Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (42)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (42)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Aku mengangguk. Aku memang tidak mungkin berdusta untuk mengatakan tidak menangis. Sebab, kenyataannya pipiku basah oleh air mata. Dan mataku, tentu saja agak memerah.

“Kenapa?”

“Ya, kenapa, Yat?” Warni juga ikut bertanya.

“Entahlah, hatiku mendadak jadi sedih.”

“Sedih? Apa yang kau sediakan?”tanya Mas Pras.

“Aku ingat anak-anakku. Aku jadi sedih bila mengingat keinginan anak-anakku untuk datang lagi ke Kaliurang bersama ayahnya tak pernah terwujud.”

“Oh….”

“Ketika kami datang terakhir ke sini, sebulan sebelum musibah itu, suamiku berjanji pada anak-anak untuk datang bersama lagi ke Kaliurang. Anakku sangat gembira sekali hari itu, karena dijanjikan akan diajak lagi ke Kaliurang. Tapi janji itu tidak sempat menjadi kenyataan, karena suamiku keburu dibunuh,” uraiku dengan perasaan perih.

Mas Pras terlihat menarik napasnya dalam-dalam.

“Sudahlah Sum, kita datang lagi ke sini kan bukan untuk bersedih-sedih. Tapi untuk bergembira menikmati udara segar di sini,” ujar Mas Pras.

“Maksudku ya ingin bergembira di sini. Ingin mencari suasana lain yang lebih segar, setelah berbulan-bulan jenuh dengan kehidupan di komplek seperti itu. Akan tetapi, kenyataannya setelah di sini aku tidak bisa lupa begitu saja kepada anak-anakku. Kubayangkan, betapa gembiranya anak-anakku bila kuajak lagi datang ke sini.”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (8)

“Kapan-kapan kau bisa membawa anak-anakmu ke sini lagi, Sum.”

“Keinginanku juga begitu. Tapi kapan?”

“Nanti akan datang waktu yang tepat untuk itu. Misalnya, di saat anak-anakmu sedang liburan sekolah, bawa mereka ke Yogya dan ajak ke Kaliurang lagi.”

“Anak-anakku diajak ke Yogya?”

“Ya.”

“Kok, rasanya tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Nanti anak-anakku menginap di mana? Tidak mungkin kan, mereka kubawa menginap di komplek resos…”

Mas Pras tertawa.

“Ya, tentu saja tidak, Sum. Apa kau sudah gila sehingga membawa anak-anakmu menginap di komplek seperti itu,”katanya.

“Lantas di mana?”

“Kenapa dipersoalkan sekarang? Hal seperti itu dipikirkan nanti saja.”

“Ya, kenapa repot-repot, di Yogya kan banyak hotel atau penginapan,” timpal Warni yang sedari tadi lebih banyak diam.

Benar juga, pikirku. Kenapa harus dipikirkan sekarang? Kenapa dirisaukan sekarang? Tapi yang pasti, apa pun akan kulakukan demi kebahagiaan anak-anak.

Sehabis dari hutan wisata, Mas Pras mengajak singgah dulu di warung. Aku dan Warni setuju dengan ajakan itu.
Warni memilih warung yang berada di deretan paling barat. Ketika akan masuk, tiba-tiba aku agak ragu melangkah. Betapa tidak. Warung ini kembali mengungkit ingatanku kepada Mas Bim dan anak-anakku. Sebab, ketika terakhir kali bersama Mas Bim dan anak-anakku ke Kaliurang itu kami singgah di warung ini.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (57)

Tapi ketika Mas Pras menarik lenganku, aku tidak punya alasan untuk menolak. Aku mengikuti langkahnya.
Semula kupikir, dengan datang ke Kaliurang aku akan dapat menikmati suasana yang nyaman, tenteram dan menyenangkan. Setidak-tidaknya dapat menghilangkan kejenuhan setelah berbulan-bulan menjalani kehidupan di komplek resos pelacuran.

Akan tetapi, kenyataannya kenyamanan yang kuinginkan itu tidak kuperoleh. Yang muncul justru sayatan pilu di hati karena teringat kembali akan serangkaian kenangan bersama Mas Bim dan anak-anakku. Seakan tidak ada satu tempat pun yang tidak menyimpan kenangan bersama Mas Bim. Seperti halnya di warung ini.
Warni memilih meja paling barat.

Ketika melangkah ke meja pilihan Warni itu, tanpa sengaja pandanganku tertumbuk ke salah satu meja. Hah! Aku terkesiap. Darahku bagai tersirap. Di meja tersebut, ada si gendut, tamu yang menyebalkan itu! Ia bersama dengan seorang perempuan. Tak jelas, apakah perempuan itu istri atau simpanannya. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (59)

Lelaki itu semakin gugup. Kepanikan terlihat jelas di wajahnya. Ia tentu sangat terkejut mendengar kata-kataku …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *