Kamis , 20 Juni 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (49)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (49)

Aku lelah. Teramat lelah.
Keringat membasah di tubuhku. Aku bagaikan habis berlari kencang di padang berbukit dan berliku-liku. Badan Mas Pras juga kulihat bermandikan keringat. Aku yakin, ia pun pasti merasakan hal yang sama. Merasa lelah.
Sebelumnya tidak pernah kurasakan rasa lelah yang seperti ini. Sungguh. Maksudku, selama menjadi penghuni di komplek ini, ketika berhubungan dengan tamu-tamu itu tidak pernah kurasakan rasa lelah yang teramat sangat. Rasa lelah yang seakan menjalar di sekujur tubuh.

Kali ini tenagaku bagai tersedot habis. Kekuatanku seakan terkuras seluruhnya. Aku benar-benar merasa lunglai. Seakan kehilangan daya. Bersama Mas Pras, aku memang merasakan rasa lelah yang sangat. Ini terjadi mungkin dikarenakan ketika bersama Mas Pras, aku benar-benar menikmati dan menghayatinya dengan sepenuh hati.

Dengan sepenuh jiwa.
Karena lelah, aku tertidur. Mas Pras juga. Kami sama-sama terlelap. Saling berangkulan.
Entah berapa lama kami terlelap. Aku baru terjaga ketika terdengar suara lonceng berdentang nyaring berkali-kali. Suara lonceng itu sebagai peringatan kepada para tamu bahwa waktunya sudah akan habis. Juga sebagai pemberitahuan agar tamu-tamu yang masih berada di dalam kamar untuk berkemas-kemas keluar, karena sebentar lagi komplek ini ditutup. Sekaligus juga peringatan bagi kopel-kopel agar tidak menerima tamu lagi.

Kulihat jam kecil di meja, jarumnya memang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit malam. Jadi waktu berkunjung di komplek ini hanya tinggal seperempat jam.
Pelan-pelan kubangunkan Mas Pras. Ia lantas terjaga.

“Ada apa?” tanyanya dengan wajah masih dibalut kantuk.

“Loncengnya sudah berbunyi, Mas,” ujarku.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (1)

“Lonceng? Lonceng apa?” Mas Pras tampak heran.

Aku baru sadar, bahwa Mas Pras memang belum mengerti tentang adanya lonceng itu. Aku jadi tersenyum dibuatnya.

“Lonceng apa?” tanyanya lagi.

“Lonceng tanda komplek ini akan segera ditutup. Sekaligus mengingatkan tamu-tamu yang masih di dalam untuk berkemas-kemas meninggalkan komplek ini.”

“Oooo, begitu to? Jam berapa sekarang?”

“Sudah pukul dua belas malam kurang seperempat.”

“Hah, sudah malam to?”

“Mas Pras tidurnya lelap sekali.”

Mas Pras lalu bangun dan duduk. Kusodorkan kain sarung untuk menutupi tubuhnya. Tapi ia masih tampak ragu. Aku tahu, Mas Pras pasti sedang berpikir mau membersihkan badan di mana.

“Mas, kalau mau membersihkan badan di bak kecil itu. Airnya penuh, kok. Juga ada sabunnya,” tunjukku.
Mas Pras tersenyum.

“Aku tidak tahu kalau harus membersihkan badan di situ. Tadi kupikir, aku harus keluar kamar dan menuju ke kamar mandi di luar,” katanya.

Ketika Mas Pras di ruang kecil itu, aku pun berkemas-kemas dan merapikan tempat tidur.

“Maaf ya, Mas

Aku tidak bermaksud menyuruhmu pulang, lho. Peraturannya di sini, kalau sudah tutup dilarang ada tamu yang tidur di dalam komplek. Setelah pukul dua belas malam, komplek ini harus bersih dari tamu. Kalau saja tidak di komplek, aku tentu menginginkan Mas Pras sampai pagi di sini,” kataku ketika Mas Pras sudah mengenakan pakaiannya lagi.

“Aku yang justru minta maaf, Sum.”

“Kok?”

“Karena aku menyita waktumu hampir semalaman.”

“Ah, Mas Pras kenapa berkata begitu?”

“Karena aku tertidur sampai batas waktu komplek ini akan ditutup, sehingga waktumu hanya habis denganku saja.”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (25)

“Tapi, aku suka. Justru aku memang menghendakinya seperti itu. Menghendaki Mas Pras berlama-lama di kamarku.”

“Tetapi, pemilik tempat ini pasti akan marah kepadamu.”

“Kenapa harus marah?”

“Karena pemasukannya jadi berkurang, sebab tidak ada tamu lain yang masuk.”

“Ah, Mami Narti tidak akan marah. Sebab ia tahu, siapa Mas Pras.”

Lonceng di kantor keamanan komplek berdentang lagi. Dentangnya seakan menyeruak dari kopel ke kopel.

“Loncengnya berbunyi lagi,” kata Mas Pras.

“Ya. Itu lonceng tanda komplek ini tutup. Dan para tamu diharuskan pulang meninggalkan komplek.

“Oooo,” gumam Mas Pras seraya mengeluarkan dompet dari saku celananya.

“Kok mengeluarkan dompet?” tanyaku.

“Begini. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, Sum. Tapi yang kudengar, setiap tamu yang masuk ke kamar kan dikenakan biaya kamar. Iya kan, Sum? Nah, ini untuk biaya kamar, Sum,” ujar Mas Pras sambil mengeluarkan beberapa lembar uang.

Aku dengan cepat menolaknya.

“Simpan saja uang itu, Mas. Uang itu kan bisa digunakan Mas Pras untuk keperluan yang lain,” kataku sambil mengambil uang itu dan memasukkannya kembali ke saku bajunya

“Tapi, nanti kau pasti diminta biaya kamar kan, Sum?”

“Itu urusanku, Mas. Biar aku yang menyelesaikannya nanti.”

“Tapi……”

“Sudah Mas, tidak usah dipikirkan hal itu. Sekarang Mas Pras pulang dulu saja. Nanti tiga hari lagi, tepatnya malam Minggu, Mas Pras ke sini lagi, ya. Aku tunggu, lho. Awas kalau sampai tidak ke sini, kususul ke rumah Mas Pras,” ujarku lalu melangkah membukakan pintu kamar. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (51)

Entah mengapa dadaku bergetar ketika Mas Bram duduk di tempat tidur, di sebelahku. Lebih-lebih lagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *