Kamis , 20 Juni 2019
Beranda » Event » FESTIVAL PURBAKALA 2019: Melihat Masa Lalu, Mempertimbangkan Saat Ini, Menata Masa Depan
Candi Prambanan (ft. Ist)

FESTIVAL PURBAKALA 2019: Melihat Masa Lalu, Mempertimbangkan Saat Ini, Menata Masa Depan

Sebagai inisiasi  awal yang murni dari gerakan masyarakat yang sangat mencintai perjalanan sejarah peradaban, memperingati “hari purbakala” diharapkan mampu memberikan spirit kepada generasi hari ini. Bahwa dibalik peninggalan masa lalu yang disebut “purba” terdapat benang merah yang saling bertautan antara masa lalu, hari ini dan masa yang akan datang.

Sebagai “kota budaya”,Daerah Istimewa  Yogyakarta memiliki ribuan benda kuno, baik yang berupa bangunan ataupun naskah yang tercetak. Yang tercetak, ditulis oleh para pujangga dan menjadi rujukan pada masanya. Yang tidak tercetak, terdapat berbagai kearifan local yang menjadi dinamisator dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dengan segala penguasaan teknologi yang tinggi.

Adalah, G.E Rumphius (1628-1702), seorang naturalis Jerman, salah satu orang yang telah berjasa dan menegaskan betapa pentingnya arti benda purbakala. Kegiatan Rumphius dan beberapa peminat benda purbakala menginisiasi berdirinya lembaga penelitian Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) pada 1778. Berkat campur tangan pemerintah Hindia Belanda, pada 1901 dibentuk ”Commissie in Nederlandsch-Indie voor oudheidkundig onderzoek op Java en Madoera”. Dr. N.J. Krom. Kepala komisi yang visioner. Atas usaha Krom, hapuslah komisi yang bersifat sementara itu. Maka atas surat keputusan pemerintah tanggal 14 Juni 1913 nomor 62 berdirilah ”Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indie” (Jawatan Purbakala).

Memperingati “Hari Purbakala”, merupakan suatu ikhtiar bersama untuk menginggatkan kembali kepada kita semua, dan juga memberi rasa kepercayaan diri pada generasi generasi penerus, bahwa sesungguhnya negeri ini dibangun dengan dengan system kebudayaan yang melingkupi berbagai hal.

Hasil kebudayaan masa lalu, merupakan jalinan yang mempunyai benang merah dengan hasil kebudayaan saat ini dan yang akan datang. Salah satu bukti system kebudayaan yang dalam hal ini adalah system pengetahuan, bisa kita lihat dari bangunan masa lalu yang sering disebut dengan benda “purbakala”. Hal tersebut merupakan bukti betapa pada masa itu masyarakat telah mempunyai sistem pengetahuan teknologi yang tinggi.

Dalam catatan yang berbentuk naskah ataupun bangunan bangunan masa lalu tersebut, kita bisa melihat, betapa pada masa itu, ribuan tahun yang lalu,masyarakat di wilayah yang pada waktu ini disebut Daerah Istimewa Yogyakarta, telah memiliki peradaban yang sangat tinggi, baik dalam tata kelola pemerintahan maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya. Bangunan kuno serta ribuan naskah yang tersimpan, menjadi penanda terjadinya “transformasi” kehidupan dari waktu ke waktu. Dengan berbagai peninggalan yang ada, lacakan masa lalu terlihat dengan jelas, untuk mempertimbangkan masa kini dan merancang masa depan.

 

Agenda Acara Festival Purbakala  2019.

Hari Pertama  Tgl 14 Juni 2019.

Festival sedia dibuka Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Jumat, 14 Juni 2019 pukul 15.00, diawali perform Livy Laurens dan dipandu MC Mas Bekel Joyo Suprianto. Sore itu juga ada pemberian kompensasi pelindungan cagar budaya oleh  BPCB DIY, dilanjutkan Pembukaan Festival Purbakala oleh Gubernur dan dilanjutkan  Sarasehan Kebudayaan. Melengkapi acara, hadirin juga disuguhi perform Sanggar Sekar Pangawikan pimpinan Bambang Nursinggih.

Acara dengan tagline “Heritage Festival – Purba Mileniakala, Membaca Masa Lalu, Melakoni Masa Kini, Menata Masa Depan” itu, digelar di Museum Sonobudoyo, Jalan Pangurakan, Alun-alun Utara Yogyakarta, dari tanggal 14 – 19 Juni 2019. Selama enam hari, banyak kegiatan dihelat, dan dikemas dalam tema “Diskusi Purba”, “Sastra Purba”, “Pertunjukan Festival Purbakala”, dan “Malam Purba Mileniakala”.

Pematung Yusman akan memajang karyanya di pedestrian depan Museum Sono Budoyo.

“Diskusi Purba” dilangsungkan tanggal 15 – 18 Juni 2019. Tema yang disiapkan panitia sangat menarik untuk diikuti. Tanggal 15 Juni, menampilkan topik “Kopi & Kuliner Purba” dengan pembicara Wisnu Birowo (Koordinator Komunitas Kopi Nusantara), dipandu moderator Bachrul Fauzi.

Tanggal 16 Juni, mengangkat topik “Sumbu Filosofis” bersama narasumber Dr.Haryadi Baskoro dan Dr.Amiluhur Soeroso (Yayasan Indonesia Rumah Kebhinekaan), dipandu moderator Agus Budi Raharjo. Lalu tanggal 17 Juni, menampilkan topik “ Sosialisiasi Purbakala DIY – Aset & Potensi” bersama YosesTanzaq (Staf Seksi Penyelamatan Benda Cagar Budaya BPCB DIY) dan Ki Priyo Mustiko ( Jaringan Masyarakat Budaya Nusantara)  dengan moderator  Udiek Supriyanto (Dewan Teater Yogya). Terakhi, 18 Juni diskusi mengangkat topik “Mencari Telur Garuda”, bersama narasumber Nanang R. Hidayat (Dosen Jurusan Televisi Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta, penulis buku “Mencari Telur Garuda), dipandu moderator Paku Kusuma.

Agenda berikutnya adalah Sastra Purba. Acara berlangsung lima hari berturut-turut. Tanggal 14 Juni menampilkan penulis kelahiran Magetan yang berdomisili di Yogya, Iman Budi Santosa (IBS) dengan moderator Alexandri R. Lutfi. Tanggal 15 Juni menampilkan penyair Umi Kulsum  dipandu moderator  Wahyana Giri MC . Dilanjut tanggal 16 Juni menampilkan sastrawan dan wartawan senior Mustofa W. Hasyim dipandu moderator Latif S. Nugraha dan penampilan musikalisasi puisi Kelompok IBU JARI (UAD). Tanggal 17 Juni menampilkan penyair  Sitok Srengene  dipandu moderator Pamuji Raharjo, dan terakhir tanggal 18 Juni, menampilkan Komunitas Penyair Kampung , Jimmy Mahardika, Gatot Suwarsidi, Bambang Nugroho, Musikalisasi puisi mahasiswa ISI Yk.  dipandu moderator Marwanto. (Penyair Kulonprogo)

Menutup rangkaian Festival tanggal 19 Juni 2019, digelar Malam Purba Mileniakala. Acara yang dirancang mulai pukul 19.00 sampai 22.00 itu diawali perform duta-duta keistimewaan, dilanjut malam pengukuhan dan penghargaan duta purbakala, dan dipungkasi pertunjukan wayang kulit oleh Ki Ir Eko Suryo Maharsono (Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta). 

Kegiatan ini atas kerjabareng : Watu Karta Institute, Rumah Garuda , Yayasan Indonesia Rumah Kebhinekaan, Koperasi Seniman Yogyakarta,, Jogjapedia,Studio Patung Yusman,  Komunitas Duta Keistimewaan DIY serta Komunitas Purba Mileniakala.. Sanggar Pangawikan dan Sanggar Studi Sastra SILA Yk.

Di dukung oleh Musium Sono Budoyo Dinas Kebudayaan dan  Dinas Pariwisata DIY, BPCB, Festival Godhong Opo-Opo Dinas Kebudayaan Kota.

 

Yogyakarta, 1 Juni 2019

Sigit Sugito
Ketua Panitia
081931791185

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *