Kamis , 12 Desember 2019
Beranda » Humaniora » Derap Kebangsaan XXV: Media Massa di Era Revolusi Industri 4.0
Imam Anshori Saleh (ft. Ist)

Derap Kebangsaan XXV: Media Massa di Era Revolusi Industri 4.0

Imam Anshori Saleh

Karena temanya menyangkut era industri 4.0 ada baiknya kita pahami sedikit tentang Revolusi Industri 4.0? Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan revolusi industri 4.0? Secara singkat, pengertian industri 4.0 adalah tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Pada industri 4.0, teknologi manufaktur sudah masuk pada tren otomatisasi dan pertukaran data. Hal tersebut mencakup sistem cyber-fisik, internet of things (IoT), komputasi awan, dan komputasi kognitif.

Tren ini telah mengubah banyak bidang kehidupan manusia, termasuk ekonomi, dunia kerja, bahkan gaya hidup manusia itu sendiri. Singkatnya, revolusi 4.0 menanamkan teknologi cerdas yang dapat terhubung dengan berbagai bidang kehidupan manusia.

Revolusi industri 4.0 akan membawa banyak perubahan dengan segala kon-sekuensinya, industri akan semakin kompak dan efisien. Namun ada pula risiko yang mungkin muncul, misalnya berkurangnya Sumber Daya Manusia karena digantikan oleh mesin atau robot. Dunia saat ini memang tengah mencermati revolusi industri 4.0 ini secara saksama. Berjuta peluang ada di situ, tapi di sisi lain terdapat berjuta tantangan yang harus dihadapi.

Prof. Klaus Martin Schwab, teknisi dan ekonom Jerman, yang juga pendiri dan Executive Chairman World Economic Forum, yang pertama kali memperkenalkannya. Dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution (2017), ia menyebutkan bahwa saat ini kita berada pada awal sebuah revolusi yang secara fundamental mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain. Perubahan itu sangat dramatis dan terjadi pada kecepatan eksponensial. Perubahan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan dibandingkan era revolusi industri sebelumnya.

Pada Revolusi Industri 1.0, tumbuh-nya mekanisasi dan energi berbasis uap dan air menjadi penanda. Tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Mesin uap pada abad ke-18 adalah salah satu pencapaian tertinggi. Revolusi 1.0 ini bisa meningkatkan perekonomian yang luar biasa. Sepanjang dua abad setelah revolusi industri pendapatan perkapita negara-negara di dunia meningkat enam kali lipat.

Revolusi Industri 2.0 perubahannya ditandai dengan berkembangnya energi listrik dan motor penggerak. Manufaktur dan produksi massal terjadi. Pesawat telepon, mobil, dan pesawat terbang menjadi contoh pen-capaian tertinggi. Perubahan cukup cepat terjadi pada Revolusi Industri 3.0. Ditandai dengan tumbuhnya industri berbasis elektronika, teknologi informasi, serta otomatisasi. Teknologi digital dan internet mulai dikenal pada akhir era ini. Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan berkembangnya Internet of/for Things, kehadirannya begitu cepat. Banyak hal yang tak terpikirkan sebelumnya, tiba-tiba muncul dan menjadi inovasi baru, serta membuka lahan bisnis yang sangat besar. Munculnya transportasi dengan sistem ride-sharing seperti Go-jek, Uber, dan Grab. Revolusi Industri 4.0 memang menghadirkan usaha baru, lapangan kerja baru, profesi baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Entah berapa ratus ribu orang yang terserap oleh usaha transportasi itu, meski juga menyurutkan bisnis transportasi konvensional.

Dalam buku Jobs Lost, Jobs Gained: Workforce Transitions in a Time of Automation, yang dirilis McKinsey Global Institute (Desember 2017), pada 2030 sebanyak 400 juta sampai 800 juta orang harus mencari pekerjaan baru, karena digantikan mesin. Revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan kemunculan sistem fisik-siber, the internet of things (tersambungnya seluruh artefak online dan offline ke jaringan lokal, dan global secara kontinu melalui internet), cloud com-puting (internet sebagai pusat server untuk mengelola data dan aplikasi pengguna), serta cognitive computing (sistem dengan fitur belajar dan adaptasi kontinyu seperti otak manusia). Data dari World Economic Forum (WEF) yang memperkirakan antara 2015-2020, jutaan pekerjaan akan berkurang dan digantikan oleh teknologi seperti mesin, kecerdasan buatan, dan perangkat komputasi lainnya.

 

 

Bagaimana dengan Media Massa?

