Selasa , 16 Juli 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (41)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (41)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Mobil kemudian dilajukan Mas Pras ke arah jalan Kaliurang. Setelah melewati kampus UGM, mobil terus melaju ke utara. Lama sudah aku tidak lewat di jalan ini. Lama sudah aku tidak pergi ke Kaliurang, sejak terakhir kali ketika bersama Mas Bim dan anak-anakku.

“Sudah berapa kali ke Kaliurang, Sum?” tanya Mas Pras ketika mobil sudah melewati kota kecamatan Pakem.

“Sudah lebih dari lima kali.”

“Terakhir kali kapan?”

“Sebulan sebelum kematian suamiku.”

“Oh…..,” suara Mas Pras tertahan.

Mobil terus melaju. Mendaki kawasan wisata di kaki Merapi itu.

Di jok belakang, Warni bernyanyi-nyanyi kecil. Tidak begitu jelas apa lagunya. Sepintas seperti lagu lama milik Tetty Kadi atau Titiek Sandhora.

Mas Pras tersenyum mendengar Warni bernyanyi. Aku pun tersenyum. Soalnya, kesempatan mendengar Warni bernyanyi ini merupakan peristiwa langka. Selama berbulan-bulan satu kopel dengannya, barangkali baru sekitar enam hingga tujuh kali aku sempat mendengarkan ia bernyanyi.

“Lagi gembira ya, War?” tanyaku.

Warni langsung menghentikan nyanyinya.

“Ah, kau ini Yat, tidak suka melihat teman gembira,” kata Warni disertai tawa.

“Oh, lagi gembira sungguhan, to?”

“Jelas…..”

“Kelihatannya, Kaliurang cukup istimewa bagimu, War. Kenyataannya kau begitu gembira, karena kita menuju ke sana.”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (9)

“Ah, ingin tahu saja kau ini, Yat. Itu rahasia. Orang lain tidak boleh tahu,” lagi ada derai tawa di kata-katanya.

Aku pun ikut tertawa. Juga Mas Pras.

Mobil terus melaju di jalan yang mendaki.

Ketika sampai, ketika turun dari mobil, kesejukan udara Kaliurang pun terasa menggigit.

“Kita ke mana?” tanya Mas Pras.

“Ke Hutan Wisata saja dulu,” usul Warni.

Kami pun melangkah menuju ke pintu masuk kawasan hutan wisata.
Begitu masuk ke kawasan Hutan Wisata, seketika ingatanku tertuju lagi kepada Mas Bim dan anak-anakku. Ah, andaikan kali ini aku ke Kaliurang bersama-sama dengan Mas Bim, Gagah dan Wanda, sungguh betapa menyenangkan.

Aku ingat, hari Minggu itu, sekitar sebulan sebelum musibah atas diri Mas Bim terjadi, betapa gembiranya Gagah dan Wanda karena mereka dapat bermain bebas, kejar-kejaran dan bermain ayun-ayunan. Sementara aku dan Mas Bim yang duduk santai di tikar sewaan, tersenyum-senyum gembira menyaksikan keriangan mereka.
Dan, aku ingat juga, ketika hari sudah sore, bagaimana berat hati Wanda saat diajak pulang.

“Wanda belum mau pulang, Ma,” rajuknya.

“Tapi hari sudah sore, sayang. Dan sebentar lagi malam. Sekarang kita pulang dulu, kapan-kapan kita datang lagi ke sini,” bujukku.

“Benar Ma, kita akan ke sini lagi?” tanya Wanda.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (4)

“Ya, kita pasti ke sini lagi,” Mas Bim yang menjawab.

“Kapan, Pa?”

“Minggu depan bisa. Bulan depan juga bisa,” ujar Mas Bim.

“Papa janji?”

“Ya, Papa janji.”

Setelah itu keriangan terlihat di wajah Wanda. Matanya berbinar-binar, dan ia pun langsung setuju diajak pulang.

Tapi, janji Mas Bim itu belum sempat terwujud. Belum sempat terlaksana.

Keinginan Wanda untuk datang lagi ke Kaliurang juga belum sempat menjadi kenyataan. Semuanya menjadi musnah dan berantakan. Maut terlalu cepat datang menjemput Mas Bim. Kekejian itu terlalu cepat datangnya.

Terlalu tiba-tiba. Kekejian dan musibah menyakitkan itu telah menghancurkan semua angan-angan dan impian anak-anakku. Angan-angan dan impian untuk datang lagi ke Kaliurang. Datang lagi untuk bergembira bersama ayah dan ibunya.

Tanpa terasa ada air mata yang membasah di pipi.

“Kau menangis, Sum?” tanya Mas Pras membuatku tersentak dari lamunan.

Lebih tersentak lagi ketika menyadari ternyata aku telah berada di dekat air terjun Telogoputeri. Jadi sepanjang perjalanan dari pintu masuk hutan wisata hingga ke air terjun Telogoputeri, ternyata aku melangkah sambil melamun. Melamunkan kembali saat-saat penuh kenangan bersama Mas Bim dan anak-anakku.

“Sum, kau memang?” Mas Pras mengulang tanyanya. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (59)

Lelaki itu semakin gugup. Kepanikan terlihat jelas di wajahnya. Ia tentu sangat terkejut mendengar kata-kataku …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *