Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (46)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (46)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Mas Pras terdiam sesaat. Yang terdengar hanya elahan napasnya. Tatapannya diarahkan ke langit-langit kamar. Pikirannya seperti sedang menerawang sesuatu yang jauh.

“Ketika dulu kudengar kau menikah, aku lantas berpikir kesempatanku untuk dapat bersama dan berdua denganmu sudah musnah. Sejak itu aku tidak pernah berangan-angan atau menghayal bahwa aku akan dapat tidur bersamamu dalam satu tempat tidur seperti ini. Tapi, kenyataannya sesuatu yang tidak kuhayalkan itu terjadi. Aku kini bersamamu dalam satu tempat tidur,” kata Mas Pras seraya memiringkan tubuhnya ke arahku.

“Hanya saja sekarang lain ya, Mas?”

“Apanya yang lain, Sum?”

“Karena Sumi yang sekarang berbaring di samping Mas Pras adalah Sumi yang sudah kotor.”

“Jangan katakan hal-hal seperti itu lagi, Sum.”

“Tapi, itu kenyataan yang ada pada diriku.”

“Aku tahu, Sum. Namun aku tak mau melihat kenyataan itu. Aku tak mau merusak pandangan dan penilaianku padamu. Pandangan dan penilaianku padamu tetap tidak berubah dengan yang ada pada sekitar sepuluh tahun lalu.”

Lagu-lagu dangdut masih terus terdengar di luar, dan seakan menyeruak masuk ke dalam kamar. Dendangan suara Hamdan ATT sudah tidak terdengar. Kini yang terdengar suara penyanyi perempuan. Tak jelas siapa. Soalnya, aku memang tidak terlalu hapal dengan suara dan nama penyanyi-penyanyi dangdut itu. Tapi yang jelas bukan suaranya Ekvy Sukaesih, salah satu penyanyi dangdut yang kukenal namanya.

“Kenapa kita dulu berpisah ya, Sum?” di luar dugaan Mas Pras akan bertanya seperti ini.

Aku sendiri tergagap dengan pertanyaan itu, dan tidak tahu harus menjawab bagaimana. Ya, kenapa dulu berpisah? Kenapa?

“Seandainya dulu kita tidak berpisah, tentu…..,” suara Mas Pras terputus di sini.

Meski terputus, tapi aku dapat menangkap kata-kata apa lagi yang tidak sempat terucap itu. Seandainya dulu tidak berpisah dengan Mas Pras, tentu jalan hidupku akan lain. Tentu aku tidak akan bertemu dengan Mas Bim dan menikah dengannya. Tentu aku tidak punya Gagah dan Wanda. Tentu aku tidak akan menjadi janda. Dan, tentu aku tidak akan sampai terpuruk di kehidupan kelam seperti ini.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (3)

Tapi, aku tidak harus menyesali perpisahan itu. Tidak harus menyesali perpisahan dengan Mas Pras. Sebab, bila aku menyesalinya, berarti aku menyesali pertemuanku dengan Mas Bim. Kemudian menyesali pernikahanku dengannya. Tidak! Aku tidak boleh menyesal telah menjadi istri Mas Bim. Ya, aku memang tidak pernah menyesalinya. Aku harus menerima kenyataan itu sebagai romantika dan takdir perjalanan hidupku.

Lagi pula, aku memang mencintai Mas Bim. Sebagai istri, aku mencintainya dengan sepenuh hati. Akan halnya Mas Pras, ia memang sempat hadir dalam hati remajaku. Bahkan, aku memang sempat menanamkan perasaan cinta kepadanya. Benih-benih cinta itu memang telah tumbuh dan bersemi. Semua itu memang tidak bisa kupungkiri.

“Seandainya dulu aku tidak melanjutkan sekolah di Jakarta, aku yakin kita tentu tidak akan berpisah. Kita tentu akan bersama. Dan, kemudian menikah,” suara Mas Pras lagi dengan tatap matanya tetap tertuju ke langit-langit kamar.

“Sudahlah, Mas Pras. Tidak usah diungkit-ungkit lagi semua yang sudah terjadi itu. Tidak usah disesali lagi,” aku mencoba berkata seperti begini, meski dengan lidah kelu.

“Aku merasa bersalah, Sum,” ujar Mas Pras lagi.

“Mas Pras tidak bersalah. Dan, tidak ada yang harus disalahkan.”

“Seandainya dulu aku tidak meninggalkanmu pergi ke Jakarta, tentu tidak akan terjadi kehidupan seperti yang kau alami sekarang.”

“Jangan salahkan dirimu, Mas. Sebab semua ini merupakan suratan nasib. Kita memang ditakdirkan berpisah. Dan, ditakdirkan tidak menjadi suami-istri.”

Terasa ada sembilu yang menyayat di hatiku. Di luar, terdengar lagu dangdut yang bercerita tentang kenestapaan.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (19)

Mas Pras lalu bangun dari duduk membelakangiku. Pandangnya seperti menatap ke cermin di atas meja kecil itu.

Tak jelas, apakah ia memang sedang melihat dirinya di cermin ataukah hanya sekadar melepas tatapan kosong belaka.

“Aku tak tahu, harus melakukan apa untuk menebus kesalahanku. Kesalahan meninggalkanmu dulu, Sum,” kata Mas Pras dengan suara tergetar sambil tatapnya masih tetap tertuju ke cermin.

“Mas Pras tidak harus melakukan apa-apa, karena bagiku Mas Pras tidak bersalah. Mas Pras tidak harus menyesali kepergian ke Jakarta dulu. Kalau hal itu disesali, berarti Mas Pras juga menyesali hasil yang didapatkan sekarang.

Pekerjaan atau usaha Mas Pras sekarang, semuanya tidak terlepas dari kuliah Mas Pras di Jakarta itu,” kataku.

“Tapi, kau mau memaafkan kesalahanku itu to, Sum?”

“Mas Pras tidak perlu minta maaf. Karena memang tidak ada yang harus dimaafkan, sebab Mas Pras tidak bersalah apa-apa.”

“Katakan saja, Sum, bahwa kau mau memaafkanku. Itu saja.”

“Tapi…..”

“Jangan beri alasan lagi. Aku hanya ingin dengar kata-katamu memaafkanku itu.”

Aku jadi bimbang.

“Katakanlah Sum, biar hatiku lega,” pintanya lagi.

“Kalau memang itu yang Mas Pras inginkan, ya, aku memaafkannya,” suaraku agak pelan dan bertahan.

Mas Pras membalikkan badannya, menghadap ke arahku. Ia tersenyum dan wajahnya tampak berbinar-binar.

“Kau mengatakannya dengan tulus kan, Sum? Tidak karena terpaksa?” tanyanya sambil menggenggam jari-jemariku. Dan, genggaman itu terasa hangat.

Aku mengangguk.

“Nah, sekarang lega sudah diriku,” senyum kegembiraan terlihat di wajahnya.

Mas Pras tersenyum. Aku juga.

“Dan sekarang, berbaring saja lagi,” kataku sambil menarik lengannya.

“Kau belum mengizinkan aku untuk pulang?” tanyanya.

“Belum. Aku masih ingin Mas Pras berada di sini.”

“Baiklah kalau begitu,” katanya seraya merebahkan lagi badannya. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (45)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana Seusai Mas Pras mandi, giliran aku yang ke kamar mandi. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *