Jumat , 22 November 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (61)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (61)

MALAM Minggu yang kutunggu itu tiba. Sejak sore aku sudah bersiap-siap menunggu kedatangan Mas Pras. Aku mandi lebih awal dari biasanya. Warni hanya tertawa melihat tingkahku itu.

“Ha….. gara-gara sang pangeran mau datang, sang putri pun mandi lebih awal,” ujar Warni disertai derai tawa.

“Ah, kau ini tidak suka kalau melihat teman senang,” kataku.

Entah mengapa aku ingin berdandan secantik mungkin. Entah mengapa pula, aku ingin tampil cantik dan penuh pesona di mata Mas Pras. Aku ingin Mas Pras memujiku. Seperti yang dulu sering dilakukannya setiap pagi mengantarkanku ke sekolah.

“Wah, kau cantik sekali pagi ini,” puji Mas Pras suatu pagi, sepuluh tahun lebih yang lalu. Betapa berbunga-bunganya hatiku menerima pujian seperti itu.

Malam ini, jika Mas Pras datang, aku berharap ia akan kembali memberi pujian kepadaku. Memuji penampilanku. Memuji dandananku.
Sehabis berdandan, aku langsung duduk di bangku teras. Di teras sedang tidak ada siapa-siapa. Beberapa menit kemudian, Warni datang menyusul.

“Wah, dandananmu berbeda dengan hari-hari biasanya. Kecantikanmu terlihat sekali sore ini, Yat,” seru Warni seraya duduk di sampingku.

“Ah, kau bisa-bisa saja, War.”

“Aku berkata sungguh-sungguh. Berkata apa adanya. Sore ini kau benar-benar cantik. Hari-hari biasanya kau ya tetap cantik, tapi sore ini sangat luar biasa. Tidak heran kalau Mas Pras jatuh cinta padanya.’
Senyumku mengembang mendengar pujian Warni.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (44)

“, Coba kau setiap sore berdandan secantik ini, wah, pasti semua tamu yang ke sini akan mencarimu,” tambahnya.

“Tidak berdandan cantik pun, sudah banyak kok yang mencariku,” aku bergurau.

“, Termasuk lelaki gendut itu, kan?” tawa Warni berderai.
Aku pun tidak mampu menahan tawa.

“Ah, kau ini ada-ada saja, War. Kenapa pula kau bawa-bawa lelaki gendut yang kubenci itu?” ujarku sambil mencubit lengan tangannya.
Tawaku dan tawa Warni berderai jadi satu.

“Kau yakin sekali Mas Pras akan datang malam ini?” tanya Warni.

“Ya, aku yakin. Soalnya, Mas Pras itu setahuku tidak pernah ingkar janji. Aku yakin, dia akan datang menepati janjinya.”

“Bagaimana kalau lelaki gendut itu ternyata datang lebih dulu dari Mas Pras!” pertanyaan Warni ini di luar perhitunganku.
Aku agak tergagap juga.

“Ah, kau jangan doakan bahwa lelaki gendut itu akan datang, War. Bisa kacau semua nanti,” kataku.

“, Aku bukan mendoakannya agar ia segera datang. Justru aku juga berdoa agar Mas Pras itu yang segera datang. Aku hanya bertanya soal seandainya lelaki gendut itu yang lebih dulu datang. Nah, kalau lelaki gendut itu yang lebih dulu datang, bagaimana?”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (62)

“Akan kubiarkan saja. Akan kukatakan jika aku mau pergi keluar.”

“Andaikan saja dia bersikeras mengajakmu ke kamar?”

“Tetap akan kutolak.”

“Seandainya tetap memaksa?”

“Ya, tetap akan kutolak.”

“Bila dia marah, bagaimana?”

“Ya, silakan marah. Aku tidak akan terpengaruh.”
Warni tertawa mendengar kata-kataku. Aku juga ikut tertawa.

“Itu kan bila si lelaki gendut itu. Bagaimana bila yang datang lebih dulu ternyata Mas Bram?”

“Aku tetap akan menunggu Mas Pras.”

“Lantas bagaimana dengan Mas Bram?”

“Akan kukatakan terus terang bahwa aku sudah janjian dengan tamu lainnya.”

“Dia tentu akan sangat kecewa. Akan sangat terpukul,” kata Warni lagi.

“Kenapa harus kecewa? Kenapa harus merasa terpukul? Di komplek pelacuran seperti ini, hal seperti itu kan biasa”.

“Menurutmu sih begitu. Tapi, kalau dia jatuh cinta padamu, bagaimana?”

“Kenapa pula harus jatuh cinta? Di komplek pelacuran, hal seperti itu kan harus disingkirkan. Tidak ada cinta-cintaan.”

“Ah, kau ini bisanya bicara seperti itu, Yat. Padahal, kau sendiri cintanya selangit kepada Mas Pras itu ”

“Yang ini berbeda. Bila aku jatuh cinta pada Mas Pras, itu hanya sekadar menyambungkan lagi tali cinta yang dulu pernah ada.” (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x