengaruh apa yang akan diberikan oleh latihan sehari-hari ini pada kulit Anda. Seringai di sudut mulut Anda akan lenyap, garis yang tercipta di kening Anda akan memudar, mata Anda akan melebar, dan dengan semuanya ini, ketenteraman batin akan datang.

Pada bab lima berjudul “Keperawanan dan Patriarkat” tak kalah menariknya. Saya kutip alinea kedua pada bab lima tersebut:

Simak juga:  Memburu Wahyu Keprabon  

Namun, anehnya, keperawanan justru merupakan masalah di antara kaum pria, sementara wanita hanyalah sebagai perantara bisu. Seperti halnya kehormatan, keperawanan merupakan sesuatu yang paling didambakan oleh seorang pria sejati di tengah masyarakat, yaitu ketika ketidaksetaraan, kemiskinan, dan penghinaan sebagian orang oleh yang lain menghapuskan satu-satunya kekuatan manusia sejati: kepercayaan diri. Konsep-konsep kehormatan dan keperawanan menempatkan gengsi seorang pria di antara kedua paha seorang wanita. Bukan dengan jalan menaklukkan alam atau merambah gunung-gunung dan sungai-sungai yang membuat seorang pria dapat mempertahankan kedudukannya, melainkan dengan mengontrol gerakan-gerakan kaum wanita yang berhubungan dengannya melalui ikatan darah atau perkawinan, dan dengan melarang mereka berhubungan dengan pria-pria asing.
         
Sungguh, buku ini menarik bagi wanita yang sedang mengembangkan eksistensi dirinya. Juga bagi para lelaki atau pria yang ingin memahami secara lebih dalam tentang eksistensi para wanita.

 

 

“Psikologi Jawa”

Baik, sekarang saya ingin mengajak Anda beralih ke buku berikutnya yakni buku “Psikologi Jawa”. Buku “Psikologi Jawa” ini karya Darmanto Jatman, Guru Besar di Fakultas Sosial dan Politik Undip Semarang yang sudah almarhum beberapa waktu lalu, yang juga salah seorang penyair terkemuka di negeri ini termasuk buku langka. Langka, dalam pengertian masih sedikitnya buku yang berbicara atau membahas secara khusus tentang Ilmu Jiwa Jawa, atau dipopulerkan menjadi Psikologi Jawa.

Ini bukan buku baru. Buku “Psikologi Jawa” diterbitkan penerbit Bentang pada tahun 1997. Meski bukan masuk kategori buku baru, tapi buku ini masih tetap menarik untuk diperbincangkan, apalagi memperbincangkan psikologi Jawa merupakan sesuatu yang menarik.
Budaya Jawa, termasuk sejarah, nilai-nilai, filsafat dan ajaran-ajaran kehidupan, sikap dan perilaku masyarakatnya adalah sumber mata air yang seakan tak ada habisnya untuk dikaji, dibahas serta ditulis. Dan, salah satu di antaranya Ilmu Jiwa Jawa, atau yang oleh Darmanto Jatman disebut Psikologi Jawa ini.

Simak juga:  Menentukan Arah Hidup Dalam Aras Jawa

Coba kita simak pada bagian lima buku ini yang berjudul “Aku dalam Ilmu Jiwa Kramadangsa”. Disebutkan oleh penulis:

Kramadangsa adalah nama orang. Ilmu Jiwa Kramadangsa adalah ilmu jiwa mengenai orang yang bernama Kramadangsa. Kita sendiri adalah orang; jadi mempelajari Ilmu Jiwa Kramadangsa adalah mempelajari diri sendiri. Jiwa adalah rasa. Rasa itu menandai hidup orang. Maka mempelajari Ilmu Jiwa Kramadangsa adalah mempelajari rasa sendiri dengan rasa dalam rasa.

Demikianlah ada rasa subjek, rasa objek dan rasa suasana pertemuan subjek-objek. Rasa Kramadangsa adalah rasa aku. Rasa aku ini hidup dalam ukuran ketiga. Hidup selalu dalam ukuran-ukuran. Ukuran kesatu adalah ukuran hidup tumbuh-tumbuhan. Sebagai bayi orang sudah merasa, tetapi belum bisa bertindak menuruti rasa. Ukuran kedua, adalah ukuran hidup hewan. Sebagai anak, maka orang sudah bisa merasa, sudah bisa bertindak menuruti rasa, tetapi belum mengenal hukum kenyataan. Ukuran ketiga, adalah ukuran hidup orang. Ia sudah merasa, sudah bertindak menuruti rasa, serta tindakannya sesuai dengan hukum kenyataan. Pada ukuran ini muncul rasa Kramadangsa, rasa aku. Ukuran keempat, adalah ukuran manusia tanpa ciri, manusia universal. —

Apa yang dikemukakan ini baru secuil dari kedalaman kajian dan bahasan tentang psikologi Jawa. Kalau ingin tahu secara lengkap dan jelas tentang psikologi Jawa tersebut, rasanya tak ada pilihan lain kecuali membaca langsung buku setebal 154 halaman ini.

Maaf, Anda mungkin penasaran, kenapa saya hanya ‘secuil’ saja memperbincangkan kedua buku ini. Saya memang sengaja membuat agar Anda penasaran, untuk mengetahui lebih jauh apa saja yang diuraikan kedua buku tersebut. Selamat Hari Buku! ***  (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Kyai Sadrach, Padukan Budaya Jawa ke Nilai-nilai Kristiani

BAGI umat Kristiani di Purworejo, Jawa Tengah, dan sekitarnya, Kyai Sadrach adalah nama dan sosok …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *