Jumat , 22 November 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (63)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (63)

Kangen berat? Ha, kata-kata seperti ini dulu selalu diucapkan Mas Pras kepadaku. Dan, sepuluh tahun lebih kemudian, kata-kata seperti itu diucapkannya lagi. Kalau dulu, hatiku berbunga-bunga mendengarkan kata-kata yang menyenangkan seperti itu. Kini pun demikian. Mendengarkan ia mengatakan “kangen berat”, hatiku yang sedang digelisahkan dengan keberadaan Mas Bram di luar pun menjadi berbunga-bunga. Rasanya aku kembali menjadi gadis remaja belasan tahun. Gadis remaja yang sedang terbuai asmara. Terbuai cinta remaja yang penuh pesona.

“Ah, kau seperti dulu saja, Mas,” kataku sambil menaikkan kaki ke atas tempat tidur.

“Apanya yang seperti dulu?”

“Kata-kata Mas Pras tadi.”

“Kata-kata yang mana?”

“Yang baru saja Mas Pras ucapkan.”

“Yang mana, Sum?”

“Kata-kata kangen berat itu, lho.”

“Masak iya. Padahal aku sudah lupa dengan yang dulu-dulu. Lupa dengan apa saja kata-kata yang ketika itu pernah kukatakan. Tentunya kata-kata yang dulu selalu kukatakan kepadamu.”

“Dulu, kalau bertemu Mas Pras selalu bilang — aku Kangen berat lho, Sum. Sekarang, kata-kata seperti itu Mas Pras ucapkan lagi. Hanya bedanya, dulu kata-kata seperti itu diucapkan ketika aku masih remaja belasan tahun. Kini, kata-kata itu diucapkan lagi setelah aku menjadi janda dan penghuni di komplek ini.”

“Kau masih mengingatnya to, Sum?”

“Ya, mana bisa aku melupakannya.”

“Kupikir, hal-hal seperti itu sudah kau lupakan.”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (47)

“Nyatanya tidak kan, Mas? Nyatanya aku masih tetap ingat.”

“Ah, kau jadi mengingatkanku pada yang dulu-dulu.”

“Mas Pras juga telah mengingatkanku pada masa lalu. Mengingatkan pada desa, dan pada anak-anakku.”

“Kau ingat dan kangen pada anak-anakmu, Sum?” tanya Mas Pras sembari tangannya menggenggam jari-jemariku.
Aku terdiam. Aku hanya menunduk. Sesaat melintas bayangan wajah anak-anakku, Gagah dan Wanda.

“Kau kangen pada mereka?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk.

“Ya, aku rindu pada mereka,” jawabku lemah.

“Kalau begitu pulanglah dulu ke desa. Temui anak-anakmu. Kalau kau takut pulang sendiri, biar kuantarkan. Sekalian aku ingin pulang juga. Bagaimana?”

Terus terang, betapa senangnya hatiku mendengar kesediaan Mas Pras untuk mengantarkanku pulang ke desa.

“Bagaimana, Sum? Kau setuju bila kuantarkan pulang ke desa?”
Lagi aku mengangguk.

“Sekarang tentukan waktunya. Besok, lusa atau kapan?”
Aku lalu menimbang-nimbang, mencari hari yang tepat untuk pulang ke desa. Besok, lusa atau kapan?

“Kalau tiga hari lagi, bagaimana Mas Pras? Sebenarnya aku lebih suka bila lebih cepat lagi. Misalnya, langsung besok. Tapi, kalau besok, aku belum mempersiapkan diri untuk membawa _oleh-oleh_. Padahal si Wanda dulu pesan dibelikan boneka. Jadi, kalau tiga hari lagi, aku kan masih ada waktu untuk mencarinya di Malioboro,” ujarku.

“Baiklah kalau begitu. Kita pulang tiga hari lagi, kan?”

Di luar, di ruang tamu, terdengar derai tawa Wiwien dan Erna. Entah apa yang mereka tertawakan. Di antara derai tawa mereka, sama sekali tidak terdengar suara Mas Bram. Apakah ia masih menunggu di luar? Masih tetap betah duduk di kursi tamu? Atau sudah pergi ke kopel lain? Sementara dentangan lagu dangdut dari kopel tetangga suaranya seakan menyeruak masuk ke dalam kamarku melalui celah-celah di pintu.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (38)

Di dalam kamar, Mas Pras mulai menarik lenganku.

“Dari tadi kau duduk terus. Apa kau tidak ingin berbaring di sampingku?” katanya disertai lontaran senyum.
Aku juga tersenyum.

“Berbaringlah, Sum,” katanya lagi.
Ak pun menuruti perintahnya. Kurebahkan diriku pelan-pelan di sampingnya.

“Mulai besok kau harus sampaikan rencanamu untuk pulang melihat anak-anakmu di desa itu kepada pengelola atau pemilik kopel ini. Sebab, kalau kau katakan mendadak, pemilik kopel jadi akan bertanya-tanya,” ujar Mas Pras.

“Jadi, kita berangkatnya hari Rabu?” tanyaku.

“Ya. Nanti, kau kujemput ke sini.”

Malam terus berjalan. Tanpa terasa sudah sekian puluh menit waktu berlalu dalam keasyikan berbincang-bincang. Kurasakan tangan Mas Pras meremas-remas jari-jemariku. Remasan itu semakin hangat. Semakin punya arti.
Lalu, Mas Pras mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mataku terpejam, menunggu apa yang akan dilakukannya. Terasa ada yang menyentuh di bibir. Sentuhan itu begitu lembut. Begitu romantis. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x