Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (6)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (6)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

“Istirahat’ saja dulu di kamar. Biar saya dengan Mbak Wanti serta lainnya yang mempersiapkan segala sesuatunya. Istirahatlah sana,” ujar Bu Irah.
Kuturuti saran Bu Irah. Tapi di dalam kamar, mataku tertumbuk kepada wajah sendu dua buah hatiku, Gagah dan W, yang duduk berdampingan di ujung tempat tidur.
Air mataku tumpah lagi. Kupeluk keduanya erat-erat. Kupeluk dengan perasaan yang mengharu-biru.

“Mama menangis?” tanya ini datang dari Gagah.
Rasa pilu menusuk.

“Menangisi Papa?” tanyanya lagi.
Kurengkuh lagi keduanya.

“Tapi, Papa sudah mau pulang kan, Ma?” giliran Wanda yang bertanya.
Hatiku seperti teriris-iris. Perih. Teramat perih.

“Ya, sayang…..,” jawabku sesenggukan.

Dari dalam kamar, terdengar kesibukan para tetangga membantu menata kursi-kursi di halaman rumah. Disusul suara kursi-kursi di ruang tamu dipindahkan. Lalu, terdengar risik tikar-tikar digelar. Entah siapa yang berinisiatif menggerakkan para tetangga seperti itu. Dan, entah siapa pula yang telah mencari pinjaman kursi-kursi.

“Kenapa banyak tamu, Ma? Kenapa para tetangga itu berkumpul di rumah kita? Mau apa. Ma?” tanya Gagah kembali muncul.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (17)

“Mereka semua mau menunggu Papa datang? Iya, Ma?” susul Wanda.

Aku mengangguk dengan perasaan perih. Ingin kukatakan bagaimana yang sesungguhnya, tapi begitu memandang kepolosan wajah kedua buah hatiku itu, lidahku menjadi kelu dan kerongkongan ku terasa tersayat.

“Jam berapa datang jenazahnya?” terdengar ada suara perempuan yang bertanya, sepertinya salah seorang tetanggaku juga.

“Mungkin sebentar lagi. Sekarang Pak Darman sedang ke rumah sakit untuk mengambilnya,” suara Bu Irah yang menjawab.

“Kasihan ya, Mas Bim…..”

“Ya, padahal anak-anaknya masih kecil.”

“Kasihan istrinya. Mas Bim pergi dengan keadaan yang menyedihkan seperti itu.”

“Gusti Allah sudah mentakdirkan begitu.”

“Apa pembunuh-pembunuhnya sudah tertangkap?”

“Ya, nggak mungkin ditangkap to, Mbakyu.”

“Lho, kok?”

“Soalnya, seperti dimuat di koran itu, yang menembaknya adalah petugas.”

“Maksudnya, polisi, tentara atau apa?”

“Ya, entah. Entah polisi, entah tentara, entah satpam. Di koran itu tidak ada penjelasannya. Cuma disebut petugas. Itu saja.”

“Tapi, petugas kan tetap bisa ditangkap bila memang salah. Membunuh orang itu tetap salah, lho.”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (9)

“Huss, ngomongnya jangan keras-keras. Soalnya ini agak ruwet, Mbakyu.”

“Ruwet? Ruwet bagaimana?”

“Ya, ruwet. Persoalan Mas Bim ini agak ruwet. Apa Mbakyu belum baca koran hari ini?”

“Wah, di rumah saya tidak ada koran. Apa yang diberitakan koran itu?”

“Menurut berita di koran, Mas Bim itu gali. Petugas itu datang mau menangkap Mas Bim, tapi ia melawan, hingga kemudian ditembak.”

“Ah, apa benar begitu?”

“Ya, entah. Yang mengatakan seperti itu kan surat kabar.”

“Kok, rasanya tidak mungkin.”

“Ya, rasanya saya tidak yakin dengan kebenaran berita itu.”
Gagah menengadahkan pandangnya ke arahku. Juga Wanda melakukan hal yang sama. Bola mata mereka penuh tanya.

“Ma, jenazah siapa yang mau datang?” tanya Gagah.
Aku tak kuasa menjawabnya. Air mataku berurai lagi.

“Jenazah siapa, Ma? desak Gagah lagi. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (45)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana Seusai Mas Pras mandi, giliran aku yang ke kamar mandi. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *