Kamis , 12 Desember 2019
Beranda » Sastra » Membaca Geguritan di Sastra Bulan Purnama
Institut Karinding Nusantara. (Ft: Ist)

Membaca Geguritan di Sastra Bulan Purnama

Bulan purnama tidak sembunyi di balik mendung, sehingga Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan tiap bulan purnama, masih disinari bulan purnama. Cuaca cerah, bahkan udara terasa panas. Dibawah bulan purnama, geguritan, ialah puisi yang ditulis menggunakan bahasa Jawa karya para perempuan penggurit dari berbagai kota mengisi acara Sastra Bulan Purnama edisi 98.

Perempuan penggurit dari berbagai kota, Jumat malam 15 Nopember 2019 membacakan geguritan karyanya dalam acara Sastra Bulan Purnama edisi 98, yang diselenggarakan di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Dari 11 penggurit yang datang dari Semarang, Kudus, Sragen, Klaten,  Cilacap, Yogya dan beberapa kota lainnya, dua di antaranya tidak bisa hadir, dan selebihnya hadir membacakan geguritan karyanya. Selain itu, tampil pembaca tamu, untuk membacakan geguritan karya penggurit yang tidak hadir, atau juga membacakan geguritan yang bisa hadir, sehingga selain dibacakan sendiri, juga dibacakan oleh pembaca tamu, seperti Sri Surya Widati, mantan Bupati Bantul membacakan geguritan karya Ninuk Retno Raras, dan Rieta En membacakan geguritan karya Yanti S. Sastro, bahkan keduanya melakuakan duet membaca geguritan.

Simak juga:  Puisi, Cerpen dan Geguritan Untuk Mengenang Yang Tiada

Guru-guru dari Cilacap, yang hadir dalam acara ini, mengawali membaca geguritan yang ditulis menggunakan bahasa penginyongan, sehingga penampilannya memperkaya geguritan yang ditulis menggunakan bahasa Jawa.

Selain membaca, ada juga yang nembang. Sebelum membaca geguritan, seperti dilakukan Yanti S.Sastro, ia mengawali dengan tembang. Hal yang sama dilakukan Sus S. Hardjono, penggurit dari Sragen, dia mengawalinya dengan melantunkan tembang, dan dilanjutkan membaca geguritan.

Tidak hanya itu, membaca geguritan sambil diiringi petikan gitar, yang dilakukan oleh Sri Surya Widati membacakan geguritan diiringi petikan gitar dari Nyoto Yoyok. Sesuatu hal yang menarik, kolaborasi alat musik modern gitar dengan pembacaan geguritan, yang biasanya diiringi tabuhan gamelan.

Lain lagi dengan Sulis Bambang, penggurit dari Semarang, saat membacakan geguritan sambil diiringi alat musik tiup berupa seruling sehingga memberikan imajinasi pada situasi masa lalu, setidaknya pada suasana bulan purnama di jaman dulu.

Pertunjukan dari Institut Karinding Nusantara, rasanya memberikan suasana lain. Penampilan karinding ini, mengsi ruang sela, agar orang tidak terus menerus melihat pembacaan geguritan secara bergantian.

Rupanya, para pembaca guguritan, yang semuanya perempuan, mereka berusaha tampil secara lain, tidak hanya tampil dengan tembang, tetapi ada yang menari, atau dalam bahasa Jawa disebut njoget, seperti dilakukan Tri Sumarni, penggurit dari Yogya, ketika ia membacakan geguritan karyanya yang berjudul ‘Njoget’ ia menari sambil diiringi lagunya Didi Kempot ‘Pamer Bojo Anyar’.

Simak juga:  Tiga Perempuan Penyair di Sastra Bulan Purnama

Membaca geguritan memang bisa memadukan dengan jenis kesenian lain, atau setidaknya melakukan kolaborasi antara geguritan dan musik, geguritan dan tarian, geguritan dan tembang. Masing-masing penggurit mempunyai pilihan sendiri-sendiri dalam upaya ‘menghidupkan’ kata.

Para perempuan penggurit ini, tidak hanya menulis geguritan, ialah jenis puisi yang ditulis dalam bahasa Jawa, tetapi mereka juga menulis puisi yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia, dan sudah memiliki buku kumpulan puisi, baik kumpulan puisi tunggal karyanya, maupun antologi puisi bersama dengan penyair dari berbagai daerah. Bahkan Sulis Bambang, sudah menerbitkan geguritan yang ditulis dalam bahasa Semarangan. Pendek kata, para perempuan penggurit ini terus berkreasi sambil tidak jemu menumbuhkan kecintaan pada literasi kepada masyarakat luas. Penerbitan buku puisi dan geguritan, yang kemudian diolah menjadi pertunjukan adalah salah satu bentuk mengajak masyarakat untuk mencintai literasi. (*)

Lihat Juga

Karinding di Tengah Gurit Wanodya

Institut Karinding Nusantara dari Banten berkolaborasi dengan Bengkel Sastra Taman Maluku dari Semarang, pimpinan Sulis …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x