Pergeseran perkembangan bisnis kini menguasai dunia, dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Dulu perusahaan nomor satu di dunia adalah perusahaan minyak, tapi sekarang sudah berganti posisinya dengan perusahaan teknologi. Hal ini menunjukkan, teknologi saat ini sudah berperan sangat besar dalam kehidupan kita.

Media massa pun tak bisa berdiam diri dengan mempertahankan sajian dan pengelolaan model konvensional. Media massa cetak, radio, dan televisi tetap ada, tapi perusahaan pers juga menambah divisinya untuk menjangkau pembaca millennial via internet. Para pengusaha pers berramai-ramai membuat versi online. Muncullah berbagi portal dotcom, seperti Kompas.com. Tempo.co, metro.com, liputan6.com. Detik.com dibeli grupnya Chairul Tanjung. Grup ini juga membuat CNNIndonesiaa.com dan CNBCIndonesia.com. Di daerah-daerah juga muncul KR, Bernas, Jawa Pos dan lainnya di berbagai daerah lainnya versi online. Saya sendiri bersama beberapa kawan juga membuat senayanpost.com, walaupun belum terlalu serius.

Pendirian banyak dotcom bukanlah untuk kelatahan, tapi keniscayaan untuk menjaga keberlangsungan media massa. Dari sisi kecepatan, media online jelas lebih cepat dalam penyampaian informasi dibandingkan media konvensional. Generasi milenial juga ke generasi kita sudah tidak mau repot-repot menunggu membaca berita sampai besok lewat koran-koran. Ada peristiwa saat ini, beberapa menit kemudian muncul berita lewat media online, baik iu media sosial maupun media massa mainstream.

Simak juga:  Cacat

Persoalan akurasi isi berita pasca menjamurnya online adalah persoalan tersendiri antara media sosial dan media mainstream. Itu perlu diskusi tersendiri, karena kompleksitasnya sangat tinggi, baik dari segi regulasi, munculnya problem sosial, politik, dan hukum, dan sebagainya. Benarkah media mainstream atau konvensional saat ini menghadapi tantangan dari media sosial (social media). Kita lihat saja indikasi yang ada. Kecepatan informasi dari media sosial biasanya lebih dibandingkan dengan media mainstream, seperti koran, televisi, dan radio.

Dari sisi content, masyarakat saat ini menginginkan informasi yang lebih dinamis, interaktif, dan ingin tahu lebih banyak dari yang disediakan oleh media mainstream. Dulu informasi bersifat pasif. Pengusaha media meng-gelontorkan informasi hanya satu arah. Sekarang konsumen tidak mau seperti itu, harus lebih interaktif seperti di sosial media.

Dengan keinginan masyarakat menginginkan informasi yang sema-kin beragam, bahkan harus lebih cepat dibanding media sosial (baik Facebook maupun Twitter), maka pengusaha media harus menyesuaikan bisnis media mainstream dengan media sosial. Penyesuaian tersebut dilakukan dengan cara membuat media mainstream menjadi lebih interaktif, lebih instan (dengan kecepatan tanpa mengorbankan akurasi), lebih mudah diproses (didistribusikan melalui media sosial), dan lebih bervariasi (diperkaya dengan gambar foto dan warna).

Kita tidak bisa melawan arus dengan adanya media sosial ini. Justru dengan media sosial tersebut, kita dituntut harus lebih kreatif untuk menciptakan konten. 

 Filsuf Jerman, Jurgen Habermas, percaya bahwa masyarakat perlu me-nerapkan apa yang ia sebut sebagai demokrasi deliberatif, yaitu kesem-patan kepada banyak pihak untuk menyampaikan pendapat mereka, yang paling berbeda sekalipun, dan kemudian membiarkan masyarakat mengambil keputusan atas informasi yang beragam tersebut. Hoaks di sini bukanlah merupakan bagian dari demokrasi karena jika diteropong lewat pendekatan kebebasan memperoleh informasi (freedom of information), masyarakat perlu memiliki informasi yang lengkap dan terbuka untuk mengambil keputusan dalam pelbagai aspek kehidupannya.

Apa yang akan terjadi jika informasi yang ingin dijadikan pegangan ialah informasi yang tak akurat, sengaja dipelintir ataupun difabrikasi? Hoaks ini racun bagi suatu kebebasan mem-peroleh informasi, sementara kita sering mendengar bahwa kebebasan memperoleh informasi adalah oksigen bagi demokrasi.

Dalam kondisi semacam ini, lalu apa yang perlu kita lakukan? Jika media sosialnya sendiri lewat hukumnya yang berlaku memang sulit melakukan perubahan, yang perlu diintervensi adalah para penggunanya. W James Potter menulis Media Literacy (2013), mengatakan  literacy  awalnya merujuk pada kemampuan seseorang untuk membaca bahan yang tertulis. Dalam perkembangan berikutnya, literacy berkembang menjadi visual literacy, story literacy, computer literacy, dan kini digital media literacy. Jadi digital media literacy berarti kemampuan seseorang untuk bisa memroses informasi yang datang dari aneka jenis platform (mulai yang mainstream hingga yang digital). Satu hal yang ditekankan Potter walau ia mengambil sisi yang lebih seimbang konsep media literacy berangkat dari asumsi ‘media itu bisa merusak’. Namun, Potter mencoba ingin menyeimbangkan pendapat bahwa media bisa merusak, tapi media juga bisa membantu, bisa mencerahkan, bisa berguna, dan lain-lain.

Dalam konteks ini media sosial yang sama, yang bisa dipergunakan untuk menyerang lawan, merusak reputasi dan lain-lain, juga bisa dipergunakan untuk membangun kebersamaan, menjembatani disharmoni, serta menyebarluaskan pencerahan bagi masyarakat. Dibutuhkan pihak yang memikirkan dan bekerja untuk hal ini karena percepatan kepemilikan dan penggunaan media sosial sedemikian masif di Indonesia dan secepat itu pula kita membutuhkan pendidikan digital media literacy bagi para pengguna gadget di sekitar kita.

Dengan pengetahuan serta kete-rampilan digital media literacy, kita akan diajak untuk menggunakan media secara bijak, tidak jatuh dalam perangkap menyebarluaskan ungkapan kebencian (hate speech), tidak jadi konsumen dan distributor hoaks. Sebaliknya, bisa menjadi peredam efek negatif media sosial dan bahkan bisa menghasilkan sesuatu yang lebih produktif dan bermanfaat dari media sosial yang kita miliki, dan kita pergunakan sehari-hari itu.

 

Belanja Iklan

Perusahaan teknologi pemasaran niaga Criteo mencatat, televisi masih menjadi saluran utama untuk beriklan di Indonesia. Namun pertumbuhan iklan melalui media online lebih cepat dibanding televisi. Menurut Criteo, pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) belanja iklan di televisi tumbuh 14,5% sejak 2014 hingga 2017. Sementara belanja iklan secara online tumbuh 44,3% untuk periode yang sama. Namun belanja iklan di televisi tetap lebih besar,” ujar General Manager Criteo Southeast Asia, Hong Kong, and Taiwan Alban Villani di Jakarta, Rabu (21/11).

Pada 2014, belanja iklan televisi sebesar US$ 3,24 miliar. Lalu, belanja iklan di televisi naik menjadi US$ 4,86 miliar pada 2017. Sementara belanja iklan secara online naik dari US$ 481 juta di 2014 menjadi US$ 1,44 miliar tahun lalu. Sementara belanja iklan di media cetak naik dari US$ 1,8 miliar di 2014 menjadi US$ 2,1 miliar pada 2017. Menurutnya, pertumbuhan belanja iklan secara online sejalan dengan besarnya kepemilikan ponsel pintar (smartphone) di Indonesia. Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat, masyarakat yang mengakses internet melalui smartphone atau tablet mencapai 44,16% dari 143,26 juta pada 2017. Sedangkan yang mengakses internet lewat komputer atau laptop pribadi hanya 4,49%.

Simak juga:  SERI PANCASILA (3): Pancasila Buat Anak-anakku

Sementara pengguna yang mengak-ses internet lewat smartphone dan komputer mencapai 39,28% dari total. Ia memperkirakan, lebih dari 26% masyarakat yang terpapar internet di Indonesia memiliki lebih dari dua perangkat pada 2022. Dengan begitu, ia memperkirakan 89% dari total anggaran pemasaran akan diin-vestasikan secara online di 2022. Saat ini, ia mencatat 20% alokasi belanja iklan melalui display berbayar pada 2017.

Sebanyak 15% mengalokasikan belanja iklan melalui media sosial. Sementara pemasaran tradisional, konten, afiliasi, situs pribadi, search engine optimization (SEO), dan surat elektronik masing-masing 9%.

Belanja iklan pelaku usaha melalui media digital sudah berada di kisaran 20%, dan diperkirakan masih akan lebih tinggi pada tahun depan. Belanja iklan melalui media digital masih akan meningkat, didorong oleh semakin baiknya infrastruktur internet, dan semakin siapnya platform media digital dalam menjawab kebutuhan iklan pelaku usaha. Pada 2013 itu belanja iklan media digital masih di bawah 5%, tetapi saat ini sudah meningkat 15% hingga 20%. Bahkan, sebagian pelaku usaha kecil menengah sudah menyalurkan 100% belanja iklannya melalui media digital.

Bisnis media massa mainstream mulai surut –selain televisi tentunya. Di era ketika penetrasi internet semakin tinggi, media-media besar yang berawal dari medium tinta dan kertas diuji. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII), lebih dari setengah penduduk Indonesia telah terhubung ke internet pada 2016. Jumlah pengguna internet pada 2016 tercatat 132,7 juta orang, naik sekitar 50 juta dari tahun 2014. SPS sebelumnya mendata jumlah media cetak beserta oplahnya. Data ini mencakup harian, mingguan, tabloid, dan majalah. Sejak 2008 hingga 2014, oplah harian menunjukkan tren naik, meski jumlah medianya naik-turun. Pada 2008, total oplah harian tercatat 7,49 juta. Tahun-tahun berikutnya, angka itu terus naik. Pada 2014, total oplah telah mencapai 9,65 juta. Namun, kenaikan itu berhenti pada 2014. Pada 2015 oplah mulai melorot, hanya 8,79 juta, turun 8,9 persen dari tahun sebelumnya. Ia bahkan lebih kecil dibanding total oplah pada 2011. Data taun 2019 ini tetunya lebih rendah lagi, atau setidaknya stagnan.

Merosotnya tiras (oplah) surat kabar harian pada 2015 dialami juga oleh mingguan, tabloid, dan majalah. Penurunan paling dalam menimpa mingguan. Pada tahun itu, oplahnya turun 9,27 persen dibanding tahun 2014. Demikian pula dengan iklan. Data dari P3I di akhir 2018, pada 2013 itu belanja iklan media digital masih di bawah 5%, tetapi saat ini sudah meningkat 15 hingga 20%. Bahkan sebagian pelaku usaha kecil menengah sudah menyalurkan 100% belanja iklannya melalui media digital. Ke depan diperkirakan belanja iklan ke media online akan semakin meningkat, di saat iklan ke media cetak semakin kempis.

 

Pembaca Media Online

Jumlah pembaca online atau media siber naik 500 persen, jumlah pembaca media cetak menurun 30 persen, pendengar radio menurun 10 persen, penonton televisi meningkat 200 persen. Peningkatan jumlah pembaca media online yang mencapai 500% ini dalam waktu kurun waktu lima tahun. (Adi Prasetyo:2017) Dalam kurun waktu lima tahun saja dari 2011 hinggal 2016 pembaca media cetak menurun 30%, Pendengar radio menurun 10%, pemirsa televisi menurun 10%. “Sedangkan pembaca media cyber (online) naik hingga 500% dalam kurun waktu lima tahun saja,” tegas Yoseph seperti dikuti (Waspada Online.)

Data peningkatan jumlah pembaca media online didukung hasil survei Nielsen Consumen & Media View. Nielsen Indonesia menyatakan di Indonesia saat ini pembaca media digital sudah lebih banyak ketimbang media cetak. Jumlah pembeli koran terus merosot karena masyarakat beranggapan bahwa informasi seha-rusnya bisa didapat secara gratis. Data survei 2017 menunjukkan, jumlah pembaca media online 6 juta orang atau lebih banyak dibandingkan pembaca media cetak sebanyak 4,5 juta orang. Disebutkan, media cetak hanya menjadi pilihan kelima masyarakat untuk mendapatkan informasi dengan penetrasi sebesar 8%.

Urutan pertama ditempati televisi dengan 96%, diiukuti papan iklan di jalanan 52%, penggunaan internet sebesar 43% dan radio sebanyak 37%. Survei Nielesen juga menemukan 36% pembaca media cetak adalah pemimpin perusahaan atau birokrat mapan. Dengan jumlah pengeluaran yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat biasa, mereka punya tendensi untuk beralih ke media digital. Tak hanya jumlah pembaca, pengeluaran iklan untuk media cetak pun berkurang 13%. Produsen media cetak juga berkurang sebesar 23%. Nielsen mencatat ada 168 media cetak 2013, namun merosot tajam menjadi hanya 192 media pada 2017.

Lihat Juga

Jadikan Media Sebagai Arena Perang Hancurkan Hoax

KITA bicarakan lagi perihal berita atau informasi hoax yang beberapa tahun terakhir ini telah merusak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x