Kamis , 20 Juni 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (9)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (9)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Akan tetapi, baru sekitar setahun keceriaan dan peningkatan kehidupan itu kurasakan, bencana itu datang merenggut Mas Bim dari sisiku. Merenggutnya dengan paksa. Merenggutnya dengan kejam. Merenggutnya dengan cara yang sangat menyakitkan.

Andaikan saja tak ada bencana itu. Andaikan saja Mas Bim tidak mereka renggut dariku, aku tentu tak akan menghuni kamar ini. Aku tentu tidak akan menjalani hari-hari yang sunyi dan pahit di sini. Dan, aku tentu tidak akan berpisah dengan anak-anakku.

Hidup sendiri tanpa Mas Bim, apalagi tanpa penghasilan apa-apa, membuat hidupku benar-benar terasa berat. Padahal Mas Bim tidak meninggalkan banyak orang uang. Seperti yang dijanjikannya, ia memang sempat menabung di bank. Tapi, jumlah tabungannya tidak banyak. Hanya sekitar satu juta rupiah.

Apa yang mampu kuperbuat dengan uang sebanyak itu? Dapatkah aku memenuhi keinginan Mas Bim untuk membawa Gagah dan Wanda menjadi orang-orang yang berhasil kelak?

Ingin rasanya aku bekerja untuk mengatasi semua persoalan yang kuhadapi. Tapi bekerja sebagai apa? Aku tak punya keterampilan apa-apa. Sekolah pun aku hanya tamat SMP. Apa yang bisa kuandalkan dengan ijazah SMP-ku itu? Perusahaan apa yang mau menerimaku?

Ingin aku bekerja di perusahaan-perusahaan garmen, karena kebetulan aku bisa juga menjahit, tapi bagaimana dengan Gagah dan Wanda? Siapa yang akan menjaga mereka di rumah? Siapa yang akan mengantar dan menjemput Gagah dari sekolah? Padahal sebentar lagi Wanda juga sudah mulai akan masuk TK. Ah, siapa pula nanti yang akan mengantar si kecilku itu ke sekolahnya? Ingin mencari pembantu, uang dari mana pula untuk membayar gajinya?

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (36)

Tiga bulan setelah kepergian Mas Bim, aku mulai berpikir untuk pulang ke desa saja. Apalagi masa kontrak rumah tempat tinggalku itu hanya tinggal sebulan lagi. Dengan kondisi seperti ini, dengan statusku yang sudah janda, rasanya berat buatku untuk mengontraknya lagi. Kebetulan pula seminggu sebelum itu kuterima surat adikku yang di desa.

“Apa Mbak tidak punya niat untuk pulang ke desa saja?” tanya adikku di dalam suratnya.

Pertanyaan adik perempuanku itu sempat membuatku gelisah selama bermalam-malam. Setiap menjelang tidur, pertanyaan itu seakan terus berputar-putar di pikiranku.

Akhirnya kuputuskan untuk pulang ke desa. Pulang ke desa ke, dan berkumpul lagi dengan ayah dan ibuku yang sudah tua. Kupikir, inilah putusan yang paling tepat kuambil untuk keluar dari belitan persoalan yang kuhadapi. Dengan pulang ke desa.

Sementara ke saudara atau keluarganya Mas Bim, rasanya hal seperti itu tak mungkin dapat kulakukan. Ayah dan Ibu Mas Bim sudah lama meninggal. Hanya tinggal beberapa saudaranya. Dua orang adiknya Mas Bim berada jauh di Sumatera dan Sulawesi. Sedangkan satu-satunya saudara perempuan Mas Bim yang di Yogya tinggal di desa lain.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (35)

Sayangnya, sejak beberapa tahun terakhir hubungan Mas Bim dan saudara perempuannya itu tidak begitu akur. Jadi, kupikir tidak pada tempatnya aku datang mengadukan kesulitanku kepadanya.
Satu-satunya pilihan ya datang ke Ayah dan Ibu di desa. Sudah lama aku tak mengadu dan mengeluh kepada mereka berdua. Atau menumpahkan tangis seperti saat kecil dan remaja dulu, setiap kali aku mendapatkan persoalan.

Aku berharap, Ayah dan Ibu dapat menghibur dukaku. Dapat mengurangi beban derita di batinku. Dapat mengurangi kepedihan karena kepergian Mas Bim. Dapat mengobati lukaku. Dapat kembali membangkitkan semangatku.

“Besok kita ke makam Papa,” kataku kepada Gagah dan Wanda saat mengantar mereka ke tempat tidur.

“Ke tempat Papa, Ma?” Gagah mempertegaskannya lagi.

“Ya,” anggukku.

“Mau ketemu sama Papa?” tanya si kecil Wanda polos.

“Kita mau pamitan sama Papa.”

“Pamitan ke mana, Ma?” tanya Wanda lagi.

“Pamitan pulang ke desa.”

“Ke desanya, Mama?”

“Ya.”

“Ke tempatnya Kakek dan Nenek?”

“Ya, kita pindah ke rumahnya Kakek.”

“Bagaimana dengan sekolahnya Gagah, Ma?” seperti ada protes di pertanyaan Gagah ini.

“Mas Gagah bisa pindah sekolah di desa. Lagi pula, sekolahnya tidak jauh dari rumah Kakek ” bujukku.

“Wanda nanti sekolah di dekat rumahnya Kakek juga?” ini pertanyaan Wanda.

“Tentu saja sayang,” jawabku. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (51)

Entah mengapa dadaku bergetar ketika Mas Bram duduk di tempat tidur, di sebelahku. Lebih-lebih lagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *