Rabu , 27 Maret 2019
Beranda » Humaniora » “Menulis atau Mati!”
Ilustrasi menulis dan berkarya (ft. pixabay)

“Menulis atau Mati!”

Cover Majalah Rhetor (ft. Ist)
MENULIS atau mati! Kalimat mengejutkan dan garang ini, terus terang, pertama kali saya temukan di majalah mahasiswa “Rhetor“, miliknya mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (sekarang Fakultas Dakwah dan Komunikasi – pen). Saya lupa persisnya terbitan edisi ke berapa, tapi itu sekitar tahun 2005 – 2006. Sudah lama memang. Tapi kalimat itu membekas sampai hari ini di ingatan saya.

Majalah “Rhetor” terbit dengan format dan wajah sederhana. Desain dan layoutnya juga terkesan apa adanya. Maklum ini pers mahasiswa, diterbitkan dengan anggaran yang terbatas. Tapi judul dengan hurup agak besar “Menulis atau Mati!” di cover depannya, membuat majalah ini tak lagi sederhana.

Judul “Menulis atau Mati!” seperti memberikan roh dahsyat kepada majalah mahasiswa ini. Betapa tidak. Majalah ini telah mendobrak ‘ketak-berdayaan’ mahasiswa dalam hal menulis. Tentu saja yang dimaksud, menulis dalam konteks berkarya. Majalah ini telah membakar semangat, atau memprovokasi mahasiswa untuk menyukai dunia penulisan. Menulis apa pun. Baik itu menulis dalam bentuk karya ilmiah, karya-karya kreatif dan populer, seperti karya-karya di media jurnalistik (pers), dan media lainnya, maupun karya-karya fiksi dan sejenisnya.

Simak juga:  Menulis Bisa Sampaikan Pesan Tentang Menjaga "Ke-indonesiaan"

Membangun atau menumbuhkan kecintaan terhadap dunia penulisan memang bukan hal mudah. Memang memerlukan sejumlah langkah perjuangan guna menumbuhkan semangat untuk memulainya. Apalagi sampai hari ini masih saja ada yang berpendapat, untuk menjadi penulis itu diperlukan bakat secara khusus. Tak sedikit pula mahasiswa percaya dengan pendapat yang salah itu. Padahal, siapa pun bisa jadi penulis.

Nah, memprovokasi siapa pun untuk menyukai dunia penulisan memang sesuatu yang layak dilakukan. Seperti yang dilakukan majalah “Rhetor” di sekitar tahun 2005-2006 itu dengan kata-kata hebatnya “Menulis atau Mati!”. Karena menjadi penulis bukanlah monopoli ‘orang-orang yang berbakat’. Siapa pun bisa jadi penulis. Siapa pun bisa!

Ya, demikianlah. Cuma ada dua pilihan. Menulis atas mati! Kalau hidup, jiwa, pikiran, gagasan, angan-angan dan imajinasi, atau daya kreatif kita, ingin tetap hidup dan berkembang sampai kapan pun, maka menulislah. Menulis (berkarya) akan membuat diri kita benar-benar ‘hidup’. Menulis akan membuat kehidupan menjadi lebih bernilai dan berarti.
         
Tetapi kalau memang ingin hidup, jiwa, pikiran, gagasan, angan-angan dan imajinasi, atau daya kreatif kita, tidak berkembang, cukup hanya sampai di situ, itu artinya kita memilih kehidupan ‘mati’, tak berkembang, tak bernilai dan tak berarti.*** (Sutirman Eka Ardhana)

Simak juga:  Mencari dan Membangun Ide Penulisan

 

Lihat Juga

Menulis Bisa Sampaikan Pesan Tentang Menjaga “Ke-indonesiaan”

DALAM sebuah perbincangan, saya mengatakan bahwa menulis akan membuat hidup menjadi lebih berarti. “Buktinya?” tanya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *