Senin , 14 Oktober 2019
Beranda » Pendidikan » Material Gamelan dan Konteks Budaya
Ilustrasi gamelan jawa (ft. wikipedia)

Material Gamelan dan Konteks Budaya

Empu Gamelan, seorang pembuat gamelan ternama Yogyakarta, Ki Trimanto Triwiguna (alm) malah menyebut, gamelan itu berasal dari kata gembel  (seperti gada, bindhi, senjata pemukul-penggebug). Cara membunyikan gamelan ditabuh dengan pemukul mirip gembel, digembel-gembel, yang dalam perkembangannya berubah lebih simpel dan mudah diingat, digamel. Sesuatu yang digamel, gamelan. Ulasan perihal gangsa dari ga dan sa juga diakui Trimanto sebagai sumber rujukan lahirnya sebuatan Gamelan untuk perangkat instrumen musik Jawa tersebut.[1] Suatu keterangan di Serat Centhini, disebutkan bahwa arti dari gamel itu nyekeli atau memegang. Bunyi gamelan mengumandang karena ditabuh dengan tangan. Artinya, gamelan itu komposisi musik perkusi, berbunyi karena dipukul-pukul menggunakan pemukul yang dipegang tangan.

Penelusuran etimologis, sering dipadukan dengan penelusuran arkeologis. Adanya relief wujud instrumen gamelan sebagaimana dikenal sampai masa sekarang, dalam pengaruh masa Hindu-Buda,  masa kerajaan Mataram Hindu, memang ada tapi terbatas. Secara sosiologis tidak cukup data mengenai cara alat musik semacam gamelan itu dimainkan. Telusuran dari sisi ini angat terbatas, untuk mengatakan tidak ada, sumber yang menyebut bagaimana memainkan instrumen tersebut sebagai alat musik, apalagi deskripsi adanya “komposisi nada dan irama” tertentu. Tidak tak ada yang terbaca. Baru setelah tradisi reportase relief percandian beralih ke dalam reportase tulis dalam lembar lontar, runutan keberadaan “gamelan” menjadi makin terkuak. Bahkan beberapa naskah menyebut adanya bagian khusus dalam istana (Majapahit) yang mengurus seni hiburan untuk kalangan istana, yang tentu saja ada bunyi-bunyi bersifat musikal. Disebut adanya suling, saron, demung, dan sebagainya, termasuk mulai dituliskannya lirik-lirik yang mungkin masih bersifat mantram daripada lirik tetembangan.

Diduga kuat, sejak alat musik gamelan dikenali sebagai karya budaya masyarakat dari relief, bahan baku bilah-bilahnya diduga kuat berasal dari logam, yang ditempatkan di atas satuan konstruksi kayu atau bambu. Logam menyertai perjalanan peradaban sejak masa kuno, sehingga pengetahuan peleburan logam menjadi pengetahuan otentik. Terlebih-lebih penempaan logam diupayakan hingga mencapai atau menjelma menjadi sumber bunyi musikal, memenuhi kebutuhan akan nada-nada. Arah bahwa bilah gamelan terbuat dari perunggu, logam mulia strata ketiga setelah emas dan perak, sebenarnya dapat dilacak dari masa peradaban masyarakat yang disebut jaman perunggu.  Bahkan keahlian cor logam sudah dikenal sejak 2000 sebelum Masehi. Artinya, tradisi mengenal logam dan perlakuan terhadapnya untuk memenuhi kebutuhan peradaban manusia sudah membarengi pertumbuhan peradaban itu sendiri.

