Jumat , 22 November 2019
Beranda » Humaniora » Mencoba Menjadi Jawa
Saya sedang mencoba menjadi Jawa. (ft. SEA/dok)

Mencoba Menjadi Jawa

MENGOBROL atau berbincang dengan seseorang seringkali bisa memunculkan ide-ide yang menarik. Ya, saya ngobrol dengan seseorang di warung angkringan. Obrolan kami seputar budaya Jawa dengan beragam seluk-beluknya.

“Ternyata tertarik dan punya perhatian juga terhadap budaya Jawa,” kata teman ngobrol saya itu.

“Ya, saya sedang mencoba menjadi Jawa,” ujar saya spontan, apa adanya.

Nah, jawaban yang spontan itu justru telah menggoda saya sendiri. Dari jawaban spontan, apa adanya, dan tak terencana itu, saya menemukan ide atau gagasan yang menarik untuk ditulis. Ya, saya menemukan ide, mencoba menjadi Jawa.

Sekadar informasi, saya lahir dan berangkat remaja di Bengkalis, Riau, suatu daerah yang sangat kuat dengan budaya Melayu. Setamat SMP saya berangkat ke Jawa. Dan, sampai sekarang saya menetap di Yogyakarta. Jadi, tidak berlebihan juga kalau dalam perbincangan itu saya mengatakan “sedang mencoba menjadi Jawa”.

 

Ajaran Kehidupan

Jawa, dalam pemahaman saya, bukanlah hanya sebatas nama suatu etnis atau suku, yakni suku Jawa, yang pulau tempat asalnya disebut Pulau Jawa.

Dalam pemahaman saya, Jawa tak sekadar nama suatu suku, dan nama sebuah pulau. Akan tetapi, Jawa juga dapat diartikan dan dipahami sebagai suatu ajaran tentang kehidupan. Ya, Jawa adalah suatu ajaran kehidupan.

Simak juga:  We Ar{t}e Here, Pameran Lukisan di Tembi

Sebagai ajaran kehidupan, maka di dalamnya saya menemukan wewarah-wewarah mengandung hal-hal yang berkaitan dengan filsafat, kultur atau budaya, seni, religi, tingkah laku, norma-norma, dan pandangan kehidupan. Serta, beragam ilmu lainnya, yang semuanya terangkum di dalam “wewarah Jawa”.

Saya sadar, menjadi Jawa bukanlah sesuatu yang mudah. Menjadi Jawa tak cukup hanya bisa berbahasa Jawa. Tak cukup hanya suka mengenakan busana Jawa. Suka memakai surjan dan blangkon, serta lain-lainnya lagi.

Saya harus banyak belajar secara sungguh-sungguh tentang ajaran kehidupan Jawa yang selalu menekankan pada perlunya sikap, tata krama, unggah-ungguh, atau sopan santun dalam setiap berinteraksi dengan orang lain.

Walaupun sesungguhnya sikap sopan santun atau unggah-ungguh itu terbentuk karena pengaruh yang begitu kuat dari ‘sikap feodalistik’ yang bermula dari lingkungan kraton.

Meskipun bermula dari ‘sikap feodalistik’, tapi budaya sopan santun atau unggah-ungguh itu merupakan sesuatu yang mulia, dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat.

 

Menjaga Harmoni

Dalam ajaran kehidupan Jawa, ada wewarah tentang perlunya setiap orang menjaga harmoni kehidupan. Nah, menurut saya, menjaga harmoni kehidupan bukanlah sesuatu yang mudah.

Simak juga:  Ada Apa di Balik Upacara Ritual Jawa?

Bagi orang Jawa, harmoni kehidupan atau sering juga disebut “harmoni Jawa” itu merupakan suatu upaya dan langkah menjaga kebersamaan, keselarasan dan keseimbangan di dalam kehidupan.

Misal, dalam “harmoni Jawa” akan terlihat jelas kecenderungan orang Jawa yang rela menyiksa atau menyakiti diri sendiri, demi menyenangkan dan membahagiakan orang lain. Makanya, jangan heran, jika orang Jawa itu bisa marah dengan tersenyum, bisa menutupi ketidaksukaan pada sesuatu atau seseorang dengan senyum.

Sungguh, bukan sesuatu yang mudah dan sederhana untuk bisa menjalankan semua itu. Diperlukan kesiapan diri dan kesiapan mental dalam kaitan menjaga harmoni kehidupan tersebut. Diperlukan keikhlasan hati, dan kebesaran jiwa.

Ini baru sebagian kecil saja yang sedang saya coba pahami dan pelajari dari ajaran kehidupan Jawa yang maha luas dan dalam itu. ***

 

Sutirman Eka Ardhana

Tulisan ini telah dimuat di ekaardhana.wordpress.com (23/10/2019)

Lihat Juga

Makna Simbol Dedaunan di Balik Tarub

Ketika orang Jawa berniat melakukan upacara hajadan berupa mengawinkan anaknya biasanya menjelang hari H nya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x