Kamis , 14 November 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (52)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (52)

Aku hanya tersenyum. Aku tidak tahu pasti, luar biasa seperti apa yang dimaksudkannya. Kupikir, apa yang baru saja kulakukan bersamanya sesuatu yang biasa-biasa saja. Sesuatu yang tidak berlebihan. Sesuatu yang tidak luar biasa.

Memang kuakui, apa yang kurasakan dan apa yang bergejolak di dadaku manakala bersamanya, tidak seperti ketika bersama tamu-tamu yang lain, kecuali Mas Pras. Terus terang, perasaan seperti itu memang hanya tumbuh ketika bersama Mas Pras dan Mas Bram ini. Selebihnya tidak.

“Kenapa tidak dari dulu kutemukan kamar ini,” Mas Bram seperti mengeluh dan menyesali dirinya sendiri.

“Mas Bram sudah sering ke sini?” tanyaku.

“Kalau ke kopel ini baru dua kali. Minggu lalu itu dengan sekarang ini.”

“Ah, masak?” aku seperti tidak percaya.

“Sungguh! Baru dua kali ini saya ke sini.”

“Bertemu dengan saya memang baru dua kali ini. Tapi, sebelum saya di sini, Mas Bram sudah pernah datang ke kopel ini, kan,?”

“Saya berkata apa adanya. Kalau tidak percaya, bisa tanyakan dengan yang lain. Apakah mereka pernah melihat wajah saya di rumah ini?” wajah Mas Bram tampak sungguh-sungguh.

“Tapi, kalau ke komplek ini memang sudah sering?”

“Ya, tidak terlalu sering. Baru beberapa kali saja.”

“Sebelum di sini, sering di kopel mana?”

“Ya, berganti-ganti.”

“Tapi kan punya tempat mampir yang tetap.”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (61)

“Tidak juga. Pokoknya di mana mau mampir, ya, di situlah berhentinya.”

“Kok sekarang memilih berhenti di sini?” tanyaku memancing.

“Karena sudah saya niatkan sejak dari rumah tadi ”

“Kok…?”

“Ya, karena saya ingin menemuimu lagi.”

“Kenapa?”

“Karena sejak bertemu minggu lalu itu, pikiran saya sudah jadi kacau ‘

“Kok, jadi kacau sih?’

“Ya, karena saya tertarik denganmu.’

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Tapi kupikir kata-kata seperti itu dimiliki banyak lelaki yang suka iseng ke komplek ini. Kupikir, rayuan gombal seperti itu, hampir tiap hari terdengar di kopel-kopel dan di kamar-kamar.

Tertarik? Tertarik apanya? Bodinya? Pinggulnya? Atau pelayanannya? Akan tetapi, Mas Bram ini sedang menggombal atau memang berkata sungguh-sungguh?

“Tertarik? Tertarik apanya? Padahal sebelumnya kita belum pernah bertemu,” kataku lagi.

“Ya, tertarik dengan wajahmu. Senyumanmu. Kekalemanmu. Terus terang, di mata saya, kamu ini terlihat beda dengan yang lain.”

“Jangan terlalu tinggi memuji saya. Nanti badan saya bisa langsung membengkak,” ada derai tawaku

“Saya tidak memuji. Saya berkata apa adanya. Kamu memang beda dengan yang lain. Kalau yang lain begitu agresif bila melihat ada tamu datang, kamu justru biasa-biasa saja. Karena itulah, ketika itu saya betul-betul penasaran melihat sikapmu seperti itu. Tapi, sayang ketika itu kamu sedang tidak menerima tamu. Sehingga saya terpaksa harus menunggu beberapa hari lagi. Dan, sekarang inilah saatnya saya datang.”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (7)

Aku ingin tertawa. Namun kemudian tawa itu hanya kusimpan dalam hati. Ternyata dia benar-benar yakin bahwa ketika ia datang pertama kali itu aku sedang punya halangan bulanan, sehingga tidak menerima kedatangan tamu-tamu di kamarku.

“Sehabis dari sini dulu itu, lalu mampir di kopel mana?” lagi aku bertanya untuk mengusir kecanggungan yang Suli kuhilangkan sepenuhnya.

“Saya tidak mampir ke mana-mana. Saya langsung pulang ”

“Ah, masak iya!”

“Saya benar-benar langsung pulang.”

“Kenapa tidak mampir dulu di tempat lain? Bukankah ketika itu di sini, Mas Bram tidak mendapat pelayanan apa-apa. Waktu itu Maa Bram kan hanya ngobrol saja.”

“Bertemu dan berbincang-bincang denganmu saja ketika itu, saya sudah puas. Saya benar-benar lega. Jadi saya pikir tidak ada gunanya mampir ke kopel lainnya.”

“Ah,.Mas Bram terlalu berlebihan memuji saya ”

“Saya rasa tidak. Saya mengatakan apa adanya. Seperti yang saya lihat dan rasakan ”

“Kalau seandainya tadi saya tidak ada, bagaimana?”

“Ya, akan saya tunggu sampai datang ”

Kami ngobrol terus. Banyak hal yang jadi bahan obrolan. Tapi di sela-sela pembicaraan itu, kurasakan tangannya mulai meremas-remas tanganku dan mengelus-elus bagian tubuhku yang lain. Juniar saja gerakan-gerakan tangannya itu. Kubiarkan saja tangannya menjalar. Menjalar. Dan, menjalar. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x