Gamelan, alat musik dari logam, yang dimanfaatkan untuk memenuhi hasrat dan kebutuhan manusia, dalam konteks gamelan sebagai alat musik atau berseni, meski masa sebelumnya sangat spesifik untuk iringan ritus persembahan. Dalam posisi demikian, maka gamelan bukan sebatas perkakas material melainkan juga infrastruktur budaya yang kompleks dari dataran tata nilai sampai pemenuhan kebutuhan profan yang bersifat penghiburan (lelangen). Karena itu, gamelan juga bagian dari simbol status sosial dan budaya. Keahlian dan keterempilan memainkannya, akan menambah dan memperkuat keluhuran peradaban di atas gengsi sosial dan kedudukan kultural dalam masyarakat. Gamelan berada dalam wilayah sosial yang memiliki fungsi kultural tinggi. Bahkan, dalam beberapa hal, gamelan atau kemampuan ngrawit, adalah bagian dari upaya proses pembangunan kepribadian, sebagaimana pula dalam menari dan membatik. Gamelan terkait dengan pembentukan karakter.

Jika ditilik dari aspek infrastruktur material, gamelan adalah teknologi metalurgi plus. Dikatakan plus karena bukan sebatas perkara pencairan logam (perunggu) hingga layak tempa, layak bentuk, melainkan sampai dengan menjadikan bentuk bilahnya (wilahan dan pencon) mampu menjadi sumber bunyi bersifat musikal. Suatu metalurgi seni. Pada pembuatan tosan aji, senjata tajam dari logam, seperti keris dan tombak, agak berbeda. Pengecoran, pembakaran, penempaan bilah-bilah senjata tidak berpuncak pada suntikan potensi bunyi melainkan diakhiri dengan penciptaan tangguh dan pamor yang terlukis ke dalam bilah. Metalurgi keris ke arah karya visual, dan metalurgi gamelan ke arah karya auditif. Itulah kenapa logam perunggu lebih dipilih, ya karena berpotensi lebih dalam menghasilkan bunyi dibanding dengan bahan logam kuningan (CuZn, singen) ataupun besi (Fe). Kedua logam yang disebut terakhir ini juga banyak digunakan untuk membuat gamelan.

Tradisi pembuatan gamelan sebagaimana masih bisa dijumpai pada abad ini, belum sangat berubah dari tradisi pendahulu. Meskipun sudah sangat sering adanya keinginan membuat gamelan lewat cara cetak, namun peleburan dan penempaan berulang atas logam tidak mudah ditinggalkan karena “memasukkan” bunyi musikal ke dalam bilah gamelan bukan perkara sederhana. Gamelan tidak serta merta bisa diproduksi dalam skala industri, cepat dan masif. Rahasia pencapaian kualitas bunyi sebagai alat musik perkusi, sesuatu yang rumit meskipun dikerjakan dengan cara-cara sederhana, ditempa berulang-ulang. Gamelan bukan hasil kerja mesin melainkan hasil kerja tangan dengan sentuhan rasa hati melalui pemanfaatan sensitivitas indera pendengaran. Gamelan yang dibuat dengan cara tempa, lebih nyaring dibanding yang hanya dicor.

Simak juga:  Kyai Haji Mas Mansur dan 'Penolakan' Gamelan

Ki Trimanto Triwiguno, almarhum, adalah empu pembuat gamelan yang pernah dimiliki Yogyakarta. Sehari-hari bekerja sebagai guru, tetapi tekun mewarisi keahlian orangtuanya, Ki Kartowiguno. Dalam makalah yang ditulisnya untuk Proyek Javanologi (1983) menyebutkan, bahwa pembuatan gamelan itu memerlukan peralatan sebagai berikut:

 

  1. Rumah Besalen, rumah beratap tinggi, bercerobong asap, bahan-bahan bangunan rumah tidak mudah terbakar, mudah dibikin terang dan dibikin gelap, jauh dari tetangga atau pemukiman, kalau bisa dekat sungai yang mengalir tetapi tidak meluap ketika banjir. Rumah Besalen, rumah tungku api, pengecoran, dan penempaan. Semacam ruang kerja pandhe gamelan.
  2. Prapen, tungku api. Prapen berada dalam Besalen, terdiri dari prapen besar untuk membakar badan gong, prapen sedang untuk membakar logam baku kempul-kenong, dan prapen kecil untuk membakar jenis wilahan.
  3. Kelengkapan Prapen meliputi, (1) suling atau pipa-pipa besi, (2) tumpukan batu bata merah, (3) tonggak-tonggak berupa potongan-potongan besi beton eyser dalam jumlah cukup, (4) potongan bambu-bambu untuk menyambung suling, (5) lamus dari kulit kambing berbentuk selongsong, yang berfungsi digerakkan untuk memompakan angin ke perapian, (6) tandhes atau poros dari batu hitam keras tahan pukul, (7) mendhan dari batu. Alas tempa ini sering disebut pula sebagai Tandhes dan Mendhan berguna untuk alas menempa bilahan gamelan. Tandhes dan Mendhan dari batu hitam lebih baik ketimbang dari besi karena lambat dalam menyerap panas dan kalau kena pukul tempa seperti ngeper (mendat, Jawa) sehingga palu penempa akan terangkat ke atas selepas terantuk di atas lakar (badan) calon bilah gamelan yang ditempa, (8) angel dari besi potongan rel kereta api sebagai alas pengungkit material gamelan, (9) cukat, batang pengungkit dari besi baja untuk memutar-mutar lakar gamelan yang sedang dibakar, (10) sapit, atau cepit, digunakan untuk menjepit lakar gamelan yang sedang ditempa; (11) plandan, mirip dengan bak air (kulah) haris tengah sekitar 1,5 meter kedalaman 1 meter. Kulah harus diisi penuh dan gunakan untuk merendam bilah gamelan yang sudah jadi (disepuh); (12) kowi semacam panci dari tanah dicampur arang sekam, dalam berbagai ukuran. Kowi ini untuk menempatkan logam calon bilah gamelan, semacam alat penempat sesuai ukuran bilah atau pencon gamelan yang diharapkan; (13) palu, dalam berbagai jenis dan fungsinya; (14) ladok, jenis tandhes khusus untuk gamelan berjenis pencon; (14) pelepah pisang, untuk alas gamelan yang berat, (15) tumbak, potongan bambu yang digunakan untuk mengatur kemiringan badan gamelan jenis pencon ketika sedang dikerjakan tempa sisi bahu/punggungnya. Tumbak juga digunakan untuk mengatur saat gamelan disepuh ke dalam kolah, (16) colok, bambu belah kecil-kecil yang disiapkan untuk menjadi obor penerang ke arah lakar kenong, kempul, gong, dan bonang sudah selesai dibuat; (17) kolong, lingkar besi beton eyser yang digunakan untuk menyangga (krak) bagian belakang gamelan jenis pencon selesai ditempa dan siap masuk ke kolah; (18) tapas, pembalut pelepah kelapa yang digunakan sebagai peredam panas saat tangan memegang mengoperasikan cepit; (19) singen, batu hitam yang permukaannya dibuat cekung untuk penuangan cairan logam bakalan gamelan jenis pencon, (20) malam,  cairan untuk melapisi permukaan singen sebelum dituang cairan logam. Selesai cairan perunggu dituang, langsung ditaburi sekam, (21), daun pohon randu, ditumbuk halus untuk melenturkan lamus. Lamus harus lemas agar dapat digerakkan sebagai pemompa udara ke parapian, (22) arang jati, untuk bara api saat bilah gamelan dalam fase tempa; (23) peralatan untuk sekrap, alat sentuhan akhir pada bilah atau pencon gamelan yang sudah jadi, seperi kikir, grenda, patar, kesik, gergaji besi, amplas, dan sebagainya, (24) bur besi, untuk membuat lubang pada badan gamelan untuk masuk paku dan peluntur saat nantinya dipasang di rancakan gamelan, (25) tanggem, berbagai ukuran untuk menjepit gamelan,  (26) petak, potongan kayu sebagai alat bantu perbaikan permukaan gamelan gong atau kempul agar bisa dilaras, ditemukan capaian nadanya.[2]

 

Begitu banyaknya peralatan yang digunakan, memperlihatkan bahwa pembuatan gamelan merupakan kerja yang melibatkan begitu banyak keahlian berurutan, melibatkan banyak orang, kerja tim dalam komando otoritas tunggal empu gamelan. Konon, sekurangnya dibutuhkan 12 orang yang bekerja membantu sang empu. Semua memerlukan ketelitian campuran bahan, masa pembakaran, masa penempakan, masa pembentukan, semua terukur sehingga bisa menapis bayangan gagal, sampai dengan nantinya menciptakan bunyi musikal dari bilah atau pencon yang dihasilkan. Belum lagi, beragam jenis intrumen yang harus dibuat sesuai ukuran proporsional, dan target bunyi musikal yang akan dihasilkan. Sejak dibuat, gamelan sudah merupakan “orkestrasi kerja fisik, rasa, dan pikiran.” Keahlian, keterampilan, kecerdasan, dan pengalaman teramu menjadi satu kekuatan menemukan jati diri “rasa gamelan”, rasa gending, pengolahan, pakem wirama sejak dalam pembuatan.

Simak juga:  Darmogandhul, Pesan Islam dalam Pemahaman Jawa

Menurut Ki Trimanto Triwiguno, sesaji yang sering disediakan saat mulai membuat gamelan adalah, (a) nasi tumpeng dikitari nasi golong, jenang abang-putih, kuluban, telur ayam secukupnya; (b) jajan pasar komplit; (c) sarana sesaji berupa ayam hidup, kelapa utuh, gula kepala satu tangkep, kembang telon dan boreh, beras kacang ijo, Lombok abang, brambang, bawang, dalam takir; (d) Empu membakar kemenyan dan disertai doa.

Semua anggota tim langsung mengerjakan tugas persiapan sesuai dengan bagian masing-masing. Kekompakan kerja tim kunci keberhasilan pembuatan gamelan. Penyiapan bahan baku tembaga dan timah putih (salaka), 10:3 harus tepat timbang dan kualitas. Kedua bahan 10:3 tersebut dilebur untuk kemudian dituangkan ke dalam singen langsung ditaburi sekam padi. Ketika sudah dingin, sudah menjadi perunggu, logam campuran itu dipecah. Siap menuju proses berikutnya, membuat bilah atau pencon gamelan. Berat bahan ditimbang,  sesuai dengan ukuran gamelan yang akan dibikin. Proses lebur, cetak, panas ulang, tempa, panas, tempa, seterusnya sampai dianggap cukup dan selesai, selanjutnya menunggu saat yang tepat untuk proses “pemberian nada” oleh Sang Empu.

Ada satu hal yang unik, cerita Ki Triwiguno, yaitu saat cairan gong dalam proses mendingin di cetakan, tidak boleh ada yang berseliweran di dekatnya, tidak boleh terkena getaran gerakan atau suara keras, karena jika selama proses cairan perunggu gong terganggu getaran suara dapat menyebabkan calon gong itu gagal tempa, gagal dibentuk, dan rusak karena tidak akan menghasilkan bunyi yang bagus sesuai yang diinginkan. Pengetahuan dan pengalaman ini bukan hanya sebuah anggapan melainkan memiliki argumen yang jelas secara nalar. Resiko gagal dalam pembuatan gong cukup besar. Karena itu sering ada yang mengatakan, pekerjaan dengan tantangan besar, resiko besar biasanya akan memperoleh pendapat yang besar. Tidak demikian halnya dengan pembuatan gamelan. Disamping resiko gagal proses, pembuat gamelan juga memiliki resiko besar kesehatan, baik paru-pernafasan, kulit tubuh, penglihatan mata dan pendengaran, maupun urat-urat tangan. Lebih dari itu, juga resiko investasi. Modal besar, produk tidak bisa cepat dijual, sehingga apabila mengambil modal dari kredit komersial dana bank akan sangat berisiko. Tidak aneh, jika pembuat gamelan selalu menunggu order dengan uang muka yang memadai.

Mengapa perunggu, karena perunggu memiliki titik mampu tempa pada suhu 350 derajat Celcius sebagai batas agean mealt logam ini. Empu Triwiguno menjelaskan, kurang atau lebih dari suhu itu, kurang atau lebih agean mealt-nya,  perunggu akan dalam keadaan tidak layak tempa. Perunggu dengan campuran yang memenuhi “komposisi gangsa” saat agean mealt akan memperlihatkan kelakuan logam yang mudah dibentuk sebagai gamelan dan nantinya berpotensi mudah “dimasuki” bunyi nada yang diinginkan. Jadi perunggu adalah logam yang tepat untuk gamelan. Ternyata juga banyak digunakan dalam pembuatan karya seni patung, karena watak logam ini.

Pengetahuan dasar pembuatan gamelan, pengalaman dasar proses pembuatannya, dari mencampur logam, pembakaran dan penempaan, pembentukan dan pemberian nada bunyinya merupakan kekayaan pengetahuan spesifik yang jarang dimiliki bangsa lain. Karena instrumen musik perkusif dari logam yang cukup banyak jenis, bentuk, fungsi, dan produksi nadanya, hanya dimiliki oleh perangkat gamelan, warisan budaya bangsa Indonesia. Keragaman sumber bunyi dari gender, slenthem, saron, peking, demung, bobang, kethuk, kenong, kempul, dan gong yang terbuat dari logam dalam tataran wilayah nada slendro dan pelog, dalam cakupan nada wantah, barung, bem, dan penerus, pun pula dalam bentuh wilah atau pencon,  mampu dipadukan dengan instrumen berbahan kayu (gambang), kawat (siter), gesek (rebab), kulit (kendhang), dan tiup (suling) menjadikan suatu orkestrasi yang jelimet, rumit, dan canggih dalam menghasilkan komposisi karawitan agung. Dari balik susunan material fisiknya, tersimpan sekumpulan besar nilai dan pengetahuan etika dan estetika kehidupan.

Pengetahuan luhur tentang gamelan tidak terbatas cara memainkannya menjadi orkestrasi karawitan derajat tinggi sebagai karya seni auditif, tetapi juga menyangkut proses pembuatannya, proses pemberian nadanya, proses merawat nadanya, proses perawatannya sebagai karya material, menajemen pemanfatannya sebagai karya seni maupun aset komoditi, sampai dengan manajemen perdagangannya. ***

PURWADMADI

 

[1] Ceramah Ki Trimanto di Kantor Proyek Javanologi, Jl. Cik Di Tiro 6 A Yogyakarta, 11 November 1983. Waktu itu disampaikan topik “Membuat dan Merawat Gamelan” dalam suatu dikusi terbatas yang sering diselenggarakan oleh lembaga di bawah Balitbang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tersebut. Kebetulan Penulis  mengikuti diskusi tersebut.
[2] Dijelaskan secara rinci dalam makah tersebut, sedangkan teks ini disarikan sebagai bagian dari sajian untuk memperlihatkan bahwa kerja pembuatan gamelan adalah kerja besar kebudayaan yang melibatkan begitu banyak sumberdaya keahlian, keterampilan, dan pengalaman. “Teknologi gamelan” adalah warisan karya budaya bangsa yang tak ternilai harganya.

Lihat Juga

Kyai Haji Mas Mansur dan ‘Penolakan’ Gamelan

PERNAH membaca buku ini? Buku berjudul “Rangkaian MUTU MANIKAM dari KYAI HADJI MAS MANSUR”. Ini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *