Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (47)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (47)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Sejak menjadi penghuni di komplek resos ini, berbaring berdua dengan lelaki di dalam kamar merupakan hal yang rutin dan biasa. Bahkan, dalam sehari, aku bisa berbaring dengan empat sampai lima lelaki, atau bahkan lebih. Setiap berbaring dengan lelaki-lelaki itu, tidak ada perasaan-perasaan istimewa yang terjadi dalam hatiku. Semua berjalan biasa. Datar. Tanpa rasa apa-apa. Seandainya pun ada, adalah perasaan tidak suka dan jengkel. Seperti dengan tamu yang gendut itu.

Kecuali dulu, saat malam pertama aku menjadi penghuni di komplek ini. Pada malam pertama aku melayani seorang lelaki yang bukan suamiku. Seorang lelaki yang baru kukenal. Ketika itu di dalam hatiku memang berkecamuk berbagai perasaan. Rasa takut, berdosa, malu, sedih dan nestapa, berbaur menjadi satu.

Betapa tidak. Semenjak remaja dan tumbuh menjadi menjadi perempuan dewasa, belum pernah ada lelaki lain yang melihat tubuhku dalam keadaan polos seperti itu, kecuali suamiku, Mas Bim. Sehingga, ketika aku menghadapi kenyataan ada lelaki lain yang bukan suamiku memandang tubuh polosku seperti itu, dan kemudian menyentuhnya, kurasakan dunia seakan ingin runtuh. Berbagai perasaan betcampur-baur dan seakan ingin meledak dahsyat dalam hatiku. Dan malam itu, aku menangis.

Tapi kini, ketika berbaring berdua bersama Mas Pras, ada perasaan lain yang pelan-pelan merambat di hatiku. Perasaan damai, tenteram, senang dan gembira. Perasaan yang sejuk. Perasaan yang indah. Perasaan yang membuat bunga-bunga di hatiku seperti bermekaran. Seperti ada sepotong lagu kerinduan, lagu dari masa lalu yang jauh tertinggal, seakan datang bernyanyi kembali. Datang mendendangkan senandung-senandung yang dulu pernah ada.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (9)

Kumiringkan tubuhku menghadap ke Mas Pras. Kulihat tatapnya sedang menerawang ke langit-langit kamar. Begitu tahu aku menatap ke arahnya, Mas Pras lalu mengalihkan pandangnya kepadaku.

“Sejak kita berpisah dulu, dan sejak kemudian kudengar kau telah menikah, tidak pernah kubayangkan bahwa suatu ketika aku akan dapat bersamamu, berdua di dalam kamar seperti ini,” katanya kemudian

“Dan, sekarang kita sudah bersama, berdua di dalam kamar,” kataku sambil kuberanikan diri meremas jemari tangannya.

Mas Pras tersenyum, dan pandangnya tetap tidak beralih dariku.

“Kau ingat, Sum, suatu malam ketika kita berdua pulang nonton film itu?” tanyanya seraya membalas remasan tanganku.

Aku berpikir sesaat. Mengingat-ingat. Membongkar lagi memori masa laluku.

“Malam yang mana?” aku mencoba bertanya.

“Di malam Minggu. Kau ingat? ”

Kemudian ingatanku tertuju ke malam Minggu yang diguyur hujan itu.

“Suatu malam di malam Minggu yang hujan itu?” aku balik bertanya.

“Ya, ketika kita pulang basah kuyup, karena hujan tidak kunjung berhenti.”

“Ya, aku ingat.”

“Dan. Kau ingat, ketika sampai di rumahmu?”

“Ya, kita berhenti dulu di samping rumah.’

“Lalu, apa lagi yang kau ingat?”

“Mas Pras menciumku.”

“Dan, kau semula menolak.”

“Ya.”

“Tapi, akhirnya kau mau juga, kan?”

“Ya, karena Mas Pras memaksa terus,” ada derai tawa lirih di kata-kata ini

“Tapi kau membiarkannya, kan?”

Mas Pras pun tertawa. Tawa kami saling beriringan.

“Sekarang, apakah kau izinkan bila aku ingin menciummu lagi, Sum?” di luar dugaan pertanyaan semacam ini diucapkan Mas Pras.

Aku terpana sesaat mendengar pertanyaan itu.

“Atau mungkin aku harus melakukannya lagi dengan memaksamu seperti dulu?”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (27)

Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana. Pertanyaan itu membuat dadaku tergetar. Yang mampu kulakukan hanya meremas jemari tangan Mas Pras yang belum lepas dari genggamanku.

Kemudian, kulihat Mas Pras bergerak. Lalu kurasakan ada sentuhan lembut di bibirku. Mas Pras menciumku. Aku terpejam. Kunikmati ciuman dan kecupan itu. Kunikmati dengan sepenuh jiwa. Kunikmati dengan hati yang terbuka.

Kurasakan kecupan lagi. Kali ini lebih lama. Aku membalasnya. Membalasnya dengan geliat dan rengkuhan tangan.
Ciuman dan sentuhan tangan Mas Pras membuat diriku bagai hamparan padang sabana yang diguyur hujan setelah berbulan-bulan dilanda kemarau panjang.

Kami terus berciuman. Berciuman. Dan, berciuman. Entah berapa kali, aku tidak sempat menghitungnya. Yang kutahu, berulang-ulang kali ciuman dan kecupan itu kurasakan. Kemudian berulangkali pula aku membalasnya.

Dalam gemuruh dada seperti itu, kubayangkan lagi saat pertama kali Mas Pras menciumku, di malam Minggu yang hujan itu, di samping rumahku. Masih kuingat, bagaimana aku menerima ciuman itu dengan malu-malu dan tersipu-sipu. Bagaimana aku tidak bereaksi apa-apa, kecuali menerimanya, dan membiarkan Mas Pras menciumku, entah berapa kali. Aku hanya diam. Hanya memejamkan mata. Hanya pasrah. Pasrah.

Lalu, peristiwa itu terulang lagi dalam berbagai kesempatan. Tidak hanya di samping rumah. Tidak hanya di gelap malam jalanan desa. Sampai akhirnya semua itu berakhir ketika Mas Pras lulus SMA dan berangkat ke Jakarta.
Dan, malam itu, malam terakhir ia berada di desa, Mas Pras masih sempat menciumku di ujung jalan masuk ke pekarangan rumahku. Itulah ciuman terakhir Mas Pras sekitar sepuluh tahun lalu. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (45)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana Seusai Mas Pras mandi, giliran aku yang ke kamar mandi. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *