Sabtu , 7 Desember 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (64)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (64)

Sentuhan di bibir itu terjadi berulangkali. Setiap kali kurasakan sentuhan, setiap kali pula aku membalasnya.

“Bagaimana kalau kain-kain di badanmu ini dilepas?” bisik Mas Pras di telingaku.

Aku tahu apa yang ia maksudkan.

“Terserah Mas Pras sajalah,” kataku bermanja.

Mas Pras tanggap dengan apa yang kukatakan. Ia tidak banyak bicara lagi, tapi langsung berbuat. Aku pasrah. Aku ikhlas. Dan, aku tenggelam dalam kehangatan pelukannya.

Kehangatan itu merasuk ke seluruh tubuhku, seakan mengalir bersama aliran darahku, dan berdenyut seiring denyut jantungku. Kehangatan itu teramat menyenangkan. Kehangatan itu membuatku bahagia. Sangat bahagia. Sampai aku lupa, bila di luar, di ruang tamu, ada Mas Bram yang sedang menunggu.

Karena kelelahan, kami sama-sama tertidur. Ada perasaan damai dan tenteram di hatiku, manakala tidur di samping Mas Pras. Apalagi berada di dalam pelukan tangannya.

Seperti sebelumnya, kali ini aku dan Mas Pras kembali terjaga setelah mendengar bunyi lonceng tanda komplek sebentar lagi akan ditutup.

“Loncengnya sudah berbunyi,” kata Mas Pras. “Rasanya baru beberapa menit di sini loncengnya sudah berbunyi,” tambahnya.

“Kalau aku yang jadi pengelola di komplek ini, akan kusuruh agar lonceng itu dibunyikan menjelang pagi saja,” timpalku diiringi tawa.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (55)

Mas Pras ikut tertawa.

Setelah selesai membersihkan diri dan merapikan pakaian, Mas Pras minta diri.

“Jadi pulang hari Rabu, kan?” tanya Mas Pras setelah berpamitan dan mencium keningku.
Aku mengangguk.

“Kalau begitu kujemput ke sini sekitar pukul sembilan pagi,” ujarnya.

Ketika kubuka pintu kamar, mendadak aku ingat lagi dengan Mas Bram. Masihkah dia menunggu? Mas Pras keluar lebih dulu. Aku menyusulnya dengan perasaan bimbang, kalau-kalau Mas Bram masih tetap menunggu di kursi tamu.

Betapa lega hatiku setelah mengetahui tidak ada Mas Bram di kursi tamu itu. Yang ada hanya Warni, Lisa dan Erna.
Sehabis mengantarkan Mas Pras sampai ke halaman kopel, aku buru-buru menghampiri Warni.

“Sudah lama dia pergi?’ tanyaku langsung kepada Warni.

“Siapa?” Warni bergaya tidak tahu.

“Mas Bram,” sergahku.

Warni tertawa.

“Belum begitu lama,” katanya.

“Ya, sekitar setengah jam lalu,” timpal Lisa.

“Kasihan dia, menunggu sampai berjam-jam di sini,” ujar Warni.

“Salahnya, kok menunggu orang yang sedang ngamar. Kenapa tidak masuk dengan yang lain saja?” seru Erna.
Warni tertawa lagi. Lisa juga.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (48)

Ada perasaan menyesal juga mengetahui Mas Bram lama menunggu di ruang tamu. Perasaan menyesal itu terbawa sampai aku masuk lagi ke dalam kamar.

Baru beberapa menit di kamar, Warni datang menyusul.

“Mas Bram tadi begitu setia menunggumu. Tadinya aku ikut menemaninya di kursi tamu, tapi kemudian kutinggal karena tamuku datang. Sampai tamuku keluar, Mas Bram masih tetap menunggu. Tapi, lama-lama dia mungkin lelah juga menunggu. Setengah jam sebelum Mas Pras keluar, Mas Bram baru pergi,” ujar Warni setelah duduk di sebelahku.

“Tapi, tidak ada yang menceritakan soal Mas Pras, kan?” tanyaku.

“Kelihatannya tidak.’

“Kalau dia tahu, siapa Mas Pras, tentu dia akan lebih kecewa lagi.

“Akan tetapi, lebih baik kecewa sekarang, daripada nanti.”

“Tetapi, seharusnya dia tidak perlu kecewa. Seharusnya dia tahu bahwa ini komplek pelacuran. Jadi, seharusnya hilangkan perasaan senang yang berlebihan di sini.”

“Mudah-mudahan dia tahu hal itu. Dan, mudah-mudahan dia tidak punya perasaan apa-apa terhadapmu, kecuali hanya perasaan sebagai seorang tamu biasa yang hanya ingin bersenang-senang. Itu saja.” (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x