Sabtu , 14 Desember 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (57)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (57)

Warni tertawa. Tapi suara tawanya nyaris tenggelam oleh irama musik dangdut yang berdentang dari salah satu kopel di dekat warung bakmi.

“Kok tertawa?” tanyaku.

“Ternyata kau masih mencintai Mas Pras. Meskipun kau sudah sempat bersuami, tapi benih-benih cinta terhadap Mas Pras masih ada dalam hatimu,” ujar Warni.

“Bukan soal masih mencintai atau tidak. Tapi, bila disuruh memilih antara Mas Bram dan Mas Pras, ya, aku tentu akan memilih Mas Pras.”

“Karena Mas Pras mantan pacarmu, kan?”

“Ya. Memang seperti itu. Tapi, itu kan tidak berarti aku masih mencintainya.”

“Lantas apa? Cuma sekadar simpati? Sekadar senang saja?”

“Mungkin juga begitu. Mungkin sekadar simpati. Sekadar senang. Tapi, sampai saat ini masih belum melebihi sebatas itu. Karena setidak-tidaknya Mas Pras itu kan pernah dekat denganku. Pernah punya kenangan, dan pernah kucintai. Jadi, bila ia dekat lagi padaku, ini kan akan lebih mudah untuk diterima. Dibanding aku menerima kehadiran Mas Bram.”

Dendang lagu dangdut dari kopel yang memang sedang ramai tamunya itu semakin seru, karena yang terdengar kini adalah lagu dangdut yang berirama disko.

“Tapi, seperti katamu, Mas Bram itu kan mirip dengan almarhum suamimu. Apa kau tidak justru lebih tertarik dengan lelaki yang mirip suamimu itu?” lagi Warni bertanya seraya menyelesaikan bakmi rebusnya.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (21)

“Ah, hanya mirip saja, kok. Bukan yang sesungguhnya. Kalau sekadar mirip, apalah artinya. Justru hanya membuat pikiranku jadi runyam, karena terus-terusan ingat almarhum suamiku. Aku justru tidak bisa tenang. Ketika pertama-tama memang menyenangkan. Setelah itu, kupikir-pikir justru akan membuatku jadi kacau dan tidak bisa tenteram.”

“Eh, apakah di atas tempat tidur dia juga sama dengan almarhum suamimu?” tanya Warni diiringi derai tawa.

“Ya, jelas tidak. Ah, kau ini, pertanyaannya ada-ada saja,” aku juga terpancing untuk tertawa.

“Hebat mana!”

“Ya, masih hebat almarhum suamiku.”

“Kurangnya dalam soal apa? Rayuan, gaya atau apa!”

“Hah, tanya yang lain saja, War.”

“Aku sedang suka dengan pertanyaan ini, kok. Kalau dengan Mas Pras hebat mana!’

“Almarhum suamiku, maksudmu?”

“Bukan. Mas Brsm itu.”

“Ah, entahlah. Aku sulit membandingkannya.”

“Tapi, mana yang paling sreg? Yang paling menyenangkan?” tawa Warni terus berderai.

“Entahlah, War. Kau ini ngaeur saja.”

“Ayo, Mas Bram atau Mas Pras?”

“Tadi kan sudah kukatakan, kalau disuruh milih, aku milih Mas Pras.

“Jadi, lebih hebatan Mas Pras?”

“Husst! Ya, tidak begitu. Sudahlah War, kita bicara yang lain saja,” seruku.
Lagi, ada pembeli yang masuk. Seorang penghuni kopel yang berdekatan dengan warung bakmi dan tamunya. Mereka tampak mesra, seperti layaknya pasangan cinta.

“Ayo War, gantian sama yang lain,” kataku mengajak Warni untuk meninggalkan warung bakmi.
Warni semula tampak ragu. Entah apa yang membuat ia jadi ragu untuk keluar dari warung bakmi itu.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (1)

“Ayo, War,” desakku lagi.
Akhirnya, Warni berdiri juga, dan kemudian membayar harga bakmi dan minuman.

“Kita langsung pulang saja, War,” ajakku ketika sudah di luar warung.

“Langsung pulang?” Warni terlihat ragu.

“Ya, langsung pulang ke kopel.”

“Sebaiknya kita…..”

“Jalan-jalan lagi, maksudmu!”

“Ya. Kita jalan-jalan lagi saja, Yat. Untuk apa buru-buru pulang ke kopel?”

“Ah, pulang sajalah,” desakku.

“Sebaiknya nanti.”

“Kenapa harus nanti!”

“Kalau pulang sekarang, aku khawatir nanti kau bertemu dengan lelaki itu lagi. Kalau ketemu, nanti kau bisa naik darah lagi. Padahal sekarang kau sudah bisa tertawa-tawa. Aku tidak ingin melihat wajahmu seperti tadi. Kau tahu, tadi wajahmu sangat menakutkan. Seperti ingin menelan orang,” Warni masih mencoba tertawa.

“Dia tentu sudah pulang,” kataku.

“Apa mungkin?”

“Sudah dari tadi, kok ”

“Baiklah kalau begitu. Kita lihat dulu. Kalau ternyata dia belum pulang, kita pergi lagi.”

Aku mengangguk.
Aku dan Warni melangkah beriringan ke kopel.

“Kau di sini saja. Biar aku lihat dulu,” kata Warni begitu sampai di jalan depan kopel.

“Aku ikut juga tidak apa-apa.”
Warni tidak bisa mencegahku, ketika mengikuti langkahnya ke kopel. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x