Sabtu , 20 April 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (38)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (38)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Tanpa terasa air mataku menetes. Membasah di pipi. Aku menangis. Ya, aku menangis. Aku terisak. Berulangkali kuseka air mataku, tapi isak tangis dan lelehan air mata tetap saja terjadi.

Mas Pras dan Warni yang berada di sampingku turut serta juga berdoa. Entah apa saja yang mereka katakan dalam doa. Tapi yang kutahu, mereka begitu khusyuk. Begitu serius.

Selesai berdoa, lalu kubersihkan gundukan pusara Mas Bim dari rerumputan liar yang tumbuh di atasnya. Mas Pras juga ikut mencabuti rerumputan itu. Demikian pula Warni, ia pun asyik mencabuti tetumbuhan kecil yang mengitari pusara Mas Bim.

Entah berapa puluh menit aku, Warni dan Mas Pras berada di depan pusaranya Mas Bim. Meski rerumputan liar di gundukan pusara Mas Bim itu sudah bersih, namun aku tetap merasa berat untuk meninggalkan makamnya tersebut.

Sesaat aku tercenung. Sesaat angan-anganku bagai terbang entah ke mana.
Lama aku tercenung di depan pusara Mas Bim, meski tanpa kata apa-apa. Sementara Mas Pras dan Warni hanya diam saja di belakangku. Barangkali mereka memang ingin bersuara, mengajakku untuk meninggalkan makam tersebut, tapi hal itu tidak tersampaikan.

“Kita pulang sekarang?” tanyaku kepada Mas Pras dan Warni.

“Ya, terserah padamu, Sum. Kalau dirasakan belum cukup di sini, ya, nanti saja pulangnya. Tapi, kalau sudah, ya, kita bisa pulang sekarang,” kata Mas Pras.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (17)

“Bagaimana War, sekarang?” lagi tanyaku.

“Kalau sudah selesai, ya kita pulang saja. Atau mungkin kita singgah di rumah tetanggaku dulu. Atau nanti kita lewat di depan rumahmu yang dulu,” ujar Warni.

Aku belum menjawab. Pikiranku jadi bimbang. Bertemu atau tidak dengan tetangga-tetanggaku dulu itu?

“Bagaimana, Sum? Sekarang terserah dirimu. Kalau mau langsung pulang, ya, kita pulang. Bila mau singgah dulu dulu di rumah tetangga-tetanggamu, ya mari. Aku siap mengantarkan kalian berdua ini sampai ke mana pun,” kata Mas Pras.

Terus terang aku agak bimbang menentukan sikap, singgah atau tidak. Kalau singgah, singgah di rumahnya siapa?

Di rumahnya Bu Irah atau Mbak Wanti? Atau kedua-duanya? Bagaimana pula jika tidak singgah? Tapi, bagaimana kesan Bu Irah dan Mbak Wanti, jika mereka tahu aku datang namun tidak singgah ke rumah mereka?

“Bagaimana, Yat? Pulang atau mau singgah dulu ke rumah tetangga-tetanggamu dulu?” giliran Warni yang bertanya.

“Kalau menurutmu, bagaimana?” aku balik bertanya.

“Menurutku, dua-duanya tidak ada masalah. Pulang oke, singgah ya oke,” ujar Warni.

“Kita pikirkan sambil jalan,”kata Mas Pras sambil melangkah meninggalkan makam Mas Bim.

Beberapa langkah menjelang sampai ke mobil, mendadak muncul keinginan untuk singgah saja di rumah Bu Irah dan Mbak Wanti.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (23)

“Rasanya akan lebih baik bila aku singgah, ya,” kataku begitu kulihat Mas Pras mengambil kunci mobil dari saku celananya.

“Menurutku juga begitu,” timpal Warni.

Mobil yang dikemudikan Mas Pras melintas pelan di jalan yang menuju ke arah rumah bekas tempat tinggalku dulu.

Rumah Bu Irah hanya berjarak sekitar sepuluh meter di sisi barat rumah bekas tempat tinggalku dulu itu. Sedang rumah Mbak Wanti, tak jauh di sebelah baratnya lagi.

Ketika mobil memasuki halaman rumah Bu Irah, kebetulan Bu Irah sedang berada di depan rumah. Aku cepat-cepat turun. Kemudian disusul Warni dan Mas Pras. Bu Irah terkejut ketika melihat yang turun dari mobil itu adalah aku.

“Heh…..Jeng Sumi, to?” sambut Bu Irah setengah berteriak seraya mendekat menyambutku.

Setelah dekat, Bu Irah langsung memelukku. Pelukannya terasa erat. Dan, pelukan itu kurasakan bagai pelukan seorang ibu kepada anak perempuannya yang datang kembali setelah lama pergi.

Pertemuan itu membuatku terharu. Mataku terasa panas. Kurasakan seakan ada air nah yang akan meluap di pelupuk mata. Mata Bu Irah pun terlihat berkaca-kaca. Aku yakin, ia pun terharu dengan pertemuan yang tentu di luar dugaannya.

Ketika ia melepaskan pelukannya, lalu kuperkenalkan Mas Pras dan Warni. Mereka pun bersalaman. Bu Irah pun mempersilakan kami masuk ke rumahnya. (Bersambung)

Lihat Juga

PASAR KEMBANG: Wajah Yogya yang Buram (2)

          Oleh: Sutirman Eka Ardhana & Heniy Astiyanto BALOKAN, inilah nama lain dari Pasar Kembang. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *