Kamis , 20 Juni 2019
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Memahami “Wayang Kulit Wong” Kraton Surakarta
Ilustrasi Wayang Wong (ft. wikipedia)

Memahami “Wayang Kulit Wong” Kraton Surakarta

Wayang Kulit Wong sebuah karya klasik empu wayang di Jaman dulu yang diorientasikan bagi pementasan. Supaya bisa dilihat dari kejauhan dalam pementasan wayang , dan juga sebagai pusaka di sebuah kraton, maka wayang dibuat lebih besar dari wayang kulit biasa, bahkan hampir sebesar tinggi manusia.” Demikian diungkapkan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Harya Puger di Kraton Surakarta ketika ditemui belum lama ini. Jadi perlu ada pelurusan tentang kata wayang kulit orang itu” imbuhnya. Kraton sebagai sebuah lembaga yang berdasar agama tentu tidak mungkin menggunakan kulit manusia. Mungkin itu untuk melebih lebihkan saja. Katanya lagi, Sebagai contoh lain yakni adalah sengkalan di pintu masuk beberapa tempat ada kulit sapi, tetapi itu adalah sengkalan tanda tahun, Walulang Sapi Salombo (Wolu Ilang Sapi Salombo/1808 Saka). Lalu tersebar bahwa kulit itu adalah kulit manusia, padahal bukan..”Kraton tidak pernah membenarkan hal itu” Kata Gusti Puger.Itulah yang terjadi dengan Wayang Kangjeng Kiai Kadung, dll.

Wayang telah hadir 1500 tahun sebelum Masehi. Wayang lahir dari para cendikia nenek moyang  Jawa di masa silam. Pada masa itu, wayang diperkirakan hanya terbuat dari rerumputan yang diikat sehingga bentuknya masih sangat sederhana. Wayang dimainkan dalam ritual pemujaan roh nenek moyang dan dalam upacara-upacara adat Jawa. Pada periode selanjutnya, penggunaan bahan-bahan lain seperti kulit binatang buruan atau kulit kayu mulai dikenal dalam pembuatan wayang.

Wayang kulit tertua yang pernah ditemukan diperkirakan berasal dari abad ke-2 Masehi. Wayang sendiri berasal dari sebuah kalimat yang berbunyi “Ma Hyang”, artinya berjalan menuju yang maha tinggi (disini bisa diartikan sebagai roh, Tuhan, ataupun Dewa). Akan tetapi ada sebagian orang yang berpengertian bahwa kata wayang berasal dari bahasa Jawa yang berarti bayangan, atau yang dalam bahasa Indonesia baku adalah bayang. Hipotesa bahwa wayang berasal dari kata-kata bayang ini didapat dari bukti bahwa para penonton dapat menyaksikan pertunjukkan wayang dengan hanya melihat bayangan yang digerakkan oleh para dalang yang merangkap tugasnya sebagai narator.

Di Kraton Surakarta  Sihanto merupakan Abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta   menguasai pembuatan lima jenis wayang lain sesuai dengan pakem kraton, yaitu wayang Purwa, wayang Madya, wayang Gedhog, wayang Klithik, dan wayang Menak.

Wayang Purwa adalah wayang kulit klasik, yang mengambil cerita epos Ramayana dan Mahabarata,  sedangkan wayang Madya mengambil cerita pada masa pemerintahan putra Parikesit, Jayabaya, atau masa setelah Mahabarata. Wayang Gedhog dan wayang Beber sebenarnya sama-sama mengambil kisah cerita Panji. Hanya saja   pada wayang beber wayang berupa lukisan per fragmen dalam selembar kain, sedangkan wayang gedog berupa wayang kulit.

“Wayang klithik mengadopsi kisah Damarwulan-Minak Jinggo, sedangkan wayang menak mengambil kisah Umarmoyo-Umarmadi. Wayang menak ini juga dikenal sebagai wayang syiar, karena sering digunakan para wali sanga sebagai media penyebaran agama Islam ketika itu,” jelas Sihhanto.

Sihhanto lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Soma Dimejo, dan ibunya, Tuminah, buruh tani yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan tinggi. Kondisi seperti itulah menuntut Sihanto  bekerja. Setamat SMP, ia bekerja di sebuah perusahaan pembuat sketsel wayang di Jakarta. Perusahaan inilah yang kemudian membawanya ke kediaman Presiden Soeharto ketika itu di Cendana, untuk mengerjakan proyek pembuatan wayang sketsel. Wayang sketsel adalah wayang yang di-sungging (ditatah) di atas lembaran kulit sapi atau kulit kerbau utuh.  Wayang jenis ini biasanya dipajang untuk hiasan ruang tamu.

Simak juga:  Dalang Wayang Kulit, Dulu dan Kini

“Selama tiga tahun saya ikut merancang dan membuat wayang sketsel di Cendana. Itu pengalaman mahal dalam karir saya sebagai penyungging (perajin) wayang kulit,” ujar pria yang tinggal di Kampung Pabelan, Sukoharjo, Surakarta.

Serelah proyek Cendana selesai, Sihhanto memutuskan kembali ke Solo. Ia sempat melanjutkan pendidikannya di SMA persamaan, namun tidak selesai karena terlalu sibuk bekerja. Anehnya, etos kerja dan hasil karya wayangnya yang bagus tidak juga mengubah nasibnya, terutama sisi perekonomian, menjadi lebih baik.

 

Menjadi Abdi Dalem

Atas nasehat ayahnya, Sihhanto akhirnya menerima tawaran seorang teman yang mengajaknya untuk mengabdi ke Kraton Kasunanan Surakarta. Sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa menjadi abdi dalem keraton akan mendapatkan berkah dan ketenangan.

“Mungkin dengan cara mengabdi di kraton hidup saya akan tenang dan penuh berkah. Saya tidak kaget ketika baru masuk hanya mendapat gaji Rp 2 ribu karena niat saya memang hanya untuk mengabdi. Semua saya jalani dengan ikhlas,” ujar Sihhanto.

Karena memiliki kemampuan membuat wayang kulit, Sihhanto ditempatkan di Gedong Lembisono, tempat penyimpanan wayang koleksi kraton. Dari tempat inilah suami dari Sri Lestari ini belajar banyak tentang wayang-wayang kuno. Secara otodidak, ia belajar tentang bentuk wayang, sunggingan, pewaarnaan, dan karakter wayang. Sihhanto juga membaca banyak buku tentang sejarah dan jenis wayang.

Raden Tumenggung (RT) Redi Suto  yang ketika itu menjadi pengageng (kepala) Gedong Lembisono banyak menuntunnya dalam belajar. Redi Suto pula yang mengenalkan Sihhanto dengan bermacam wayang kuno milik kraton,seperti Kyai Jimat, Kyai Kadung, Kyai Kanyut, dan Kyai Dewa Katong. Dari kraton pula ia belajar dan akhirnya menguasai pembuatan enam jenis wayang; purwa, madya, gedog, klithik, beber, dan wayang menak.

“Kraton itu guru sejati saya Bukan hanya perkara wayang, namun juga guru kehidupan. Dari kraton saya belajar ikhlas, sabar, dan bersyukur. Hidup  itu bukan semata-mata untuk mencari materi, meskipun materi itu penting,” kata bapak empat anak ini.

Puluhan tahun mengabdi di kraton, berkah itu benar-benar didapat Sihhanto.  Persentuhannya yang intend dan lama dengan wayang kraton membuatnya menjadi salah satu pakar wayang kuno di Kraton Kasunanan Surakarta. Tak hanya Solo, ia kerap juga diundang ke Kraton Kasultanan Yogyakarta, Kraton Kasepuhan Cirebon, dan beberapa kraton di luar Jawa untuk memeriksa keaslian wayang kuno. Kemampuannya itulah yang kemudian membuat Sihhanto dipercaya Kraton Kasunanan Surakarta untuk mengelola Bale Agung, pusat penyunggingan wayang kulit milik kraton, sekaligus diangkat sebagai empu wayang kulit di Kraton Kasunanan Surakarta oleh Paku Buwono XII.

Di luar lingkungan kraton, kepiawaiannya dalam membuat wayang juga diakui dunia pedalangan.  Karya sungging wayangnya banyak dipakai oleh para dalang ternama, seperti Ki Hadi Sugito, Ki Timbul Hadi Prayitno, Ki Manteb Sudarsono, Ki Anom Suroto, Ki Asep Sunarya, Ki Purbo Asmoro,  Ki Enthus Susmono, Nyi Suharni Sabdowati, hingga  Nyi Wulansari Panjangmas.

Simak juga:  WAYANG “PREMAN”: Tawuran, Bauran, Tawaran Kreasi

Sampai sekarang masih sedikit kalangan muda yang menekuni sungging wayang kulit. Kalau pun ada, mereka biasanya tidak mau masuk kraton karena tidak digaji. “Sebenarnya banyak mahasiswa  jurusan seni pedalangan dan tatah sungging yang bagus, tapi mereka lebih senang berkarya di luar tembok kraton,” ujar satu-satunya empu wayang kulit di Kraton Kasunanan Surakarta ini.

 

Nyaris Hilang

Sekitar 60 anak wayang yang sempat hilang dari beberapa kotak pusaka koleksi Keraton Surakarta,  diterima kembali oleh pihak keraton.  Anak wayang itu dari berbagai tokoh, dari sejumlah yang diduga hilang saat digelar pentas wayang kulit peringatan 10 Sura, akhir Oktober 2015. ”Kami merasa tersadar untuk memulai menginventarisasi semua aset yang ada. Kami sudah menemukan salah seorang pelakunya. Penyelesaiannya secara kekeluargaan atau ala keraton. Alhamdulillah sudah kembali 60 buah,” ujar Pimpinan Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) KPH Eddy Wirabhumi, seperti dilansir sebuah koran di Jawa Tengah. Menurutnya, dimungkinkan masih ada yang lain yang belum kembali. Disebutkan, 60 anak wayang yang kembali itu berasal dari beberapa kotak wayang. Di antaranya dari kotak Kiai Mangu yang kini dihitung kembali dalam rangka reinventarisasi. LHKS menduga, ada abdi dalem yang mengambil anak wayang koleksi keraton. Diyakini ada pula beberapa orang lain yang  terlibat

Di tempat terpisah, KRT Sihantodipuro selaku tindhih abdi dalem pedalangan Kantor Lembisana menuturkan, dirinya merasakan aneh atau ada sesuatu yang hilang saat sekotak anak wayang Kiai Mangu disimping untuk pentas peringatan 10 Sura di Pendapa Sitinggil Lor, akhir Oktober 2015.

Ternyata yang kembali 60 buah. Jumlah itu ternyata bukan hanya dari kotak Kiai Mangu, melainkan dari kotak Kiai Jimat dan Kiai Kanyut,” ujarnya lega.

 

Gagrak Surakarta

Wayang gaya surakarta dibagi menjadi beberapa subgaya seperti :

1. Gaya Cermapanatasan.
2. Gaya Klatenan.
3. Gaya Klecan.
4. Gaya Kartasuran.
5. Gaya Wonogiren.
6. Gaya Surakarta Pesisiran.
7. Gaya Sragenan.  
8. Wayang Madiunan.

Gaya Kartasuran adalah gaya yang merupakan cikal bakal wayang  Surakarta….,gaya Kartasuran merupakan mata rantai antara gaya Mataram dengan gaya Surakarta. Gaya Kartasuran dibagi menjadi subgaya yaitu: Kartasuran Mangkuratan yang condong kegaya Kedhu,yang membuat Sunan Amangkurat di mataram,gaya Kartasuran Pugeran yang merupakan cikal bakal wayang Surakarta,gaya Kartasuran Pugeran dibuat oleh raja keraton kartasuran pertama yaitu Adipati Puger atau P.B I.

Wayang gaya Kartasuran ini ada beberapa set wayang gaya ini yang masih lestari walaupun wayang ini sudah sangat langka sekali: -kyai pramukanya, kyai kadung, kyai kanyut, kyai mangu  -garudha mungkurnya umumnya pendek namun melebar pada bagian mukanya,seperti gaya jogja.

Wayang asli Madiun justru menurut suatu sumber ,mirip dengan wayang Yogya. Hal ini mungkin dikarenakan di masa dahulu Madiun adalah wilayah Mancanagari bawahan keraton Ngayogyakarta. Adipati Madiun Rangga Prawiradirja bahkan adalah menantu Hamengku Buwana III. Sayangnya di Madiun kini dalang lebih banyak memakai wayang gaya Surakarta. (Ki Juru Bangunjiwa)

 

Sumber: KGPH Puger,  dari berbagai sumber.

Lihat Juga

“Zaman Edan” Munculkan Pemimpin “Bhatara kala”

RANAH politik di jagad pewayangan sedang mengalami masa-masa sulit dan penuh dengan beragam persoalan.  Jagad …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *