Kamis , 20 Juni 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (48)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (48)

Kini, sepuluh tahun lebih kemudian, ciuman itu kurasakan lagi. Tapi berbeda dengan waktu itu. Kali ini, aku tidak lagi malu-malu. Tidak lagi tersipu-sipu. Jika dulu aku hanya diam, hanya menunggu, hanya menerima, kini aku justru membalasnya. Membalasnya dengan geliat dan gelora asmara yang dahsyat.

Ciuman dan sentuhan Mas Pras benar-benar membuat diriku terbuai. Tidak hanya terbuai dalam keindahan kenangan masa lalu, tapi juga terbuai dalam gemuruh gelombang kenikmatan yang teramat sulit untuk kulukiskan dengan kata-kata.

Aku memang sempat terkejut, ketika tiba-tiba kurasakan pakaian yang kukenakan mulai terlepas. Namun keterkejutan itu hanya sesaat. Hanya beberapa detik saja. Kemudian aku tidak memperdulikannya. Tidak merisaukannya lagi. Aku justru terpejam. Terpejam. Dan terpejam.

Lalu, aku seperti dibawa terbang Mas Pras jauh ke awang-awang. Menembus awan dan cakrawala. Kurasakan sesuatu yang nikmat. Teramat nikmat. Teramat nikmat.

Aku telah mencatat sesuatu yang berarti lagi dalam lembaran perjalanan hidupku. Sesuatu yang indah. Sesuatu yang berkesan. Malam ini, untuk yang pertama kali, aku berhubungan dengan Mas Pras. Berhubungan layaknya sepasang suami istri.

Meskipun diriku seorang janda yang telah menjadi pelacur, tapi ketika bersama Mas Pras, aku benar-benar merasa bagaikan seorang gadis perawan. Aku merasa seakan-akan Sumi yang sedang dibakar gelora cinta di usia remaja.

Aku tidak tahu, apakah peristiwa ini merupakan yang pertama kali bagi Mas Pras atau tidak. Sebab, seperti yang diakuinya, hingga kini ia masih hidup sendiri. Masih hidup membujang.

Sebelum berbaring lagi di sampingku, Mas Pras mengecup keningku dengan lembut. Kemudian terdengar ia menghela napas. Bersamaan dengan itu kurasakan pula remasan tangannya di jari-jemariku. Remasan itu lembut dan penuh arti.

Terus terang, aku sungguh-sungguh merasa bahagia. Kebahagian dan kenikmatan yang lama tidak kurasakan. Kebahagiaan yang lama hilang, semenjak kematian Mas Bim. Sejak berbulan-bulan menjadi penghuni di komplek pelacuran ini, tak pernah kurasakan Kebahagiaan seperti yang kudapatkan bersama Mas Pras malam ini.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (1)

Selama menjadi penghuni di komplek ini, entah berapa puluh lelaki telah tidur bersamaku. Aku tidak sempat menghitungnya. Tidak sempat mencatatnya satu-persatu. Tetapi dengan sekian puluh lelaki itu tak pernah kurasakan gelora kebahagiaan dan kenikmatan seperti yang kurasakan saat bersama Mas Pras.

Dengan puluhan tamu itu, aku seakan tidak merasakan apa-apa. Yang ada hanya perasaan hambar. Perasaan terpaksa. Benci. Dan, sakit hati. Aku seakan-akan hanya melakukan pekerjaan yang rutinitas saja.

Barangkali dengan tanpa perasaan apa-apa itu, dalam sehari aku bisa menerima tamu empat hingga lima lelaki, bahkan lebih. Surti yang pertama kali mengajariku untuk seperti itu.

“Setiap tamu yang datang, jangan kau layani dengan serius. Jangan kau ladeni dengan perasaan. Bunuh semua perasaan yang ada di hatimu. Sebab, bila kau melayani tamu dengan perasaan, maka kau akan cepat lelah. Akan cepat loyo. Engkau tidak akan bisa melayani dua hingga tiga tamu lainnya,” ujar Surti ketika itu.

Akan tetapi saran dan nasehat Surti itu tidak berlaku atas diri Mas Pras. Aku tidak mungkin memperlakukan Mas Pras sama dengan tamu-tamu yang lain. Bagiku Mas Pras adalah tamu yang khusus. Tamu spesial dan istimewa. Tamu yang memiliki arti dalam hidupku.

Tanpa terasa ada air mata yang menetes di ujung mataku. Aku memang menangis. Menangis karena haru. Karena gembira. Karena bahagia.

“Kenapa kau menangis, Sum?” ternyata Mas Pras mengetahui ada air mata yang menetes, sehingga bertanya seperti itu.

“Aku tidak menangis,” kataku lirih

“Tapi, air matamu membasahi pipi.”

“Ini hanya air mata mata haru, gembira dan bahagia.”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (23)

“Apa yang membuat dirimu jadi terharu?”

“Ya, sesuatu yang dulu kuanggap sudah hilang, kini kok datang lagi. Sejak aku menikah, kemudian menjadi janda,
tidak pernah kubayangkan bahwa akhirnya kita akan tidur bersama dan berhubungan bagai suami-istri, seperti sekarang ini.”

“Tapi kita tidak melakukannya seperti yang dulu pernah ada dalam angan-anganku, Sun.”

“Angan-angan yang seperti apa?”

“Dulu aku berangan-angan kita akan menjadi suami-istri. Kita akan bersama. Kita akan menikah.”

“Namun kenyataannya kita tidur bersama di sini. Di komplek pelacuran ini.”

“Aku tidak peduli, apakah di sini komplek pelacuran atau bukan. Yang penting, aku sungguh-sungguh bahagia malam ini.”

“Aku juga, Mas Pras. Seperti tadi kukatakan, aku terharu, bahagia dan gembira. Semua bercampur menjadi satu.”

Kurasakan lagi remasan di jari-jemariku.
Lalu, Mas Pras memiringkan badannya ke arahku. Ditatapnya lagi wajahku dalam-dalam. Diusapnya rambutku, keningku, pipiku, dan daguku. Dadaku bergetar lagi. Jiwaku kembali bergelora. Detak jantungku seperti mengencang.

Kemudian kurasakan ada sentuhan dan kecupan di kening. Di pipi. Di ujung hidung. Di balik telinga. Leher. Setelah itu ciuman dan kecupan kurasakan di bibir. Aku membalasnya. Juga dengan kecupan.

Kami berciuman lagi. Dan, apa yang sebelumnya telah kami lakukan, terulang lagi. Kembali kurasakan tubuhku bagaikan terbang di awang-awang. Kali ini lebih kuresapi. Lebih kuhayati. Lebih kunikmati.

Kuteguk lagi air kebahagiaan. Kuteguk lagi anggur kenikmatan itu. Dan, dahaga yang seakan bertahun-tahun kurasakan itu kini sudah terobati. Hamparan padang kesunyian kini telah disemarakkan dengan senandung lagu-lagu cinta yang romantis.

Aku merintih. Merintih bahagia.
Mas Pras terengah. Terengah bahagia.

“Aku bahagia sekali, Mas,” bisikku.

“Aku juga, Sum. Bahagia sekali,” bisiknya pula sambil mengecup ujung telingaku. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (51)

Entah mengapa dadaku bergetar ketika Mas Bram duduk di tempat tidur, di sebelahku. Lebih-lebih lagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *