Rabu , 27 Maret 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (8)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (8)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Mungkin ia sudah jenuh berpindah-pindah kerja, sehingga kemudian Mas Bim memutuskan untuk berwiraswasta sendiri saja.

“Aku berhenti lagi, Ma,” kata Mas Bim suatu petang.

“Berhenti bekerja, maksudnya?” tanyaku setengah terkejut.

“Ya.”

“Kok?”

“Aku tidak betah juga bekerja di situ.”

“Lantas, mau pindah kerja ke mana lagi?”

“Untuk sementara aku ingin berwiraswasta sendiri dulu.”

“Wiraswasta apa?”

“Sedang kupikirkan, wiraswasta apa baiknya. Kita kan punya tabungan sedikit yang bisa dijadikan modal.”
Setelah istirahat sekitar dua minggu di rumah, Mas Bim kulihat mulai punya kesibukan.
“Aku mencoba bisnis jual-beli mobil dan motor sekarang,” jelasnya sehabis sarapan pagi.

“Mobil dan motor bekas?”

“Ya.”

“Semacam makelar?”

“Bisa juga begitu. Artinya bisa jadi makelar atau perantara, bisa juga beli mobil dengan uang sendiri kemudian dijual lagi.”

Sejak berbisnis mobil bekas, rejeki Mas Bim memang membaik. Meskipun dibanding sebelumnya, bisnis itu membuat waktunya lebih banyak berada di luar rumah. Bahkan kadang-kadang pulang sampai hampir menjelang pagi.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (3)

Kehidupan kami sedikit lebih meningkat. Rumah tempat tinggal yang kami sewa itu atas persetujuan pemiliknya pelan-pelan diperbaiki dan direhab di sana-sini. Kemudian di ruang tamu mulai ada meubel ukir Jepara yang bagus serta seperangkat kursi sudut yang sebelumnya tak terbayangkan dapat terbeli. Perabotan-perabotan rumah tangga yang sebelumnya hanya ada di angan-anganku, satu demi satu mulai mengisi rumah. Dan yang jelas, Mas Bim bersama aku dan anak-anak sering bepergian dengan mobil yang berganti-ganti.

Belakangan kuketahui pula, Mas Bim tidak sekadar bisnis jual-beli mobil. Ia mulai punya kesibukan sambilan yang lain.

“Aku hanya sekadar memenuhi permintaan tolong dari orang-orang yang memerlukan bantuan jasaku. Mereka hanya minta aku untuk menagih piutang-piutang atau uangnya yang masih ada pada orang lain dan sulit ditagih,” jelas Mas Bim ketika kutanyakan tentang kesibukan barunya itu. “Uang jasa menagih itu lumayan juga,” tambahnya.
“Jangan terlalu memaksa diri. Kesehatanmu harus dijaga juga, Mas. Semenjak sibuk dengan pekerjaan yang sekarang ini, waktu untuk istirahat atau tidur hampir tidak pernah ada,” kataku.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (16)

“Yang penting, aku harus mencari dan mengumpulkan uang demi Gagah dan Wanda nanti. Kita harus punya tabungan untuk masa depan mereka. Aku ingin Gagah dan Wanda nanti punya pendidikan tinggi dan bagus. Tidak seperti ayahnya yang hanya tamatan STM ini. Aku ingin mereka bisa kuliah. Biar bisa jadi dokter atau insinyur, atau apalah. Pokoknya punya gelar sarjana,” ujar Mas Bim.

“Apa selalu berhasil bila menagih hutang-hutang itu?” tanyaku.

“Ya, harus berhasil.”

“Kok, harus? Kalau yang ditagih kebetulan sedang tidak punya uang untuk membayarnya?”

“Ya, dia harus berusaha sebisa mungkin mencari uang untuk membayarnya. Yang penting, tugasku menagih jangan sampai gagal. Sebab, dari keberhasilan menagih itulah jasa uangnya kuperoleh.”

“Apa bisnis jual-beli mobilnya sudah mulai seret?”

“Tidak juga. Masih biasa-biasa saja. Tapi kita kan tidak harus puas dengan penghasilan itu saja. Kalau ada kesempatan lain yang memberikan pemasukan uang, dan aku bisa melakukannya, kenapa tidak dilakukan.” (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (18)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana Masih teringat jelas pertemuanku dengan Surti sore itu. Tanpa kuduga, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *