Sabtu , 20 April 2019
Beranda » Humaniora » PASAR KEMBANG: Wajah Yogya yang Buram (2)
ft. SEA/Ist

PASAR KEMBANG: Wajah Yogya yang Buram (2)

          Oleh: Sutirman Eka Ardhana & Heniy Astiyanto

BALOKAN, inilah nama lain dari Pasar Kembang. Bahkan jauh sebelum nama Pasar Kembang populer, nama Balokan sudah terlebih dulu dikenal.

Sebagai nama yang memiliki pengertian khusus, Pasar Kembang memang mempunyai sejarah panjang dalam keberadaannya sebagai kawasan pemukiman yang menghadirkan sisi kelam dan buram di Yogya.

Kehadirannya sebagai kawasan yang memberikan penafsiran tersendiri dalam aktivitas penyelewengan seks itu telah dirintis sejak masa penjajahan Belanda, beberapa tahun sebelum masa pendudukan Jepang.

Nama Balokan pertama kali dipergunakan semasa zaman penjajahan Belanda. Sebutan ini bermula dari adanya tempat penimbunan kayu-kayu jati atau balok-balok di sebelah utara kampung.

Lalu mulai kapankah aktivitas pelacuran muncul di kawasan ini, sehingga nama Balokan dan Pasar Kembang selalu disebut untuk menunjukkan di mana geliat dan desah dalam kehidupan kelam itu berada?

Catatan yang pasti tentang siapa yang menjadi ‘pionir, hingga berkembangnya aktivitas pelacuran di kawasan itu memang sulit ditemukan. Tapi tak bisa dielak, bila ada yang mengatakan pelacuran di Pasar Kembang itu muncul beriringan dengan lahirnya usaha penginapan yang hingga kini tetap bertahan.

Karena letaknya yang strategis di dekat stasiun kereta api, pada masa sebelum Jepang datang itulah usaha penginapan mulai muncul. Adanya usaha penginapan itu ternyata membawa perilaku sosial yang baru tumbuh di sekitarnya. Mungkin, sebagian pemilik penginapan kemudian menyadari ada ‘kebutuhan’ lain yang diinginkan tamu penginapannya. Kebutuhan itu berupa tersedianya wanita yang dapat dijadikan tempat penyaluran seks.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (28)

Sejak itu aktivitas seks yang dihargi dengan sejumlah uang muncul di kawasan Balokan tersebut. Lalu, pada perkembangan berikutnya para wanita yang menyediakan dirinya untuk dijadikan komoditi dalam bisnis seks itu pun mulai mempertaruhkan nasibnya di sekitar Balokan.

Di zaman pendudukan Jepang, penimbunan kayu jati di sebelah utara kampung itu berangsur-angsur berkurang, hingga kemudian hilang sama sekali. Bekas lokasi penimbunan balok-balok kayu titu pun kemudian berubah menjadi tempat-tempat berjualan.

Ketika itu di sebelah selatan jalan terdapat areal kosong. Kemudian areal kosong itu dimanfaatkan warga sekitar sebagai tempat berjualan kembang atau bunga-bunga yang dipergunakan untuk berziarah ke makam.

Usaha penjualan bunga atau kembang di tempat itu ternyata dari hari ke hari menjadi semakin ramai. Sehingga kemudian lokasi itu pun terkenal dengan sebutan Pasar Kembang. Namun usaha penjualan kembang-kembang itu pun pada akhirnya tergeser dengan perkembangan penginapan yang terus merebak mengikuti kemajuan zaman.

Penjual kembang dalam pengertian yang sebenarnya memang sudah tidak ada. Tetapi, sebutan Pasar Kembang tetap melekat hingga hari ini di tempat itu dan kawasan sekitarnya.

Di zaman kemerdekaan , terlebih-lebih di masa pembangunan digalakkan, Pasar Kembang terus mengalami perkembangan pesat. Hotel-hotel, losmen dan berbagai usaha penginapan terus bermunculan mengiringi perkembangan kota Yogyakarta. Seiring itu pula pelacuran pun semakin marak dan berkembang bagai tanpa terkendali.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (34)

Di Yogya, pelacuran ternyata tidak hanya berkembang subur di kawasan Pasar Kembang, tapi juga terdapat di beberapa lokasi lainnya, misalnya di sejumlah jalan kota bila malam hari. Untuk menanggulangi munculnya praktik-praktik pelacuran di tempat-tempat umum, Pemerintah Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarya (DIY) kemudian mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 18 dan 19 tahun 1954 tentang Larangan Pelacuran di Tempat-tempat Umum.

Pasal 2 dari Perda tersebut menyebutkan, yang dimaksud dengan tempat-tempat umum ialah jalan-jalan, tanah lapang, ruangan dan lain sebagainya yang oleh umum mudah dilihat atau didatangi.

Akibat adanya penafsiran bahwa Perda itu` tidak melarang praktik prostitusi atau pelacuran di dalam kampung maupun kawasan pemukiman lainnya, praktik pelacuran di Pasar Kembang semakin berkembang pesat. Sehingga kemudian  kian kentallah sebutan ‘Pasar Kembang’ yang terletak di jantung kota Yogyakarta itu sebagai pusat lokalisasi wanita tuna susila (WTS), atau yang sekarang populer dengan sebutan Pekerja Seks Komersial (PSK).

Kawasan Pasar Kembang sejak awalnya merupakan wilayah yang padat. Kepadatan semakin terlihat dengan terdapatnya sejumlah losmen dan rumah-rumah bordil.

Pada awal tahun tujuhpuluhan terdapat sekitar 300 lebih PSK yang mempertaruhkan nasib dan hidupnya di Pasar Kembang. Sebagian besar di antara mereka berlindung di bawah lindungan induk semang atau mucikari (germo). Tapi tidak sedikit pula jumlahnya  yang beroperasi sendiri, tanpa perlindungan induk semang, kecuali menjalin kerjasama dengan calo dan pemilik kamar. (Bersambung)   

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (41)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana Mobil kemudian dilajukan Mas Pras ke arah jalan Kaliurang. Setelah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *