Minggu , 12 Juli 2020
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (33)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (33)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Aku menarik napas sesaat.

“Bisa dikatakan begitu. Bisa dikatakan, dia memang pacarku sewaktu aku masih di SMP dulu. Ketika aku kelas tiga SMP, dia kelas dua SMA. Dan, kami tinggal sedesa. Makanya, dulu kami selalu bersama bila pergi dan pulang sekolah,” kataku dan tiba-tiba sederetan kenangan indah kala bersama Mas Pras dulu muncul kembali. Kenangan saat bersama di jalan-jalan kota asalku yang mempesona, di jalan-jalan menuju ke sekolah, di jalan-jalan dengan pepohonan rindang di tepiannya, dan di jalan-jalan desa yang asri.

“Tapi, hubungan kalian tak sampai ke perkawinan?”

Pertanyaan Warni membuatku tercenung sesaat. Terasa ada yang perih di hati. Terasa ada yang mengiris pilu.

“Ya. Setamat SMA dia diajak Pakde-nya ke Jakarta. Kabarnya dia kuliah di sana. Sedang aku, setamat SMP tidak sekolah lagi, dan ikut saudaraku di Semarang. Di Semarang itulah aku bertemu Mas Bim. Kemudian kami pacaran.

Lalu, tak berapa lama kemudian kami menikah. Ketika menikah, usiaku masih sangat muda sekali. Ya, seandainya aku meneruskan sekolah, saat itu aku baru duduk di kelas dua SMA,” agak parau juga suaraku ketika menguraikan cerita ini.

“Sejak berpisah itu, kau tak pernah berjumpa dengannya lagi? Dan, baru bertemu sekarang di komplek ini?” Warni terus mengejarku dengan tanya.

“Kami memang tak pernah bertemu. Entah mengapa, aku sendiri tidak tahu sebabnya. Dan, baru bertemu hari ini, di sini, di komplek seperti ini.”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (11)

“Pertemuannya denganmu itu secara kebetulan atau bagaimana?” Warni ternyata tertarik dengan penjelasanku.

“Dia memang sengaja mencariku. Dan, akhirnya benar-benar bertemu di sini.”

“Sengaja mencarimu di sini? Kalau begitu, sejak awal ia sudah tahu dirimu berada di sini?”

Kuceritakan semuanya. Kuceritakan semua yang dijelaskan Mas Pras tentang asal mula ia mencariku di tempat prostitusi ini.

“Kalau begitu, pertemuan dengan bekas pacar tadi suasananya cukup seru juga,” seru Warni diiringi derai tawa.

“Ah, tidak. Biasa-biasa saja, War. Yang jelas, aku memang gembira bertemu dengannya lagi, meski pada mulanya

aku sempat merasa malu. Namun, kami tidak melakukan apa-apa kok, War.”

“Yang benar, Yat?” Warni seperti tak percaya.

“Sungguh. Kami tidak melakukan apa-apa. Kecuali memang, aku sempat menangis. Sempat merasa malu. Kami hanya ngobrol saja. Ngobrol tentang masa lalu. Tentang keindahan dan kemanisannya.”

“Ah, masak iya, Yat?”

“Sungguh, War. Jangankan berbuat apa-apa, berbaring saja pun tidak. Kami hanya berbagi pengalaman saja. Cuma itu.”

“Kalau begitu, ia pasti akan datang lagi mencarimu.”

“Memang benar. Bahkan, besok saja kita akan bertemu dengannya.”

“Kok, kita? Kok, aku ikut dibawa-bawa?”

“Bukankah kita sudah merencanakan besok akan ziarah ke makamnya Mas Bim?”

“Lantas, apa hubungannya dengan tamu bekas pacarmu?”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (51)

“Karena dia akan mengantarkan kita ke makam suamiku.”

Percakapan kami mendadak berhenti, karena di mulut pintu muncul Mami Narti.

“Wah…..wah, kok ngobrol terus. Ayo, pergi mandi cepat. Hari sudah hampir Maghrib. Sebentar lagi tamu-tamu mulai banyak, lho,” seru Mami Narti.

Meski terkesan galak, tetap kutemukan senyum di wajah Mami Narti.

“Baik, Mam,” kata Warni.

Warni sudah keluar dari kamarku. Juga Mami Narti, sudah tidak lagi di pintu. Tapi, bayangan wajah, senyum dan tatap mata Mas Pras belum juga pergi. Bayangannya seakan datang silih berganti dengan bayangan wajah dan senyum Mas Bim.

Ketika matahari tenggelam dan hilang di balik rimbun pepohonan, suasana ramai kembali muncul di komplek ini.

Kemeriahan kembali terlihat di sana-sini. Gemerlap lampu-lampu menyemarakkan suasana di kopel-kopel. Dan, derai tawa seakan menyatu dengan dentuman suara musik-musik dangdut.

Demikian pula di kopelku. Derai tawa Wiwien, Aniek dan Rina menyeruak lepas di ruang tamu. Entah apa yang lucu, hingga memancing tawa mereka. Sementara aku, Warni dan Tari, duduk di kursi teras memandang pengunjung komplek yang hilir-mudik.

Berbeda dengan siang hari, bila malam suasana kehidupan benar-benar muncul di komplek ini. Kopel-kopel didatangi para tamu. Ada yang singgah, duduk-duduk, hanya sekadar minum atau langsung masuk ke kamar.

Sedang perempuan-perempuan penghuninya menyambut dengan dandanan seronok, make-up yang meriah dan senyum melimpah. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *