Rabu , 27 Maret 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (7)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (7)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Deru suara mobil ambulans di halaman rumah membebaskanku dari sembilu pertanyaan anakku itu. Aku bangkit dan bergegas ke luar.

Di depan pintu, jeritku tak terkendali lagi begitu melihat orang-orang mengeluarkan peti jenazah dari dalam ambulans.

Lalu kurasakan tubuhku seperti berputar-putar dan melayang. Samar-samar sempat kulihat beberapa orang menangkap tubuhku. Setelah itu, gelap. Aku pingsan.

“Tabahlah, Jeng,” kata Bu Irah saat menjelang jenazah Mas Bim akan dimakamkan sambil menuntunku.
Berpuluh-puluh kata yang sama kudengar.

Aku sudah mencobanya. Aku sudah mencoba untuk tabah menghadapi musibah dan cobaan berat seperti itu. Seperti halnya, aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis ketika jenazah Mas Bim dimasukkan ke liang kubur.

Aku sudah berjuang. Berjuang semampuku. Berjuang untuk tabah. Berjuang untuk tetap tegar menghadapi peristiwa yang tragis dan menyakitkan. Berjuang untuk menerima dan pasrah dengan kepergian Mas Bim.

Tapi, aku kalah. Ya, aku kalah. Kalah dengan menyakitkan. Aku tak berdaya dalam perjuangan itu. Aku tak berdaya menghadapi dera dan badai dalam kehidupan.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (11)

Aku lemah. Sangat lemah. Kekuatanku seakan-akan hilang sama sekali. Hingga akhirnya aku sampai pada sikap dan keyakinan bahwa ketabahan tak mampu mempertahankan hidupku. Ketabahan tak mampu menceriakan hidupku. Ketabahan tak mampu menghapus duka anak-anakku.

Dan, aku terpuruk. Terpuruk dalam kehidupan yang sesungguhnya sangat tidak kuinginkan. Kehidupan yang kubenci. Kehidupan yang kelu. Kehidupan penuh sandiwara. Kehidupan palsu.

Kematian Mas Bim yang tragis dan mendadak seperti itu benar-benar merupakan pukulan berat buatku. Betapa tidak. Dengan kepergiannya, berarti aku telah kehilangan seseorang yang selama bertahun-tahun telah menjadi gantungan hidupku. Seseorang yang bertahun-tahun yang telah menjadi dermaga bagiku untuk menyandarkan rasa duka dan bahagia.

Mas Bim memang sandaran hidupku dan anak-anakku. Dan, Mas Bim sudah berusaha sekuat mungkin untuk menjadi sandaran kehidupan di dalam keluarga. Aku tahu persis, bagaimana Mas Bim bekerja dan berjuang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Di awal pernikahan kami, Mas Bim bekerja di sebuah perusahaan. Menjelang anakku pertama, Gagah, lahir, Mas Bim pindah kerja ke perusahaan lain. Aku tidak tahu persis apa penyebab kepindahannya. “Aku hanya cari pekerjaan yang lebih baik dan gaji yang lebih tinggi,’ kata Mas Bim memberi alasan kepindahannya ketika itu.

Simak juga:  Pelacur pun Berhak Bergembira....

Ternyata, di tempat kerjanya yang baru itu, Mas Bim hanya bertahan setahun. Setelah itu ia pindah lagi. Kemudian pindah lagi. Pindah lagi. Dan, pindah lagi. Seingatku ada lima kali Mas Bim pindah kerja.

“Kenapa pindah kerja lagi, Mas?” tanyaku ketika ia sudah pindah kerja yang keempat kalinya.

“Aku tak betah kerja di perusahaan yang semena-mena seperti itu. Perusahaan yang hanya ingin memeras keringat karyawannya. Perusahaan yang hanya mementingkan keuntungan pemiliknya saja, tapi menelantarkan kesejahteraan pekerjanya. Dulu, aku memang tertarik dengan janji-janji akan mendapatkan gaji atau penghasilan yang lumayan. Tapi, ternyata itu palsu. Hanya omong kosong. Kenyataannya tak berbeda jauh dengan apa yang kuperoleh dari perusahaan semula,” ujarnya. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (18)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana Masih teringat jelas pertemuanku dengan Surti sore itu. Tanpa kuduga, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *