Minggu , 21 Juli 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (58)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (58)

Di teras memang tidak ada siapa-siapa. Namun di ruang tamu berkumpul beberapa orang. Ada Mami Narti, Wiwien, Erna dan Lisa. Dan, darahku tersirap. Lelaki itu juga berada di situ! Warni yang menyadari hal itu cepat-cepat menarik lenganku. Tapi terlambat. Aku sudah berada persis di mulut pintu kopel.

“Dari mana saja kalian?” sapa Mami Narti.

Aku tidak menjawab, hanya Warni yang tampak gugup dan gelisah.
Aku melangkah mendekat ke kursi tamu. Aku tidak tahu bagaimana keadaan dan gambaran di wajahku. Yang kutahu, dadaku seperti bergejolak. Debar di dadaku seperti suara gemuruh badai. Sementara Warni masih tetap berusaha menahan langkahku.

“Jangan mendekat, Yat,” suara Warni setengah memohon. “Yat, aku mohon, jangan ”

Tetapi, langkahku sudah tidak tertahan.

Aku berhenti persis di dekat meja menghadap ke lelaki itu. Entah bagaimana wajah Mami Narti melihat sikapku, karena mataku hanya tertuju kepada lelaki pembunuh suamiku tersebut.

“Yat, jangan emosi. Aku mohon, jangan,” suara Warni masih kudengar memohon.

Kata-kata Warni yang memohon itu memang telah menyentak semua yang berada di kursi tamu itu. Napas mereka semua seperti tertahan.

“Masih ingat saya?” tanyaku tak ramah kepada lelaki itu.

Merasa pertanyaanku tertuju kepadanya, lelaki berkemeja kotak-kotak dan bercelana jeans yang duduk di samping Lisa itu langsung mendongakkan wajahnya ke arahku.

“Siapa, ya?!” lelaki itu seperti berpikir berat.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (45)

“Ingat dengan lelaki yang dibunuh di dekat kolam di belakang rumahnya?” suaraku masih tetap tidak ramah dan wajahku juga pasti memerah seperti dibakar bara amarah.

“Dibunuh di dekat kolam?” ia semakin heran.

“Ya,” lalu kusebut hari, tanggal, bulan, tahun, dan lokasi tempat kejadian itu terjadi.

Lelaki itu tampak mengerenyitkan dahinya. Wajahnya tampak tegang. Matanya seakan tidak berkedip memandangku.

“Ingat?” tanyaku lagi.

“Ya. Saya ingat. Bimo, kan?” ia mencoba menjawab.

“Nah, kalau begitu, ingat saya tidak?”

“Siapa, ya?!” ketegangan tidak bergeser di wajahnya.

“Perempuan yang sore itu kau temui di depan rumah, ingat?” suaraku kian meninggi.

“Di depan rumah?” ia seperti bertanya dengan dirinya sendiri.

“Siapa, ya?” ia mulai terlihat gelisah, sementara pandangnya tetap tidak beralih dariku.

“Aku, istri dari lelaki yang kau bunuh sore itu!” aku tidak tahu apakah kata-kataku ini seperti gelegar petir atau seperti suara ledakan granat. Yang kurasakan, kata-kata itu seperti terlepas keras dari mulutku.

Dadaku benar-benar sedang bergejolak. Bara api amarah di dalamnya seperti menyala-nyala dan siap membakar siapa pun yang ada di depan. Aku seperti tidak dapat mengendalikan diri lagi. Emosi dan dendam seakan sudah membakar sekujur tubuhku.

Sekilas kulihat semua seperti terperanjat. Lelaki itu terbelalak. Mami Narti, Lisa dan lainnya juga tersentak.
Sementara Warni yang di belakangku, tidak dapat kulihat bagaimana perubahan yang terjadi di wajahnya

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (41)

“Ingat?! Akulah istri Bimo yang kau tembak itu!” aku seperti berteriak.

“Yat, sudah Yat. Jangan berteriak-teriak seperti itu,” ujar Warni memohon seraya menarik lenganku agar mundur.

“Apa?! Apa?!” lelaki itu tampak gugup.

“Jangan pura-pura lupa, bila kau sore itu bertemu denganku sebelum menembak suamiku di dekat kolam!” suaraku masih melengking.

“Tapi….tapi…..,” lelaki itu semakin gugup. Wajahnya tampak tegang sekali.

“Tapi apa? Kau mengingkari telah membunuh Bimo, suamiku, sore itu?” teriakku lagi.

“Sudah…..sudah…., Yat,” giliran Mami Narti mencoba menenangkanku.

“Kau mengingkarinya?!” lagi, suaraku mendesaknya.

“Tapi….saya melakukannya karena tugas. Saya ini petugas. Dan, suamimu itu….”

Kata-katanya terhenti, karena aku dengan cepat memotongnya, “Dan suamiku itu preman, gali. Begitu kan, maksudmu!”

“Ya, memang begitu,” suara lelaki itu mulai keras. Ia seperti merasa mendapatkan angin dengan mengatakan dirinya petugas dari menyebut Mas Bim sebagai preman.

“Tetapi, kau memang menembaknya, kan? Memang membunuhnya, kan?” teriakanku makin keras pula.

” Memang saya yang melakukannya! Tapi saya melakukan hal itu karena saya petugas!”

“Petugas apa?! Petugas kok begitu mudah mudah membunuh. Petugas kok begitu tega menghancurkan kehidupan orang lain. Kalau benar-benar petugas, kenapa berada di komplek ini? Kenapa?! Bukankah tempat ini terlarang bagi petugas! Bukankah petugas dilarang masuk ke komplek ini!” teriakanku beruntun. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (61)

MALAM Minggu yang kutunggu itu tiba. Sejak sore aku sudah bersiap-siap menunggu kedatangan Mas Pras. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *