Jumat , 22 November 2019
Beranda » Humaniora » Mewujudkan Perdamaian Bak Melempar Kerikil ke Telaga

Mewujudkan Perdamaian Bak Melempar Kerikil ke Telaga

VATIKAN, Selasa (28/10/2019)  Mewujudkan perdamaian itu ibarat melempar kerikil ke telaga. Apapun pengaruhnya yang diharapkan harus diawali dari KEHENDAK BAIK pelempar kerikil. Kehendak baik itu berujud kekuatan kasih, persaudaraan, persahabatan, dan berpikir positif. Semua faktor kehendak baik itu akan menjadi dasar untuk bertahan dan akan menang terhadap kekuatan-kekuatan desktruktif, termasuk paham radikalisme. Bangsa Indonesia harus mengembangkan KEHENDAK BAIK agar pluralisme atau keberagaman menjadi kekuatan membangun dunia yang damai.

Demikian dikemukakan Markus Solo Kewuta SVD atau Padre Marco, dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama saat ditemui AM Putut Prabantoro, Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) yang juga Alumnus Lemhannas RI PPSA XXI di Kantor Dewan Kepausan Vatikan, Rabu (16/10/2019).

“Kita harus memiliki kehendak yang baik, kita percaya sesuatu yang baik itu cepat menjalar daripada keburukan. Seperti melemparkan batu kecil atau kerikil di telaga. Meski kecil ketika kerikil jatuh di telaga dia akan membentuk lingkaran gelombang, dari kecil dan lama-lama akan meluas-meluas. Kita harus gunakan falsafah ini untuk menyebarluaskan kebaikan,” jelas Padre Marco.

Menurut pejabat Vatikan yang berasal dari Nusa Tenggara Timur ini, Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan yang deras sekali dari berbagai arah dan kadang-kadang sangat mengkhawatirkan. Ia merasa prihatin dan tidak tenang jika mengikuti berita-berita dari berbagai media massa di tanah air. Namun, meski demikian masih banyak orang dari berbagai agama, budaya, etnik, yang masih bisa bekerja sama dan bersahabat dan berpikir positif daripada mereka yang berpikiran lain tersebut.

Yang menjadi masalah, lanjut Padre Marco, walaupun gerakan-gerakan yang berpikiran lain itu kecil atau menempati posisi yang lebih sempit, gaung gerakan mereka itu secara psikologis sangat dominan, membuat orang takut dan bahkan membuat orang putus asa.

“Nah, untuk menghadapi hal ini kita seharusnya lebih dulu menaruh perhatian pada kekuatan kebajikan yang ingin kita perjuangkan bersama. Belajar dari tradisi-tradisi baik yang ada kita selalu diajarkan dan ditanamkan di dalam hati kita, perilaku kita, tutur kata kita bahwa yang baik-baik itu pasti akan lebih bertahan dan akan menang,” ujarnya.

Lebih jauh Padre Marco mengapresiasi dan mendukung kiprah Putut Prabantoro yang konsisten dan berkelanjutan menyosialisasikan nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, keutuhan NKRI, demi Indonesia Satu Tak Terbagi.

Menurut dia, apa yang dilakukan Putut Prabantoro yang juga Ketua Presidium Bidang Politik ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia) ini, sangat baik mengingat intoleransi terus berkembang dan sudah sangat mengkhawatirkan bahkan telah merasuki institusi pertahanan dan keamanan.

Simak juga:  Pemimpin-13

“Mereka yang seharusnya melindungi kita, menjaga keamanan, yang sudah bersumpah untuk menjaga kesatuan NKRI malah masuk dalam kelompok orang yang berpikiran lain dan terpapar paham radikalisme dan bersikap intoleransi,” katanya.

Demikian pula harapan yang sama ia tujukan kepada media. Ia meminta media untuk selalu menjaga persahabatan dan relasi yang baik, menyebarkan berita dan hal -hal yang baik, menperluas jaringan persahabatan kemana-mana.

DOKUMEN ABU DHABI

Dalam kesempatan itu, Padre Marco mengingatkan akan semangat Dokumen atau Deklarasi Abu Dhabi yang ditandatangani bersama antara Pimpinan Tertinggi Gereja Katolik Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Ahmad Al Thayyeb pada Februari 2019 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, yang mendekatkan sisi-sisi kemanusiaan dari kehidupan dalam masyakarat yang plural.

Deklarasi Abu Dhabi tentang Perdamaian itu berjudul “Documento Sulla – FRATELLANZA UMANA Per Pace Mondiale E La Convivenza Comune” atau “Sebuah Dokumen tentang– Persaudaraan Umat Manusia Untuk Perdamaian dan Hidup Bersama”. Dokumen yang bersejarah ini diterjemahkan dalam 7 bahasa termasuk Inggris, Arab, Jerman, dan Italia.

Menurut Padre Marco, Deklarasi Abu Dhabi merupakan sebuah dokumen yang memiliki makna propetis atau kenabian. Artinya, deklarasi ini memuat hal-hal yang merupakan batu sandungan di dalam perjalanan umat manusia menuju masyarakat yang damai, adil dan makmur secara kasat mata.

“Bantu sandungan itu dimuat secara sangat jelas atau nyata meskipun terasa sangat menyakitkan tetapi sekaligus ingin mengingatkan kepada umat manusia justru itulah masalah-masalah yang harus ditelusuri bersama secara jujur dan dicari makna dan solusinya secara bersama-sama pula,” ujar Padre Marco.

Ditambahkannya, “Kita harus bekerja sama mendorong dan memajukan budaya persabatan, budaya pertemanan, budaya dialog, dan budaya perdamaian. Semua itu harus menjadi budaya. Sesuatu menjadi budaya kalau dilakukan secara teruus menerus. Ini yang diharapkan dari setiap masyarakat Indonesia. Tanpa hal itu intoleransi akan bertambah besar dan orang akan semakin takut hidup berbangsa dan bernegara.”

Ia menilai rakyat Indonesia secara internal saat ini tengah ditantang rasa kerukunan dan rasa kesatuannya sebagai sebangsa se-Tanah Air yang sudah mulai goyah, mengalami ketidakpastian. Dengan berbagai peristiwa kekerasan, seperti terakhir menimpa Menko Polhukam Wiranto, menurut dia, turut mendukung rasa ketidakpastian di dalam relasi antarmasyarakat. Orang jadi takut dan waswas satu sama lain, selalu curiga yang sebenarnya hal itu tidak boleh terjadi.

Simak juga:  Pemimpin-41

Kepada masyarakat Indonesia, Padre Marco berharap, untuk lebih berpikir waras dan lebih bijak dalam menyerap berita, menerima doktrin dan menyikapi pengaruh yang mugkin pada akhirnya menjatuhkan kehidupan berbangsa.

Pasalnya, ia melihat gejala-gejala dan alur yang sama dari negara-negara yang sudah hancur, kini tengah dialami Indonesia. “Alur di negara kita seperti itu, tentu kita tidak mau sampai ke sana (hancur). Karena itu kita harus bekerja sama mencegah hal itu dengan terus menjaga dan meningkatkan kerukunan, persatuan, perhabatan, demi perdamaian,” ujarnya.

Sebaliknya bagi mereka yang merasa tidak puas dengan keadaan yang ada, Padre Marco mengimbau mereka untuk menggunakan jalur-jalur konstitusi yang sudah ada. “Sampaikan aspirasi melalui jalur konsitusi. Kalau menggunakan hukum rimba nanti akan chaos. Kita tidak mau hal itu terjadi,” pungkasnya.

 

PERDAMAIAN DALAM NEGERI

Sementara AM Putut Prabantoro mengatakan, semua warga negara Indonesia tidak bisa lepas dari kewajiban sebagaimana yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu ikut serta secara aktif dalam perdamaian dunia.

“Syarat utama ikut dalam perdamaian dunia adalah sebagai warga negara Indonesia harus terlibat dulu mewujudkan perdamaian dalam negeri,” tegas Putut Prabantoro.

Ditandaskan Putut, perdamaian bukan soal agama, suku, kelompok atau ras, tetapi soal kehendak bersama untuk membangun harmoni – keserasian, kesesuaian dengan berbagai modalnya yang telah diberikan dan diwariskan pendiri negara serta pemimpin bangsa kepada bangsa Indonesia. Indonesia yang damai inilah yang kelak akan diberikan kepada generasi-generasi mendatang.

“Indonesia adalah rumah bersama kita semua. Karena rumah bersama adalah wajib hukumnya bagi setiap warga negara untuk menjaga rumah bersama itu tetap kokoh berdiri. Leluhur Indonesia memberi nasihat yang baik tentang rumah bersama yakni (bahasa Jawa) aja mancal kandang – (ayam) jangan merusak rumahnya sendiri,” jelasnya.

Dalam konteks ini, lanjut Putut Prabantoro, diharapkan NKRI yang menjadi rumah bersama dengan berlandaskan Pancasila harus dijaga kedamaiannya yang diwujudkan dalam Sila Ketiga – Persatuan Indonesia.

“Jika NKRI kehilangan sila ketiga, pada saat itu pula bangsa asing siap menguasai Indonesia dengan segala kekayaannya,” kata AM Putut Prabantoro. (Sugeng WA)

Lihat Juga

Pemimpin-73

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x