Jumat , 22 November 2019
Beranda » Humaniora » Mendongeng Bisa Jalin Hubungan Batin dengan Anak
Peserta workshop sedang berlatih mendongeng secara berkelompok. (Ft: Ist)

Mendongeng Bisa Jalin Hubungan Batin dengan Anak

SAYA beruntung bisa mengikuti Workshop Pemberdayaan Lanjut Usia Melalui Keahlian Mendongeng yang diselenggarakan Dinas Sosial Kota Yogyakarta. Betapa tidak. Workshop sehari, Sabtu (2 November), di Ruang Rapat Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY, Jl Tentara Rakyat Mataram, Yogyakarta itu, telah membangkitkan kembali kenangan saya pada masa kecil, dan ingatan pada almarhumah nenek tercinta.

Salah seorang pembicara di workshop tersebut, Nelly Tristiana, S.Kep, Ners, dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY menjelaskan tentang bagaimana mendongeng bisa menjalin hubungan batin antara orang tua dan anak.

Nelly Tristiana juga menguraikan manfaat besar dongeng bagi perkembangan anak. Di antaranya, selain mengembangkan kemampuan berbahasa, dongeng juga bisa mengembangkan kemampuan berimajinasi anak.

Kemudian, menurutnya, dongeng bisa membantu mengatasi tekanan atau stres pada anak, memberikan jeda dari rutinitas, mengajarkan pada anak tentang diri dan dunianya. Selain itu, bisa membantu anak mengembangkan ketertarikan dan berkreasi, membantu anak berpikir dan mengambil keputusan, serta membentuk cara pandang terhadap nilai dan norma.

 

Manfaat Dongeng

Sungguh benar apa yang dikemukakan Nelly Tristiana, narasumber di workshop tersebut. Dongeng bisa menjalin hubungan batin antara orang tua dan anak. Dan, menurut saya, juga bisa menjalin hubungan batin antara kakek atau nenek dengan cucunya.

Saya merasakan sendiri hal itu. Semasa kecil dulu, selain dari Ibu, dongeng juga sering saya dapatkan dari Nenek. Bahkan, seingat saya, Nenek-lah yang sering mendongeng. Karena ketika kecil, saat masih serumah dengan Kakek dan Nenek, saya tidur bersama Nenek. Setiap menjelang tidur, Nenek pasti tidak lupa mendongeng.

Simak juga:  Cerita Dongeng Harus Sampaikan Nilai-nilai Positif kepada Anak-anak

Bermacam-macam cerita dongeng yang didongengkan Nenek. Dongeng tentang kehidupan binatang, maupun legenda-legenda atau cerita-cerita rakyat. Misalnya, Nenek pernah mendongeng tentang seekor harimau yang licik dan suka ingkar janji.

Duh, jadi teringat Nenek, yang Ibu dari Ibu saya. Teringat dongengnya suatu malam tentang seekor harimau yang kakinya tertusuk duri kayu. Ketika sedang berjalan-jalan di hutan, telapak kaki depannya yang sebelah kanan tertusuk duri kayu yang tajam. Kakinya berdarah. Harimau itu meraung-raung kesakitan, tapi ia tidak bisa mencabut duri kayu itu dari kakinya.

Singkat cerita. Harimau itu kemudian ditolong seekor kancil. Kancil berhasil mencabut duri kayu dari kaki harimau. Tapi harimau berbuat licik dan curang. Setelah kakinya terbebas dari duri, tiba-tiba ia menangkap kancil yang sudah menolongnya. Ia bermaksud akan menjadikan kancil sebagai santapannya. Padahal sebelumnya harimau sudah berjanji akan menjadi sahabatnya kancil. Tapi dasar kancil binatang cerdik, ia berhasil melepaskan diri dari tangan harimau.

Sebulan kemudian, harimau kembali mengalami hal yang sama. Kakinya tertusuk duri kayu lagi. Bahkan kali ini kedua kaki depannya tertusuk duri semua. Duri-duri itu menancap tak bisa dilepas. Harimau pun meraung-raung kesakitan. Tapi tidak ada seekor binatang di hutan pun yang mau menolongnya lagi. Sampai berhari-hari, sampai berminggu-minggu, harimau itu meraung-raung karena duri-duri masih tertancap di kakinya. Akibatnya kedua kaki depannya itu pun membusuk. Dan, ia pun kelaparan, karena tidak bisa pergi mencari makan.

Simak juga:  Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) DIY Segera Terbentuk

“Nah, karena itu jangan suka berbuat licik, curang dan ingkar janji. Karena itu bisa merugikan diri kita sendiri,” ini kata Nenek saya dulu.

Dongeng-dongeng dari Nenek itu masih berkesan dalam ingatan saya hingga kini. Dan, ingatan kepada almarhumah Nenek tak pernah hilang. Masih terbayang jelas bagaimana wajahnya, senyumnya. Masih terasa nyaman dan lembut sentuhan serta elusan tangannya di punggung saya, saat mendongeng.

 

Bersiap Jadi Pendongeng

Ah, saya jadi larut dalam kenangan bersama Nenek. Baiklah, kembali ke Workshop Pemberdayaan Lanjut Usia Melalui Keahlian Mendongeng itu. Para peserta workshop yang semuanya lanjut usia (lansia), sudah berstatus kakek dan nenek, nantinya disiapkan untuk bisa mendongeng di depan anak-anak PAUD dan TK.

Jadi, workshop tersebut mempersiapkan para pesertanya yang sudah lansia itu untuk menjadi pendongeng. Ya, nantinya mendongeng di depan murid-murid PAUD dan TK. Para peserta nantinya benar-benar memposisikan dirinya sebagai kakek atau nenek yang akan mendongeng kepada cucu-cucunya. ***

 

Sutirman Eka Ardhana

Tulisan ini telah dimuat di ekaardhana.wordpress.com (5/11/2019)

Lihat Juga

Cerita Dongeng Harus Sampaikan Nilai-nilai Positif kepada Anak-anak

GARA-GARA mengikuti Workshop Pemberdayaan Lanjut Usia Melalui Keahlian Mendongeng, Sabtu 2 November lalu, saya pun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x