Minggu , 12 Juli 2020
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (45)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (45)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Seusai Mas Pras mandi, giliran aku yang ke kamar mandi. Dan, ketika aku selesai mandi, Mas Pras sudah berpakaian rapi lagi.

Aku sengaja menyuruh Mas Pras untuk tetap berada di kamar. Aku menginginkan agar ia mau berlama-lama di kamarku. Sehingga ketika saatnya makan malam tiba, aku langsung berkata padanya, “Mas Pras makan malam di sini saja, ya.”

“Makan malam di sini?”tanyanya agak ragu

“Ya. Di komplek ini kan ada warung sate, ada warung makan biasa. Bagaimana kalau kita makan sate saja?”ujarku.
Mas Pras setuju. Lalu, kuajak dia keluar menuju ke warung sate. Untuk sampai ke warung sate yang berada di sudut utara komplek resos ini, melewati banyak kopel.

Seperti biasa di setiap malam, suasana yang semarak terlihat di tiap kopel. Selain disemarakkan dentuman suara musik, yang rata-rata lagu dangdut, juga dimeriahkan dengan derai tawa perempuan-perempuan penghuninya yang duduk di teras kopel menanti tamu-tamu.

Mas Pras terlihat canggung berjalan di depan-depan kopel yang di terasnya terdapat perempuan-perempuan dengan dandanan dan gaya bermacam-macam.

“Suasananya ramai dan meriah, ya,” kata Mas Pras.

“Beginilah suasananya setiap malam di komplek ini. Ramai dan meriah,” ujarku seraya kuberanikan diri menggayutkan tangan di lengannya.

“Suasana seperti ini sampai pukul berapa?” tanya Mas Pras lagi.

“Sampai komplek ini ditutup dan tidak terima tamu lagi.”

“Pukul berapa itu?”

“Pukul dua belas malam.”

Ketika sampai di warung sate, kebetulan warung itu sedang kosong pembeli. Kupesan dua porsi sate kambing. Ketika sate itu dihidangkan, kami pun menikmatinya dengan duduk berdempetan.
Entah mengapa, hatiku terasa berbunga-bunga ketika duduk berdempetan berdua dengan Mas Pras di warung sate. Perasaan itu terus terbawa sampai ketika aku dan Mas Pras kembali lagi ke dalam kamar.
Mas Pras semula terlihat agak ragu dan canggung ketika pintu kamar kututup dan kukunci.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (43)

“Sebaiknya aku pulang saja dulu,” katanya dengan wajah ragu.

“Nanti saja, Mas. Aku masih ingin bersama Mas Pras saat ini,” kataku.

“Tapi….”

“Tak ada tapi-tapi, Mas. Pokoknya, aku masih ingin bersama Mas Pras sekarang ini. Itu saja keinginanku,” suaraku datar dan penuh harap.

“Nanti, waktumu hanya akan habis bersamaku saja, Sum.’

“Aku memang ingin menghabiskan waktuku bersama Mas Pras.”

Mas Pras diam. Ia hanya menatap wajah dalam-dalam. Tatapannya sejuk dan lembut. Tatapan yang dulu membakar jiwa remajaku. Sementara di luar, terdengar kesibukan tamu-tamu yang datang. Dan, entah dari kamar siapa, mungkin Erna, mungkin pula Aniek, terdengar lagu dangdut yang dinyanyikan Hamdan ATT. Lagu itu bercerita tentang cinta yang nestapa. Cinta yang penuh duka.

Aku lalu berbaring di tempat tidur. Aku berharap, Mas Pras juga mengikutiku berbaring. Kutunggu beberapa saat, ternyata tidak. Ia hanya diam. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Barangkali saja ada yang sedang berkecamuk dalam hatinya.

“Kalau Mas Pras lelah, berbaringlah di sebelahku,” ujarku seraya menarik lengannya untuk berbaring.

Simak juga:  Perempuan di Ujung Senja di Sastra Bulan Purnama

Mas Pras terlihat ragu. Keraguan itu terlihat jelas di raut wajahnya.

“Berbaringlah, Mas. Apa Mas Pras keberatan tidur di dekatku?” tanyaku agak sendu.

“Tidak. Sama sekali tidak begitu, Sum,” ia cepat memotong.

“Apa dikarenakan aku bukan Sumi yang dulu, tapi Sumi yang sudah menjadi perempuan…..”

“Jangan teruskan kata-katamu itu, Sum. Aku sama sekali tidak punya pikiran sampai sejauh itu. Terus terang, sekalipun kau sekarang berstatus janda, dan menjadi penghuni di komplek seperti ini, bagiku kau tetap Sumi yang dulu. Sumi yang kukenal sekitar sepuluh tahun lalu,” meski terbata-bata, kata-kata Mas Pras ini terasa sejuk meresap ke dalam hatiku.

“Mas Pras berkata jujur? Berkata sesungguhnya?” tanyaku sambil memegang jari-jemarinya.

“Aku hanya mengikuti apa yang ada dalam hatiku, Sum. Itu saja.”

“Berbaringlah Mas Pras,” pintaku lagi.

Mas Pras menatapku sesaat. Sepertinya ia masih menginginkan penegasan.

“Ayo, Mas,” desakku sambil menarik lengannya. “Kenapa sih ragu-ragu?” tanyaku.

Mas Pras mencoba tersenyum. Dan kemudian, ia merebahkan badannya di sebelahku.

“Terus terang, ini pertama kalinya aku tidur atau berbaring di komplek seperti ini, Sum,” kata Mas Pras setelah itu.

“Mas Pras tidak usah berpikiran sedang berbaring atau tidur di komplek resos pelacuran. Tapi Mas Pras sedang berbaring di kamarku. Di kamarnya Sumiyati. Kalau Mas Pras berpikiran sedang tidur di komplek pelacuran, nanti jiwa Mas Pras tidak akan tenang, tapi gelisah terus,” ujarku. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *