Senin , 14 Oktober 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (4)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (4)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Aku tidak tahu pasti, apakah aku tertidur atau tidak sadarkan diri hingga tengah malam. Begitu sadar, jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Di kamarku sudah tidak ada lagi Bu Irah dan Mbak Wanti.

Yang ada hanya dua buah hatiku, Gagah dan Wanda, tergolek di tempat tidur, di sampingku. Tak tahu, kenapa mereka berdua tidur bersamaku. Biasanya mereka tidur di kamar yang lain.

Kumandang mereka, buah kasihku bersama Mas Bim itu dengan hati perih. Dadaku tersayat. Tak pernah kubayangkan sebelumnya, jika keduanya secara mendadak akan menjadi anak-anak yatim. Sedikitpun tak pernah kuduga, keduanya akan begitu cepat kehilangan kasih sayang seorang ayah. Kenapa ada tangan-tangan yang begitu tega dan kejam, merenggut secara paksa kasih sayang seorang ayah dari kedua anakku?! Kenapa mereka begitu tega menyiksa anak-anakku? Kenapa mereka tega menghancurkan jiwa anak-anakku yang tidak berdosa? Kenapa?!

Kurengkuh keduanya dengan pelukan. Pelukan yang erat. Tapi mampukah pelukanku mengobati luka-luka di hati mereka yang menganga.

Di ruang depan kudengar suara orang-orang saling berbicara. Mereka pasti para tetangga yang ikut menemani kedukaanku. Dan, mereka pasti sedang membicarakan serta saling jawab, kenapa suamiku dibunuh. Kenapa Mas Bim ditembak secara sadis? Pertanyaan itu pun mengiris-iris hatiku.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (21)

Ya, kenapa Mas Bim dibunuh? Kenapa dia ditembak? Apa salah suamiku? Apa dosanya, hingga ia dihabisi seperti itu? Siapakah para pelakunya? Penjahatkah? Mungkinkah orang-orang bayaran yang disewa ‘musuh-musuh’ suamiku? Tetapi, apakah Mas Bim punya musuh? Atau siapa?

Jawabannya kudapatkan keesokan paginya. Pagi-pagi ada tetangga yang datang seraya membawa surat kabar yang memberitakan peristiwa pembunuhan Mas . Aku bergegas membacanya. Berita pembunuhan yang dimuat di halaman depan surat kabar itu sungguh membuatku terhenyak lemas.

Betapa tidak. Di surat kabar terbitan lokal itu disebutkan, suamiku adalah seorang gali atau preman yang menjadi korban operasi pemberantasan kejahatan. Disebutkan pula, suamiku terpaksa ‘dihabisi’ atau menurut istilah di surat kabar itu ‘di-OPK’ karena perbuatan-perbuatannya dipandang sering mengganggu Kamtibmas serta meresahkan dan menggelisahkan masyarakat. Terlebih-lebih, kata berita itu lagi, suamiku terpaksa ditembak petugas karena ketika akan ditangkap berusaha melakukan perlawanan dan berupaya melarikan diri. Jadi, tidak ada alternatif lain bagi para petugas kecuali melumpuhkannya dengan tembakan.

Ingin rasanya aku berteriak sekeras-kerasnya memprotes ketidakadilan berita itu. Bagaimana mungkin wartawan surat kabar itu bisa menyebutkan suamiku, Mas Bim, sebagai seorang gali. Apa buktinya?!

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (32)

“Sudahlah Mbak, jangan terlalu dipercaya isi berita itu. Wartawan kadang-kadang memang suka sekenanya kalau membuat berita. Seperti di berita itu, ditulis Mas Bim sebagai seorang gali. Dari mana dia dapat informasi seperti itu?” kata tetanggaku, lelaki muda, yang berstatus mahasiswa itu.

Tangisku seperti ingin meledak. Tapi kutekan sekuat mungkin. Kucoba untuk tabah. Namun sayatan sembilu di dadaku tak kuasa kutahan. Sayatan itu begitu perih. Begitu pedih. Aku tak rela Mas Bim, suamiku, dinyatakan sebagai gali. Dianggap sebagai pembuat keresahan. Di mataku dan di mata anak-anakku, Mas Bim adalah benar-benar seorang suami dan ayah yang baik. Suami dan ayah yang lembut, serta penyabar.

Andaikan benar Mas Bim memang seorang preman dan meresahkan masyarakat, kenapa pula harus ditembak? Kenapa pula harus dibunuh sekeji itu? Kenapa tidak ditangkap saja, dan dibawa ke kantor polisi? Kenapa? (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *