Kamis , 20 Juni 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (50)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (50)

Mas Pras keluar diiringi tatapan mata Aniek, Lisa dan Erna yang masih duduk santai di ruang tamu. Lalu kuantar sampai ke teras. Aku bermaksud mengantarnya sampai ke pintu masuk komplek, tapi Mas Pras mencegahnya.

Ketika Mas Pras melangkah pulang, suasana komplek yang sebelumnya ramai telah mulai menyepi. Tidak ada lagi dendangan lagu-lagu dangdut yang menggema dari kopel-kopel. Kesibukan dan keramaian yang ada hanya terdengar di sekitar tempat parkir sepeda motor dan di mulut pintu komplek.

Begitu kembali ke kamar, Warni langsung datang ke kamarku.

“Wah, luar biasa sekali, Yat,” ujar Warni spontan.

“Apanya yang luar biasa?”

“Kau dan Mas Pras.”

“Kok?”

“Ya, Mas Pras berada di kamarmu dari sore hingga komplek tutup.”

“Ya, namanya saja tamu istimewa, War,” aku mencoba menanggapinya dengan tertawa.

“Apa saja yang kalian perbuat selama itu?” pertanyaan ini bernada canda.

Aku tidak menjawabnya dengan kata-kata, tapi menjawabnya dengan derai tawa.

*

SEHABIS makan siang, entah mengapa aku diserang rasa kantuk yang sangat. Pintu kamar kurapatkan, dan aku pun tidur.

Rasanya baru terlelap beberapa saat, aku sudah terjaga karena mendengar suara ketukan di pintu.

“Yat, ayo bangun,” suara Warni di pintu.

Dengan perasaan malas aku bangun dan membukakan pintu.

“Kamu lupa? Sore ini kan ada pemeriksaan kesehatan, Yat,” seru Warni lagi.

“Oh iya, sekarang hari Kamis, ya?”

“Wah, begitu jumpa Prastyo, kau sudah lupa hari.”

Aku tertawa mendengar ocehan Warni itu.

Setiap Kamis sore di komplek ini memang ada pemeriksaan kesehatan. Semua penghuni atau di komplek ini sebutannya diperhalus menjadi anak didik, diwajibkan untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan tersebut.
Mengikuti pemeriksaan kesehatan merupakan suatu keharusan. Bagi yang sengaja tidak mengikutinya akan mendapatkan sanksi berat. Sanksinya bisa dikeluarkan dari komplek resosialisasi sosial prostitusi.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (20)

“Pemeriksaan kesehatan ini penting demi mencegah terkena penyakit kelamin. Semua penghuni di komplek ini harus bersih dari penyakit kelamin, apa pun jenis dan namanya. Jangan sampai terdengar ada tamu yang sehabis datang ke sini, mengeluh telah terkena penyakit kelamin seperti spilis, GO atau sejenisnya. Jika sampai ada tamu yang mengaku terkena penyakit kelamin di sini, berarti di komplek ini ada penghuninya yang mengidap penyakit kelamin itu. Kalau ada yang mengidap seperti itu, berarti dia tidak mengikuti pemeriksaan kesehatan. Nah, yang seperti ini bisa kena sanksi berat,” ujar salah seorang pengurus komplek resos pada suatu kesempatan yang kata-katanya masih terngiang jelas di telingaku.

Dan, selama menjadi penghuni di komplek resos ini, sekali pun aku belum pernah membolos dalam pemeriksaan kesehatan.

Sepulang dari pemeriksaan kesehatan, tak berapa jauh dari kopel, Warni yang pulang duluan sudah menyambutku.

“Kau sudah ditunggu lho, Yat. Sudah dari tadi menunggunya,” seru Warni.

“Ditunggu? Ditunggu siapa?”

“Ya, ditunggu tamu. Kalau ditunggu kucing, buat apa kusampaikan kepadamu.”

“Tamu siapa, ya?”

“Tamu istimewamu.”

“Tamu istimewa? Ya, siapa? Mas Pras?” aku penasaran.

“Kau lihat saja sendiri, siapa tamu istimewamu itu. Makanya agak cepat langkahmu. Kasihan dia, menunggunya sudah dari tadi.”

Simak juga:  Pasar Kembang Pernah Bersih dari Prostitusi

Penasaran juga aku dibuatnya. Sampai di depan teras kopel, belum terlihat siapa gerangan tamu istimewa yang dimaksudkan Warni itu. Tapi begitu sampai di mulut pintu kopel, baru kutahu siapa gerangan dia. Darahku tersirap.

Tamu yang tersenyum di kursi tamu itu ternyata Mas Bram. Hah!

“Nah, sekarang sudah tahu siapa tamu istimewamu itu, kan,” ujar Warni.

Aku melangkah masuk dengan dada yang bergemuruh.

“Sudah lama, Mas?” sapaku agak tergagap.

“Jangan pakai tanya-tanya lagi, Yat. Langsung ditarik saja,” ledek Wiwien yang sama-sama duduk di ruang tamu bersama Aniek, Erna dan Lisa.

Mas Bram hanya tersenyum. Senyuman itu kembali mengingatkanku kepada Mas Bim.

Ketika aku mau duduk di dekat Mas Bram, Wiwien sudah terlebih dulu menarik lenganku.

“Jangan pakai duduk-duduk lagi. Ayo, Mas ini sudah dari tadi ingin istirahat si kamarmu. Bawa saja segera dia masuk!” seru Wiwien diiringi derai tawa Aniek, Erna dan Lisa.

Aku memang tidak berhasil duduk, karena bukan hanya Wiwien saja yang menarik lenganku, tapi juga Erna ikut-ikutan pula.

Akhirnya aku kalah juga. Mas Bram yang tadinya hanya tersenyum-senyum saja melihat ulah Wiwien dan Erna, justru malah bangkit dari duduk.

“Nah, begitu Mas. Lebih nyaman di dalam kamar, dari pada di sini,” ujar Erna.

“Ayo, Mbak Yat, tunggu apa lagi,” timpal Aniek.

Dengan tersipu-sipu akhirnya aku melangkah ke kamar.

“Nah, begitu,” suara Wiwien setengah berteriak.

Mas Bram mengikutiku ke kamar diiringi tawa Wiwien, Aniek, Erna dan Lisa. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (51)

Entah mengapa dadaku bergetar ketika Mas Bram duduk di tempat tidur, di sebelahku. Lebih-lebih lagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *