Selasa , 17 September 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (44)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (44)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

KALIURANG sudah tertinggal jauh. Kota Yogya pun sudah terlewati. Kini bangunan komplek resos yang berpagar tembok itu sudah berada di depan. Ketika mobil berhenti beberapa meter sebelah selatan pintu masuk komplek, Mas Pras menyatakan bahwa ia ingin langsung pulang.
Tapi aku cepat mencegahnya.

“Kenapa buru-buru? Nanti saja pulangnya, Mas.”

“Ya, nanti saja pulangnya,” Warni ikut menimpali.

“Tapi…”

“Tidak pakai tapi-tapi, pokoknya Mas Pras harus mampir dulu. Istirahat dulu sebentar,” ajakku sambil menarik lengan tangannya.

“Tapi, hari sudah sore. Sebentar lagi akan banyak tamu di sini. Lagi pula aku kan belum mandi sore,” kilahnya.

“Pokoknya Mas Pras harus mampir dulu,” desakku.
Akhirnya Mas Pras turun juga dari mobil.

Ketika sampai di kopel, Mami Narti sudah menyambut dengan beruntun tanya. Kenapa sampai sore? Pergi ke mana saja? Dengan siapa saja? Dan lain-lain. Warni yang langsung menjawabnya. Ia menceritakan secara runtut ke mana saja kami hampir seharian.

Kupersilakan Mas Pras masuk dan duduk di ruang tamu.

“Jadi kalian ke Kaliurang, to?” tanya Mami Narti.

“Mencari suasana yang lain, Mam. Sekali-kali lihat gunung, bukit-bukit, hutan-hutan, pohon-pohon cemara, dan pohon-pohon pinus. Setelah hampir tiap hari di sini hanya lihat manusia-manusia, ya, sekali waktu lihat monyet-monyet,” ujar Warni.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (61)

Mami Narti tertawa. Untuk urusan melunakkan hati Mami Narti, memang Warni jagonya. Dia paling pintar mengambil hati.

“Jadi kalian pergi bertiga, to?” tanya Mami Narti sambil menoleh ke arah Mas Pras.

Mas Pras tersenyum dan mengangguk.

“Kelihatannya Mas ini jarang ke sini, ya?” tanya Mami Narti lagi.

“Ya, Bu. Ini baru yang kedua kalinya saya ke sini,” jelas Mas Pras.

“Ini tamu yang masih Gress lho, Mam. Masih tokcer,” timpal Warni disertai derai tawanya.

“Tamu gress-nya siapa?” masih tanya Mami Narti.

“Ya, siapa lagi, kalau bukan……,” ujar Warni seraya menunjuk ke arahku.

“Ooo…. tamumu to, Yat?” ada senyum di tanya Mami Narti.

Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Melihat Mami Narti tersenyum, aku pun ikut-ikutan tersenyum. Mas Pras demikian juga.

“Mas Pras mau mandi?” tanyaku beberapa saat kemudian, ketika Wiwien dan Aniek ikut bergabung di ruang tamu.

“Ah, biar nanti saja di rumah,” Mas Pras mencoba mengelak.

“Mandi di sini saja, Mas. Ada handuk bersih di kamar,” ajakku sambil menarik tangannya untuk bangkit dari duduk.

Semula Mas Pras terlihat keberatan. Tapi begitu tangannya kutarik lagi, akhirnya dia bangkit juga dari duduk dan mengikutiku masuk ke kamar.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (8)

“Ini handuknya. Jangan khawatir, ini handukku sendiri. Dijamin bersih,” kataku setelah mengeluarkan handuk warna merah muda dari lemari. Kemudian kusiapkan sepasang sandal karet, sarung dan sabun.

“Mandinya di mana?” Mas Pras tampak ragu.

Ia melirik ke sudut kamar, ke ruangan mini yang tersekat dan ada bak air mini. Barangkali ia berpikir mandinya di ruangan tersekat itu.

“Mandinya ya di luar, di kamar mandi. Dan ini, pakai sarungnya. Celananya copot di sini saja,” kataku.

Mas Pras masih sungkan-sungkan untuk mencopot celana panjangnya.

“Copot saja, Mas. Lalu pakai sarungnya,” desakku.

Dengan wajah ragu, Mas Pras akhirnya menuruti kata-kataku. Setengah tersenyum aku melihat ia mencopot celana panjangnya dan kemudian mengenakan sarung.

“Mari kuantar ke kamar mandi,” ajakku dan Mas Pras mengikuti langkahku menuju kamar mandi.

Melihat aku dan Mas Pras keluar dari kamar, Wiwien dan Aniek yang di kursi tamu terdengar berdehem-dehem.

Aku hanya tersenyum melihat ulah mereka.

“Sekalian mandi bersama saja,” kata Warni ketika aku dan Mas Pras lewat di depan kamarnya. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (64)

Sentuhan di bibir itu terjadi berulangkali. Setiap kali kurasakan sentuhan, setiap kali pula aku membalasnya. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *