Selasa , 19 November 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (51)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (51)

Entah mengapa dadaku bergetar ketika Mas Bram duduk di tempat tidur, di sebelahku. Lebih-lebih lagi ketika ia tersenyum. Senyuman yang lembut. Senyuman yang sejuk. Senyuman yang lama hilang.

Menghadapi tamu seperti Mas Bram, tamu yang wajah dan senyumnya mirip Mas Bim ini, aku bagai tak mampu berbuat apa-apa. Gerak dan sikapku menjadi serba canggung. Aku jadi gelisah dan risau sendiri.

“Boleh saya berbaring di sini?” tiba-tiba Mas Bram bertanya seperti ini. Pertanyaan ini membuat gemuruh dadaku kian mengencang.

“Boleh?” tanyanya lagi.

Aku baru sadar, jika belum menjawab pertanyaannya.

“Silakan, Mas,” kataku agak tergagap.

Ketika Mas Bram merebahkan badannya, aku jadi kikuk. Seperti tidak tahu harus melakukan apa. Aku jadi ingat saat-saat pertama menjadi penghuni di komplek ini. Saat-saat pertama melayani tamu. Tamu yang masih asing dan belum kukenal. Waktu itu betapa canggung dan kikuknya aku. Tidak tahu harus bagaimana memulai.

Kalau saja wajah dan senyumnya tidak seperti Mas Bim, aku tentu tak segelisah ini. Aku tentu tak secanggung ini.
Kalau saja dia seperti tamu-tamu yang lain, tamu-tamu yang tidak memiliki kesan apa-apa, pikiranku tentu tak menjadi runyam.

“Berbaringlah, masak duduk terus,” ujar Mas Bram kemudian.

Degup di dadaku semakin keras. Terlebih-lebih ketika tatap mataku tertumbuk pandangannya. Ah, tatap mata itu membuat detak jantungku semakin kencang! Semakin kencang. Dan kencang.

“Berbaringlah,” katanya lagi.

Sepertinya aku tidak mendapatkan alasan untuk tidak memenuhi permintaannya. Aku pun berbaring diiringi debat dan gemuruh di dada.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (38)

“Sesungguhnya sudah sejak kemarin saya ingin ke sini,” katanya begitu aku sudah berbaring di sampingnya.

“Saya pikir Mas Bram tidak mau datang ke sini lagi,” aku masih bisa berkata begini meski gemuruh di dadaku belum juga hilang.

“Sejak beberapa hari lalu, saya sudah berangan-angan mau ke sini terus. Tapi saya masih ragu, jangan-jangan kamar ini masih tertutup untuk tamu.”

“Mas Bram bisa saja. Sejak kapan kamar ini tertutup untuk tamu?” kataku diiringi tawa.

“Seperti waktu saya ke sini dulu itu.”

“Tapi, sekarang kan sudah tidak. Sekarang kamar ini sudah terbuka lebar-lebar untuk Mas Bram.”
Mas Bram tertawa. Aku juga.

“Sungguh nih. Memang sungguh-sungguh sudah terbuka untuk saya?”

“Buktinya, Mas Bram sudah di tempat tidur ini.’

Lagi ada derai tawa. Derai tawa kami berdua.

Kemudian hening sesaat. Mas Bram memiringkan badannya ke arahku. Mata kami bertemu. Di dalam tatap matanya kutemukan berangkai kata-kata tak terucap.

Setelah itu kurasakan ada tangan yang menyentuh jari-jemariku. Kurasakan sebuah remasan yang hangat. Lalu, kehangatan itu seakan menjalar ke seluruh tubuhku.

Di luar terdengar ada suara-suara tamu yang datang. Terdengar pula suara tawa Wiwien, Erna dan Aniek.
Sementara di sampingku terdengar suara napas yang memburu. Kulihat Mas Bram menggerakkan tubuhnya. Aku sudah menduga apa yang akan dilakukannya. Mata kupejamkan. Kupejamkan rapat-rapat. Kemudian terasa ada yang menyentuh bibirku.

Semuanya berlangsung cepat. Begitu cepat. Lebih cepat dari apa yang kubayangkan. Dan, lebih cepat dari yang sebelumnya kuperkirakan. Gerakan Mas Bram seakan tidak memberikan kesempatan padaku untuk bernapas leluasa barang sedetik pun.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (39)

Rasanya, aku tidak bisa menceritakan apa yang selanjutnya terjadi. Tapi yang jelas, ketika semua itu terjadi, yang ada dalam bayanganku adalah wajah dan senyum Mas Bim. Aku merasakan seperti sedang bersama Mas Bim lagi.

Bersama di atas tempat tidur. Bersama meneguk kebahagiaan. Bersama meneguk kenikmatan.
Kubayangkan, Mas Bim benar-benar datang. Benar-benar datang dengan membawa segunung kerinduan yang terpendam. Benar-benar datang memberiku kehangatan.

Semua yang dimiliki Mas Bim, kutemukan pada diri Mas Bram. Tidak hanya senyumnya. Tidak hanya wajahnya. Tapi juga kelembutan dan keromantisannya. Seperti halnya Mas Bim, tamu yang kini bersamaku ini juga seorang lelaki yang romantis. Lelaki yang penuh kehangatan. Lelaki yang menggairahkan.

Aku terlena dalam kerinduan. Aku hanyut dalam kehangatan. Bayangan wajah dan senyum Mas Bim membuatku nyaris lupa bahwa aku sesungguhnya sedang bersama lelaki asing, lelaki yang baru beberapa hari kukenal.

Ketika semua gemuruh menyurut dan gejolak di dada mereda, aku baru sadar, bahwa aku sedang melamunkan Mas Bim, almarhum suamiku itu. Melainkan bersama Mas Bram, tamu yang kebetulan wajah dan senyumnya memang mengingatkanku kepada Mas Bim.

“Kau sungguh luar biasa,” ujar Mas Bram setengah berbisik di dekat telingaku, ketika ia sudah dalam posisi berbaring di sampingku lagi. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x