Beranda » Humaniora » Derap Kebangsaan XXV: Media, Awalnya Didirikan oleh Para Pejuang
Drs. HM. Idham Samawi (ft. Ist)

Derap Kebangsaan XXV: Media, Awalnya Didirikan oleh Para Pejuang

DRS. H. IDHAM SAMAWI

Untuk ke sekian kali, saya sampaikan apresiasi kepada jajaran PWS atas komitmennya terkait dengan menatap masa depan NKRI yang lebih baik, apalagi ketika akhir-akhir ini perjalan-an bangsa ini pada titik-titik yang sangat berbahaya. Saya akan tetap mengingat-kan setiap kali ketemu dengan para mahasiswa untuk jangan lupa selalu membaca Pembukaan UUD 1945. Karena apa? Kalau Batang Tubuhnya, saya tidak menyarankan untuk didalami habis-habisan, paling tidak Pembukaan UUD 45. Karena di situ spirit NKRI kita berbangsa bernegara itu, semuanya tertuang di dalam Pembukaan UUD 1945.

Sekali lagi, saya juga ingin mengutip Alenia ke-4 Pembukaan UUD 45 kurang lebih, kita merdeka agar dapat membentuk pemerintahan negara yang dapat melindungi segenap bang-sa Indonesia, serta tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bang-sa, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan sosial.

Berarti apa? Dengan kata lain tugas pokok fungsinya Presiden RI dan DPR RI ya empat perkara itu. Karena tadi, untuk membentuk pemerintahan. Pemerintahan itu siapa? Separohnya Presiden, separohnya DPR RI yang tadi, empat perkara tadi. Nah, untuk mewujudkan itu, eksplisit tidak bisa ditafsirkan lain selain berdasarkan Ketuhanan YME, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indo-nesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

 

Hanya Pancasila yang Mampu

Dengan demikian, urusan berbang-sa, bernegara dalam semua kehidupan kesehariannya tidak boleh lepas dari lima perkara ini, lima sila tadi. Termasuk apa? Sekalipun itu ada media mainstream, lalu media yang belakangan baru muncul dan sebagainya, tidak boleh lepas dari itu.

Sekarang ini ada organisasi, yang saya bersyukur ketika dia sudah dibubarkan. Jelas-jelas organisasi ini dibubarkan karena mencoba mau mengganti yang lima ini. Bahasa saya, saya siap diskusi 30 hari 30 malam dengan mereka itu. Konkrit saja namanya Hizbut Tahrir Indonesia, atau HTI. Saya siap diskusi 30 hari 30 malam dengan mereka kalau mereka menganggap ada ideologi lain selain Pancasila yang mampu mempersatukan Sabang Merauke, Miangas Pulau Rote. Jadi kalau diganti ideologi lain, sebut salah satu ideologi apa saja namanya, pasti akan cerai-berai.

Hanya Pancasila yang mampu mempersatukan. Beberapa kali dalam pertemuan saya sampaikan, Pancasila ini kalau dijejerkan dengan budaya Aceh, budaya Batak, budaya Minangkabau, budaya Pasundan, budaya Jawa, budaya Bugis, budaya Bali, bahkan budaya Papua, pasti tidak akan benturan. Karena apa, Pancasila ini digali dari buminya Indonesia. Ini khususon untuk adik-adik, kalau teman-teman yang senior semua sudah paham. Nah, saya meyakini, yang hadir di sini, tidak ada yang sama seperti HTI tadi, yang mau mencoba mengganti Pancasila. Mohon maaf ya, saya muslim. Tapi ketika dia mengusung khilafah yang mohon maaf, sekian ratus tahun yang lalu itu sudah bubar ideologi itu, sudah tidak berfungsi lagi.

Nah, kita mau dipakai coba-coba. Saya meyakini PWS hari ini dan diskusi-diskusi kebangsaan yang sebelumnya, dan saya meyakini sampai akhir zaman diskusinya PWS dalam upaya tadi. Meyakinkan, lebih meyakinkan khususnya adik-adik mahasiswa yang muda-muda ini, bahwa hanya Pancasila yang mampu mempersatukan Indonesia kita Sabang Merauke, Miangas Pulau Rote.

 

Indonesia, Besar dan Kaya

Adik-adik mahasiswa, ini sudah yang ke sekian kali, saya kalau berbicara di Papua, di Makassar Sulawesi, Maluku bahkan sampai ke Sumatera dan seluruh NKRI kita selalu saya memberikan contoh yang mudah dipahami. Nah, adik-adik mahasiswa ada yang sudah sampai ke Jepang? Kalau kita naik pesawat terbang dari Jakarta ke Tokyo, itu butuh waktu 7 jam. Tergantung pesawat terbang kita mau melawan angin atau didorong angin. Kalau pesawat terbang kita didorong angin, mungkin 7 jam kurang 15 menit sampai. Tapi kalau pesawat terbang kita melawan angin, mungkin 7 jam lebih 20 menit, baru sampai. Rutenya mana saja kita harus terbang minimal di atas empat negara. Tujuh jam terbang tadi, minimal harus terbang di atas empat negara. Kalau kita naik pesawat terbang yang sama dari Sabang sampai Merauke kurang lebih 10 jam. Di atas berapa negara? Satu negara. Sabang Merauke itu negaranya namanya NKRI. Sepuluh jam di atas satu negara. Tadi Jakarta Tokyo 7 jam terbang rutenya mana saja, minimal terbang di atas 4 negara. Hanya tujuh jam. Ini 10 jam hanya di atas satu negara. Ya, tergantung tadi, melawan angin atau didorong angin. Tapi kurang lebih 10 jam itu. Negara yang besar sekali ini sugihe ora umum, kaya raya, luar biasa. Apa yang tidak dimiliki oleh bangsa ini. Kalau ketemu orang asing yang datang ke Indonesia, dia bukan tanya apa yang Anda miliki, ya to? Yang tidak Anda miliki apa? Semuanya punya kita. Lalu pertanyaan adik-adik, Pak Idham, katanya kaya raya, kita punya gas, minyak, batu bara, mineral, emas, lha kok kita agak repot sekarang? Kenapa begitu kan, katanya kaya raya. Gedhe kaya raya. Tapi kok agak repot sekarang?

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVI: Setiap Tahun di Dunia, Hutan Seluas Jawa Hilang

Adik-adik harus tahu, bahwa sumber daya alam kita ini sudah terlanjur diga-daikan. Mulai menggadaikan pertama kapan? Adik-adik juga calon pemimpin juga harus tahu, April 1967. Apa itu? Pertama kali ditandangani kontrak karya dengan Freeport. Freeport itu makanan apa itu? Jadi ada gunung di Papua yang isinya emas. Bayangkan. Mulai digali 1967, sampai hari ini 52 tahun. Nah, tadi 52 tahun digali, yang satu gunung ini belum habis. Hari ini ditemukan emas di Banyuwangi, ditemukan emas di Kabupaten Selu-ma Bengkulu, ditemukan emas di Kabupaten Sumbawa, ditemukan emas di Muara Teweh Kalteng. Kita semua bersyukur untuk ketemunya baru hari ini.

Tapi kita bersyukur tahun 2017 satu kontrak karya habis. Ya saya sebut saja lah, Blok Mahakam, itu yang pegang namanya Total. Total itu perusahaan Perancis. Nah, oleh Presiden yang satu ini dinasionalisasi. Jadi Freeport itu kontrak karyanya 40 tahun. Lho kok Pak Idham ngerti? Lha kan sekarang DPR lagi ngerti. Harusnya habis tahun 2007, ning wingi diperpanjang pendhak 10 tahun, 10 tahun dan seterusnya. Blok Mahakam habis nasionalisasi. Kemudian Blok Rokan di Sumatera. Yang megang siapa itu Blok Rokam? Cevron. Cevron itu siapa? Amerika, dinasionalisasi. Sebentar lagi Freeport dan seterusnya. Itu bagian kalau kita bicara tentang nasionalisme. Itu bagian kalau kita mengatakan cinta kepada tanah air. Itu bagian kalau kita mengatakan cinta kepada bangsa dan negara.

 

Pancasila Tak Lagi Diajarkan

Adik-adik sekalian, cinta kepada bangsa dan tanah air, tidak bisa datang begitu saja dari langit. Adik-adik harus meyakini karena ini negara gedhe. Nah saya tidak tahu sekarang ini pelajaran Pancasila tidak lagi diajarkan di semua jenjang pendidikan. Khusus pelajaran Pancasila. Di semua jenjang pendidikan tidak lagi diajarkan ilmu bumi. Sehing-ga ada orang yang mengatakan Jawa Tengah luwih gedhe saka Malaysia. Mabuk itu. Yang berikutnya pelajaran sejarah tidak diajarkan lagi di bangku sekolah. Saya khawatir ini semua by design. Ada yang mendesain supaya apa, bangsa ini jangan mengenal perjalanannya sejarah bangsa ini. Bangsa yang besar, yang 1.400 tahun yang lalu, Sriwijaya itu wilayahnya tidak hanya Sabang Merauke bahkan sampai semenanjung Malaka dan seterusnya. Dan 700 tahun kemudian diulangi lagi oleh Majapahit, yang wilayah kekuasaannya tidak hanya Sabang Merauke bahkan sampai Madagaskar, Afrika.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XXIII: Calon Pemimpin tidak Kenal Sejarah Bangsanya

Adik-adik harus tahu. Itu cikal bakalnya bangsa ini. Bangsa yang sangat besar. Majapahit kekuasaannya pernah, wilayahnya sepertiga dunia. Amerika hanya seberapa. Waktu itu polisinya dunia, waktu Majapahit. Karena apa, karena pada hari ini tidak lagi diajarkan sejarah. Saya khawatir, ini nanti calon pemimpin kehilangan arah, sampai kita ketika bicara urusan media.

Adik-adik juga harus tahu seputar tahun 45, 50, 60, 70, media didirikan waktu itu bukan oleh pemodal, tetapi didirikan oleh pejuang. Bisa dibayangkan, ada koran yang terbit tahun 45 ketika itu menerbitkan koran didol sapa sing tuku? Tidak ada manusia yang beli. Tapi karena semangatnya untuk mengabarkan tentang proklamasi kemerdekaan diterbitkan juga koran itu, atau media itu. Nah belakangan baru, nuwun sewu, nomer siji dhuwit, nomer loro rupiah, nomer telu uang. Urusannya sudah urusan rezeki. Termasuk kayak penjajahan, Bung Karno mengatakan itu urusan rezeki, diperhalus oleh Bung Karno. Tapi intinya apa, wong njajah itu mbangun jalan, nggaji polisi dan sebagainya, berat biayanya, tapi yang dinikmati semua sumber daya alam sing isa diangkut jadi, menjadi pasar bagi penjajah. Industri dari yang menjajah tadi.

Saudara-saudara sekalian, nanti berbicara urusan media, khususnya power point, Mas Imam Anshori Saleh nanti yang akan bicara. Beliau ini saya ingat betul, suatu ketika dapat hadiah karena tulisannya mendapat hadiah untuk kunjungan ke USA. Tahun berapa Mas Imam? Tahun 1985? Waktu itu bayangkan orang mau ke Amerika isih angel banget. Mas Imam dibiayai karena tulisannya memenangkan kontes tulisan dan seterusnya. Dan beliau juga PWS, ini, paham betul bagaimana mestinya pers Indonesia. Sekalipun itu dikatakan apa, media sosial bahwa kita tidak boleh ketinggalan zaman, dan sebagainya.

Tapi menurut saya, tidak bisa bebas itu sak udele dhewe. Bebas itu diterjemahkan dengan telanjang, bukan itu. Kita punya ideologi yang namanya Pancasila, walaupun mestinya implementasi Pancasila dikinikan, jangan misalnya, berbicara tentang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sila kelima berbicara sejah-tera, jangan ukuran sejahtera tahun 1945 diberlakukan sejahtera tahun 2019. Tahun 1945 ya yang penting bisa makan. Perkara makannya sehari mungkin dua kali. Tapi sejahtera tahun 2019 mungkin kalau bisa menyekolah-kan anak-anaknya ke perguruan tinggi. Nanti sejahtera tahun 2100 mungkin sudah ada pergeseran.

Nah, menjadi tugas kita bersama, dan saya meyakini PWS mencoba melakukan kajian bagaimana imple-mentasi Ketuhanan YME sampai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, kekiniannya. Kurang lebihnya saya mohon maaf. (SEA)

Lihat Juga

Derap Kebangsaan XXV: Tenggelamnya Media Arus Utama

Kemajuan teknologi Informasi tak bisa dihindari sekaligus membawa perubahan pada media. Apa yang sebelumnya kita …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *