Kamis , 14 November 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (56)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (56)

Warni masih tetap menggandeng tanganku. Kesibukan dan suasana ramai di kopel-kopel, serta tegur sapa para tamu yang berpapasan di jalan seputar komplek itu, tidak mampu menghapus gemuruh di dadaku.

“Kita jajan bakmi saja, Yat,” kata Warni ketika kami berada persis di depan penjual bakmi.

“Tapi aku tidak punya selera untuk makan apa pun.”

“Kalau kau tidak punya selera untuk makan, ya, menemani aku saja. Bagaimana?”
Aku mengangguk.

“Nah, begitu. Kalau begitu kau minum saja,” seru Warni gembira.

Lagi, aku mengangguk. Dan, Warni pun langsung menarik tanganku masuk ke warung bakmi. Kebetulan penjual bakmi itu sedang sepi pembeli.

Meski pun sudah berada di meja warung bakmi, namun pikiranku masih saja tertuju ke lelaki itu. Ke lelaki pembunuh Mas Bim yang kini sedang asyik bersenang-senang dengan Lisa di dalam kamar. Oh Lisa, apakah kau tidak tahu, bahwa lelaki yang sedang bersamamu itu adalah lelaki berbahaya! Lelaki kejam. Lelaki pembunuh!

“Yang santai saja. Jangan tegang seperti ini,” Warni ternyata masih menemukan ketegangan di wajahku.

“Pikiranku masih tertuju ke lelaki itu saja.”

“Untuk sementara lupakan saja dulu. Jangan terlalu dipikirkan. Nanti dirimu bisa stres sendiri.”

“Ah, bagaimana aku bisa melupakannya, War? Bagaimana aku bisa begitu saja melupakan lelaki yang menjadi penyebab hancurnya hidupku, hancurnya masa ceria anak-anakku. Kalau saja aku tidak berjumpa lagi dengannya, tentu kegelisahan seperti ini tidak akan kurasakan.”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (2)

“Maksudku, bukan untuk melupakan selamanya. Lupakan saja dulu untuk saat sekarang ini. Agar pikiran dan hatimu tidak dijejali persoalan-persoalan ruwet. Agar emosimu tidak terlalu ke puncak hingga akhirnya meledak.”

“Akan kucoba. Mudah-mudahan aku bisa melakukannya. Setidak-tidaknya untuk sekarang ini. Tapi, kalau untuk menghapuskan sakit hati dan dendamku, rasanya itu sulit untuk kulakukan. Aku terlanjur dendam dan sakit hati. Dan, sakit hati ini, entah kapan akan sembuh.”

“Cobalah, aku yakin kau bisa.”

Bakmi rebus yang dipesan Warni sudah terhidang. Sementara aku hanya pesan minuman jeruk panas saja.
Ada tiga pembeli yang datang. Kesemuanya lelaki dan muda-muda. Tampaknya mereka tamu-tamu di komplek ini.

Melihat penampilannya, mereka itu seperti mahasiswa.
Mata mereka nakal juga. Dua di antaranya mulai iseng menggoda. Tapi aku dan Warni acuh saja. Tidak bereaksi apa-apa.

“Jangan dilayani, War. Diamkan saja. Nanti bila dilayani, bisa makin kurang ajar,” kataku pelan agak geram.
Warni mengangguk.

“Kau juga, jangan terpancing. Nanti kalau kau terpancing, emosimu meledak lagi,” ujarnya.

Karena tidak ditanggapi, tampaknya mereka tahu diri. Mereka tidak berulah lagi. Hanya terlihat, mereka berbisik-bisik. Tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Aku yakin MQ sedang membicarakan diriku dan Warni. Mereka tentu heran, jika di komplek ini ternyata ada juga penghuni yang acuh dan tidak bereaksi dengan godaan para tamu.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (45)

Biasanya, sebelum digoda tamu, justru para penghuni yang terlebih dulu berusah menggoda dan menarik perhatian.

“Mereka tahu diri juga, Yat,” kata Warni setengah berbisik.

“Untung mereka cepat tahu diri, kalau tidak bisa kulempar dengan gelas jeruk panas ini.”

“Ah, kau masih emosional saja,” Warni tertawa.
Aku juga ikut tertawa.

“Nah, aku senang melihat kau sudah bisa tertawa. Tertawalah lagi, Yat,” seru Warni.

Ternyata tidak sia-sia juga Warni mengajakku pergi. Usahanya untuk meredakan emosi dan gemuruh amarah di dadaku pelan-pelan berhasil juga. Bara dendam di dadaku terasa menyurut. Sesaat pikiranku bisa melupakan lelaki yang bersama Lisa itu. Dan, aku sudah mulai bisa tertawa.

Sambil menikmati bakminya, Warni terus mengajakku berbicara. Ia sengaja menggiring pembicaraan ke persoalan lain. Tidak ke persoalan lelaki pembunuh Mas Bim itu.

“, Kapan Mas Pras akan datang lagi?” kini Warni mulai berbicara soal Mas Pras.

“Mungkin malam Minggu nanti,” jelasku.

“Sudah ada janji rupanya.”

“Aku yang memintanya untuk datang pada malam Minggu.”

“Bagaimana kalau nanti tamumu yang satu lagi juga datang di malam Minggu?”

“Tamuku yang satu lagi? Siapa?”

“Yang kemarin itu, yang menurutmu mirip almarhum suamimu.”

“Mas Bram, maksudmu? Kalau dia juga datang, ya, silakan.”

“Maksudku, kau akan pilih yang mana, bila mereka datangnya bersamaan?”

“Aku akan tetap memilih Mas Pras.” (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x