Sabtu , 20 April 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (37)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (37)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Nyanyian daun-daun jambu yang tergesek angin terdengar lagi di telingaku setelah berbulan-bulan aku tak pernah mendengarkannya. Berbulan-bulan sudah nyanyian alami dan kicau burung-burung di desa ini tak kudengarkan. Desau daun-daun bambu dan kicau burung di pucuk-pucuk pepohonan itu, membuat hatiku terasa perih. Membuat rasa rinduku kepada Mas Bim menjadi muncul.

“Ke mana lagi, Sum?” pertanyaan ini membuatku tersentak.

“Belok ke kanan lagi, nah, kita sampai.”

“Di tempat pemakaman sana?” tanya Mas Pras seraya menunjuk ke tanah pemakaman yang tinggal sekitar seratus meter lebih.

“Ya,” anggukku.

Mas Pras menghentikan mobilnya tepat di depan pintu kawasan pemakaman. Aku dan Warni serentak keluar dari mobil. Kemudian disusul Mas Pras.

“Di mana makam suamimu, Sum?” tanya Mas Pras.

“Tuh, di pojok sana,” jelasku sambil melangkah mendekat ke makam Mas Bim.

Dengan air mata yang tertahan, aku melangkah cepat menuju ke makam Mas Bim. Sepertinya aku tak sabar lagi untuk segera sampai di depan makam suamiku itu.

“Jangan cepat-cepat, Sum. Nanti kan akan sampai juga,” ujar Mas Pras lembut.

Beberapa menit kemudian, aku, Warni dan Mas Pras sampai di makam Mas Bim. Meski beberapa makam baru terlihat di sekitarnya, aku tetap tidak lupa dengan letak makamnya Mas Bim. Makam ini memang terkesan tidak terawat. Di gundukan pusaranya tumbuh pepohonan perdu liat.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (14)

Aku lalu berjongkok di depan makam Mas Bim. Dan, tanpa menoleh ke arah Mas Pras maupun Warni, aku berdoa di depan pusaranya.

Mataku perih. Hatiku terasa pedih. Aku tak dapat membendung air mata. Lalu, aku berdoa. Berdoa dengan khusyuk. Berdoa dengan sepenuh hati. Memohon dengan sepenuh jiwa agar arwah Mas Bim mendapat tempat yang layak di sisi Allah.

“Maafkan aku Mas Bim. Baru sekarang aku bisa datang. Baru sekarang bisa berziarah. Maafkan, aku bukan lagi Sumi yang dulu. Sumi yang bersih. Sekarang ini Sumi yang ternoda. Kini aku seorang Sumi yang kotor. Sumi yang hina Dina. Sumi yang pekerjaannya, melayani kemajuan-kemajuan lelaki iseng dan hidung belang. Sumi yang telah menjadi perempuan pelacur,” kata-kata ini bagai saling berebutan di hatiku.

“Aku terpaksa melakukan ini semua demi anak-anak kita. Demi Gagah dan Wanda. Demi tercapainya cita-citamu. Cita-cita agar kelak anak-anakmu menjadi orang yang berpendidikan, orang yang pintar. Maafkan aku, Mas. Aku terpaksa melakukan dan menjalani kehidupan yang kelam di komplek itu. Kalau kau tidak menyukai atau membencinya, maka bencilah aku,” kata demi kata di hatiku terus bermunculan.

Kupejamkan mataku. Kupejamkan dalam kekhusyukan. Dan, kubayangkan wajah Mas Bim yang tetap tampan seperti dulu. Yang tetap memiliki pesona dan daya tarik. Daya tarik yang dulu membuatku begitu sangat menyukai dan mencintainya. Daya tarik yang membuatku selalu mengkhayalkan dirinya bermalam-malam.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (1)

Kubayangkan senyumnya. Kubayangkan tatap matanya. Tutur katanya. Serta belaian tangannya yang lembut dan hangat. Kubayangkan semua kenangan, semua keindahan dan kehangatan yang telah ia berikan kepadaku.

Kehangatan yang membuatku gembira, bahagia dan ceria. Kehangatan seorang kekasih. Kehangatan seorang suami.

Ah, Mas Bim seperti datang menyambutku. Kulihat ia tersenyum. Kulihat wajahnya ceria. Kulihat pula ia bagaikan mengulurkan tangannya. Tapi, kenapa ia berdiri membuat jarak? Kenapa tidak mau mendekat? Kenapa tangannya tak mau merengkuhku? Kenapa tak mau memelukku? Kenapa? Apakah dikarenakan aku sudah kotor dan hina?

Apakah karena aku sudah menjadi perempuan yang tidak berharga lagi? Apakah karena aku sudah berstatus sebagai perempuan pelacur? Apakah semua itu penyebabnya, maka ia tak mau mendekat lebih dekat lagi?

Oh! Mengapa wajahnya yang semula ceria itu menjadi muram? Kenapa senyumnya berubah menjadi hambar?

Kenapa tatap matanya menjadi kuyu? Kenapa wajahnya menjadi pucat? Dan, kenapa tubuhnya tiba-tiba menjadi basah? Kenapa kemudian ia menjauh? Kenapa?

Sepotong ranting kayu pohon bunga samboja luruh dan mengejutkan kekhusyukanku. Semua bayangan tentang diri Mas Bim yang sempat muncul itu mendadak sirna. Mendadak hilang. Bayangan-bayangan wajah Mas Bim itu seakan kembali tenggelam ke balik bumi. Tenggelam ke dasar yang sangat dalam. Teramat dalam. (Bersambung)

Lihat Juga

PASAR KEMBANG: Wajah Yogya yang Buram (2)

          Oleh: Sutirman Eka Ardhana & Heniy Astiyanto BALOKAN, inilah nama lain dari Pasar Kembang. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *