Jumat , 22 November 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (5)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (5)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Dan, benarkah para tamu yang datang itu, kemudian membunuh suamiku adalah para petugas? Di surat kabar disebutkan, mereka yang menembak mati suamiku adalah para petugas. Benarkah mereka itu para petugas?

Benarkah? Tapi, aku tak yakin mereka itu para petugas. Sama sekali tak yakin. Ya, mereka bukan petugas! Mereka adalah para pembunuh! Pembunuh suamiku! Pembunuh kehidupanku! Pembunuh keceriaan anak-anakku!

Ruang depan dan halaman rumahku kembali ramai. Para tetangga dan warga sekitar rumahku berdatangan. Beberapa orang di antaranya menemuiku seraya menyampaikan perasaan duka citanya. Lalu, kudengar bisik-bisik tentang berita terbunuhnya Mas Bim di koran itu.

“Menurut berita di koran, Mas Bim itu preman,” ada yang berkata begitu. Suaranya pelan, seakan khawatir kata-katanya terdengar olehku.

“Tapi, setahuku Mas Bim itu orangnya baik,” ada yang menimpali.

Koran yang membuat berita pembunuhan Mas Bim itu berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Sungguh, dadaku terasa amat perih melihat mereka membaca dan membicarakannya.

“Ya, rasanya tak mungkin kalau dia itu gali atau preman. Setahuku orangnya ramah dan tidak pernah membuat keributan di kampung,” ada yang bersuara begitu.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (46)

“Barangkali di kampung Mas Bim memang baik, tapi di luar siapa tahu. Bukankah sudah banyak cerita seperti itu? Tidak sedikit lho, penjahat yang di lingkungan tempat tinggalnya dikenali sebagai orang yang alim, murah hati, ramah dan berjiwa sosial. Siapa tahu, Mas Bim tergolong orang seperti itu. Di sini dia baik, berjiwa sosial, suka menolong, tapi di luar sana ia memang benar-benar preman…..”

“Apa mungkin seperti itu?”

“Mungkin saja. Kenapa tidak?”

“Ah, jangan berprasangka seperti itu.”

“Aku tidak berprasangka. Aku hanya membicarakan berita di koran itu.”

“Jangan-jangan wartawannya salah dalam mengutip informasi.”

“Mudah-mudahan saja begitu.”

Dadaku bagai diserang beribu-ribu jarum kecil menyaksikan dan mendengar pembicaraan-pembicaraan seperti itu.
Aku baru saja menyeka air mata yang tak mampu kutahan luapannya ketika Pak Darman datang mendekat.

“Pak Darman, tolong temani saya ke rumah sakit. Saya ingin membawa pulang Mas Bim ” kataku langsung kepada Pak Darman.

“Sebaiknya jangan, Mbak.”

“Kenapa, Pak? Apa petugas itu juga melarang saya untuk membawa Mas Bim pulang? Saya kan istrinya, Pak!”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (55)

“Oh, tidak. Tidak ada yang melarangnya.”

“Kalau tidak, kenapa saya tidak diperbolehkan ke rumah sakit?”

“Begini. Maksud saya, biar saya dan beberapa orang lainnya yang pergi ke rumah sakit untuk mengambil jenazah Mas Bim. Mbak dan anak-anak di rumah saja, mempersiapkan segala sesuatunya,” jelas Pak Darman.

“Tapi, sesungguhnya saya ingin sekali ikut ke rumah sakit untuk melihat Mas Bim,” suaraku penuh harap.

“Saya tidak bermaksud menghalangi. Hanya menurut saya, sebaiknya biar saya saja dan beberapa warga yang lain mengurus Mas Bim di rumah sakit dan kemudian membawanya pulang. Mbak tetap di rumah saja.”

“Ya, Jeng. Biar Pak Darman saja yang mengurus Mas Bim di rumah sakit,” terdengar suara Bu Irah datang dari arah belakang.

Akhirnya aku mengangguk. Bu Irah lalu menggandeng tanganku masuk ke dalam. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x