Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XXIV: Mulailah dari Kader Pemimpin yang Baik
Oka Kusumayudha (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XXIV: Mulailah dari Kader Pemimpin yang Baik

Pemimpin yang berkualitas, berintegritas, humanis, agamis, nasionalis mengutamakan kepentingan rakyat daripada diri sendiri apalagi golongan, seolah-olah hanya ada dalam cerita sejarah. Bila dibandingkan dengan sifat pemimpin dewasa ini, tokoh-tokoh tersebut jelas jauh dari memiliki semangat korupsi. Kehidupannya pun sangat prasaja, sederhana. Pemimpin semacam ini selalu diwujudkan pada tokoh-tokoh pergerakan di zaman pra-kemerdekaan dulu, seperti Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta, Syahrir, Bung Tomo, Kasman Singodimedjo, Ali Sastroamidjojo, Adam Malik, BM Diah, Sayuti Melik, masih ada banyak tokoh lainnya. Tokoh-tokoh ini dapat dibilang selevel. Dari tokoh-tokoh ini sebenarnya kita bisa banyak belajar bagaimana menempa diri supaya sampai di jenjang ketokohan di tataran puncak. Yang jelas, apa yang mereka raih sebagai orang-orang hebat dan terhormat itu tidaklah diperoleh dengan mudah. Tidak ibarat “membalik telapak tangan”. Mereka berjuang sepenuh hati dengan segala resikonya. Ditahan di penjara, merupakan bagian yang dilakoninya dengan ikhlas. Begitu pula ada yang harus dibuang di sebuah pulau pengasingan.

Muncul kemudian pertanyaan, pemimpin yang ideal itu yang bagaimana? Menjadi seorang pemimpin jelas melewati satu proses. Berasal dari intern maupun ekstern lembaga di mana seseorang bertugas. Celakanya memang, proses yang berat yang harus dilalui itu terkadang tidak sedikit yang menerabasnya. Maka dipakailah jalan pintas, yaitu suap-menyuap. Ketika hal ini sungguh-sungguh terjadi, maka selesai pulalah proses menuju ke puncak pimpinan. Nama yang disandang akhirnya sebagai mantan pejabat yang koruptif.

Simak juga:  Klaim

Persoalan ini oleh Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta dielaborasi dalam bentuk diskusi kebangsaan dengan tema “Demokrasi Dalam Politik Transaksional” di Café Cangkir Bintaran Tengah Yogyakarta pada 23 Februari 2019. Tampil sebagai nara sumber : Dr. Hamdan Daulay M.Si, MA (Wakil Dekan II Fak Saintek UIN Sunan Kalijaga), Drs. Muhammad Najib M.Si (Ketua Presidium Jaringan Demokrasi Indonesia DIY) dan Drs. HM Idham Samawi (Anggota DPR/MPR RI).

Fenomena suap menyuap di lingkungan masyarakat, ternyata sudah bukan rahasia umum. Bahkan ada sebagian masyarakat justru menunggu kapan akan ada “serangan fajar”. Kalau transaksi politik semacam ini tidak kunjung berhenti, pertanyaannya kapan kita akan mendapatkan pemimpin yang baik sebagaimana sudah diungkap di awal tulisan ini. Kedua belah pihak seharusnya sadar, bahwa antara penyuap dan yang disuap ujung-ujungnya akan merusak moral dan meruntuhkan jalannya demokrasi. Oleh karenanya, mari mulai dari sekarang hentikan praktik suap menyuap yang dapat meracuni moral bangsa.

Dalam rangka memperbaiki moral bangsa ini, jawabannya adalah pendidikan. Pendidikan menyangkut moral, seyogyanya diberikan pada setiap jenjang pendidikan. Demikian pula partai-partai politik dalam mendidik kader-kader pemimpin bangsa, jangan melakukannya hanya sekedar memenuhi persyaratan. Perlu gemblengan yang keras. Aktifkan lembaga pemantau dari lembaga-lembaga independen, yang mencegah adanya kemungkinan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Kalau selama ini vonis terhadap orang-orang yang terlibat korupsi dianggap ringan, maka bila perlu ragu meniru cara Tiongkok dalam memberantas korupsi. Yaitu hukuman tembak bagi pejabat yang terbukti korupsi. Efek jera ini sangat perlu disosialisasikan. ***

Simak juga:  Bung Karno Sempat Diancam Todongan Pisau

Oka kusumayudha

Lihat Juga

Bupati Batang: Tunjukkan Tanda Anda Seorang Pancasilais

Pancasila telah selesai didiskusikan sebagai dasar negara dan falsafah bangsa. Ia harus menjadi rujukan dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *