Jumat , 22 November 2019
Beranda » Humaniora » Membaca Buku Bisa Memunculkan Inspirasi
Buku-buku memang bisa memotivasi diri untuk menyukai dunia kepenulisan dan menyukai buku-buku. (Ft: SEA)

Membaca Buku Bisa Memunculkan Inspirasi

SEJAK dulu saya memang meyakini, membaca buku bisa memunculkan ide-ide, inspirasi, semangat atau motivasi untuk menulis. Membaca buku, memang bisa merangsang keinginan untuk menulis, atau menumbuhkan kembali semangat menulis yang sempat padam agar menyala lagi.

Terus terang, saya memiliki pengalaman berkaitan dengan bagaimana sebuah buku telah mempengaruhi untuk menyukai dunia penulisan. Buku yang telah menggoda dan mempengaruhi jiwa saya untuk menyukai dunia kepenulisan itu adalah buku berjudul “Dua Dunia“.

Toko Buku Kecil

Ketika itu sekitar tahun 1968, saya masih duduk di kelas 3 SMP di kota kelahiran, Bengkalis. Suatu hari sepulang sekolah, saya bermain di sekitar kawasan pelabuhan. Tak jauh dari pelabuhan ada sebuah toko buku kecil. Dan itu adalah satu-satunya toko yang menjual buku di kota kecil, Bengkalis. Ya, di masa-masa itu, Bengkalis yang terletak di bibir Pulau Bengkalis, memang merupakan kota kecil, yang terkesan sepi, jauh dari keramaian. Dulu, Bengkalis memang suatu kabupaten yang masuk kategori miskin. Tapi kini, di era otonomi daerah, Bengkalis merupakan kabupaten terkaya kedua di Indonesia, setelah Kutai Kartanegara.

Di toko buku kecil yang menyediakan buku-buku pelajaran sekolah serta buku-buku bacaan umum, termasuk fiksi itu, saya tertarik dengan buku berjudul “Dua Dunia“. Buku “Dua Dunia” itu merupakan kumpulan cerpen dari pengarang Nh. Dini yang diterbitkan penerbit CV Nusantara, Bukittinggi, tahun 1961.

Simak juga:  Menulis Bisa Sampaikan Pesan Tentang Menjaga "Ke-indonesiaan"

Singkat cerita, buku kumpulan cerpen itu saya beli dari sisa-sisa uang saku sekolah. Sesampai di rumah, buku itu pun tak lepas dari tangan saya. Berhari-hari saya membacanya. Sehabis pulang sekolah, waktu selalu saya manfaatkan untuk membacanya. Membacanya berulang-ulang.

Sungguh, buku kumpulan cerpen “Dua Dunia” telah mengusik dan mempengaruhi jiwa saya. Saya pun mulai tertarik dengan cerpen. Mulai tertarik untuk belajar menulisnya. Saya pun mulai mencoba untuk menulisnya. Walau hanya menulis di lembaran buku tulis. Menulis yang tak kunjung selesai. Ya, tak kunjung selesai.

 

Memotivasi Diri

Saya harus jujur mengakui, buku kumpulan cerpen “Dua Dunia” karya Nh. Dini, kelahiran Semarang, 29 Februari 1936, yang sudah meninggal dunia beberapa waktu lalu ini, merupakan buku yang pertama telah memotivasi diri untuk menjadi penulis.

Buku fiksi yang pertama saya beli dan miliki itu benar-benar sangat berarti, dan berjasa dalam proses kreatif. Ya, proses kreatif di dunia kepenulisan. Buku kumcer itu tidak hanya memotivasi, tapi juga telah merangsang semangat dan mempengaruhi jiwa saya untuk menyukai dunia kepenulisan. Mendorong saya untuk banyak membaca buku-buku, mencintai buku-buku, belajar dan terus belajar tanpa henti.

Simak juga:  Buku yang 'Membunuh'

Andai di tahun 1968 itu saya tidak tergoda atau tertarik untuk membeli nya, mungkin jalan ceritanya berbeda. Saya bersyukur, ketika itu seperti ada yang menggerakkan keinginan saya untuk membeli dan memilikinya.

Andai pula ketika itu di toko buku kecil yang jumlah bukunya sangat terbatas tersebut tidak ada buku kumcer “Dua Dunia“, apakah saya juga kemudian tetap akan menyukai dunia kepenulisan? Entahlah, terus terang saya tidak bisa menjawabnya.

Untunglah, di masa-masa itu dunia penerbitan buku, termasuk buku-buku sastra, sedang jaya pada berbagai kota di Sumatera. CV Nusantara di Bukittinggi merupakan penerbit buku-buku sastra bergengsi pada masa itu. Termasuk karya Nh. Dini, yang tinggal di Semarang, diterbitkan di Bukittinggi tersebut.

Andai masa itu tidak ada penerbit buku besar di Bukittinggi, mungkin di kota kecil seperti kota kelahiran saya, Bengkalis, sangat mungkin buku “Dua Dunia” itu tidak saya temukan. ***

 

Sutirman Eka Ardhana

Tulisan ini telah dimuat di ekaardhana.wordpress.com (31/10/2019)

Lihat Juga

Perkampungan atau Desa Menyimpan Ide-ide Penulisan

SERINGKALI banyak yang tidak menyadari kalau kawasan perkampungan tempat tinggal kita sesungguhnya menyimpan atau memiliki …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x