Jumat , 22 November 2019
Beranda » Humaniora » Menulis atau Mati
Ilustrasi (ft. pixabay)

Menulis atau Mati

BEBERAPA waktu lalu saya pernah menulis dengan judul ini, “Menulis atau Mati”, di perwara.com. Kali ini saya ingin menulisnya lagi dengan judul yang sama.

Jumat malam (4 Oktober 2019), saya diminta untuk berbicara di depan peserta Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) yang diselenggarakan LPM RHETOR BOM Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kegiatan PJTD itu berlangsungdi Dusun Krapyak, Wedomartani, Sleman.

Di depan sekitar 30 peserta yang semuanya mahasiswa itu, saya langsung saja memprovokasi mereka dengan kata-kata, “Menulis atau Mati!”.

“Kalau Anda ingin punya nilai lebih dalam kehidupan, ingin hidup Anda menjadi lebih berarti, maka menulislah. Ya, menulis akan membuat hidup kita menjadi lebih berarti. Tidak saja berarti buat diri sendiri, tapi juga berarti buat orang lain, masyarakat luas atau sesama,” ini kata saya di awal pembicaraan.

Sejak di bangku sekolah, kita memang sudah belajar menulis. Tapi, menulis yang saya maksudkan di sini, tentu dalam konteks berkarya. Menulis dalam kerja kreatif.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XXIV: Politik Transaksional dalam Pemilu dan Kendala Penindakannya

Saya pun mengingatkan para peserta pelatihan, untuk tidak terpengaruh atau percaya dengan kata-kata bahwa “hanya mereka yang memiliki bakat menulis bisa jadi penulis, pengarang atau semacamnya yang lain. Tidak. Untuk menjadi penulis tidak harus berbakat. Siapa pun bisa jadi penulis.

Ya, siapa pun bisa jadi penulis. Karena yang diperlukan bukan bakat, tapi motivasi untuk menulis. Motivasi untuk bisa menulis. Motivasi menjadi penulis. Nah, motivasi itulah yang harus dibangun sejak awal.

“Mulailah dari sekarang menulis,” kata saya lagi. Dan ingat, bila sudah memiliki kemampuan menulis, Anda tidak perlu hanya berkeinginan menjadi wartawan atau jurnalis. Anda bisa menjadi apa pun. Bisa menjadi politikus, ustadz atau pendakwah, dosen atau guru, dokter, advokat, hakim, jaksa, pengusaha, anggota Dewan, tentara, polisi, satpam, artis, petani, ibu rumahtangga, dan lain-lainnya.

Nah, apa pun profesi yang dijalani kelak, kalau punya kemampuan menulis, Anda pasti akan punya nilai lebih dalam kehidupan ini.

“Coba bayangkan, yang perempuan, misalnya kelak setia untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Sambil memasak di dapur, sambil menggoreng tempe misalnya, tapi di dekatnya ada laptop. Memasak sambil menulis. Oh, betapa asyiknya. Betapa indahnya,” ujar saya.

Simak juga:  Perkampungan atau Desa Menyimpan Ide-ide Penulisan

Nah, mulailah dari sekarang. Mulailah menulis. Kecuali Anda memang tak ingin hidup menjadi indah dan berarti. Atau memang Anda ingin hidup serasa mati, dan sia-sia.

 

Salam saya.
Sutirman Eka Ardhana

Tulisan ini telah dimuat di ekaardhana.wordpress.com (10/10/2019)

Lihat Juga

Cerita Dongeng Harus Sampaikan Nilai-nilai Positif kepada Anak-anak

GARA-GARA mengikuti Workshop Pemberdayaan Lanjut Usia Melalui Keahlian Mendongeng, Sabtu 2 November lalu, saya pun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x