Kamis , 14 November 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (32)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (32)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Mendadak timbul keinginanku untuk menanyakan hal itu. Entah mengapa, ada semacam perasaan yang mendorong-dorong di hatiku untuk menanyakannya. Dia sudah beristri atau belum?

“Mas Pras sudah punya putra berapa?” kuberanikan diri bertanya seperti ini.

Sesaat terlihat ia terdiam. Tapi, setelah itu terdengar derai tawanya.

“Kok tertawa?” tanyaku agak heran.

“Pertanyaanmu itu yang membuatku tertawa, Sum.”

“Kok?”

“Bagaimana aku sudah punya anak, punya isteri saja belum,” ujarnya disertai tawa.

“Ah, Mas Pras bergurau.”

“Sungguh. Aku mengatakan yang sebenarnya.”

Aku masih belum yakin juga.

“Jadi?” tanyaku lagi.

“Ya, aku belum punya isteri, Sum. Aku masih sendirian terus.”

“Ah?!” aku seperti tak percaya.

“Betul, Sum. Aku berkata apa adanya. Untuk apa aku berkata bohong kepadamu,” wajah Mas Pras terlihat serius.

Ada perasaan lega di hatiku mendengar penjelasannya seperti itu.

Cukup lama juga Mas Pras berada di kamarku. Akan tetapi, selama itu aku dan dia hanya berbincang-bincang, berbagi pengalaman, berbagi suka dan duka. Cuma itu. Tak lebih dari itu.
Menjelang petang, Mas Pras pamitan. Sebelum pamitan ia sempat mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya padaku. Tentu saja aku menolak pemberiannya itu.

“Jangan tersinggung, Sum. Ini bukan untuk apa-apa. Ini untuk anak-anakmu. Simpanlah. Nanti kalau kau pulang ke desa, kan bisa dibawa,” katanya dengan tatap mata yang teduh.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (38)

Aku tidak bisa mengelak. Aku terpaksa menerimanya, meski dengan berat hati.
Aku mengantarkannya keluar. Bahkan tidak sekadar hanya sampai di teras kopel. Aku mengantarkannya sampai ke depan pintu masuk komplek.

Sepeninggal Mas Pras, kurasakan perasaan yang lengang. Perasaan yang sepi. Hatiku bagai terpuruk ke dalam lorong panjang yang senyap. Aku seperti kehilangan. Kehilangan sesuatu yang terasa samar dan sayup.

Ketika Mas Pras berada di kamarku, hamparan hatiku yang seakan padang kering kerontang sempat bagaikan tersiram curahan air yang menyejukkan. Dan tatap mata yang teduh itu telah meneduhkan gebalau gelisahku.

Aku berbaring. Lalu, mataku menerawang jauh bagai menembus langit-langit kamar. Sementara pikiranku seakan terus mengikuti kepergian Mas Pras.

Ah, Mas Pras, kenapa kau datang ke sini? Kenapa kau cari aku di tempat seperti ini? Kenapa kita bertemu di sini? Di tempat pelacuran seperti ini? Sungguh, tak pernah kubayangkan akan bertemu lagi dengannya di tempat yang kelam dan kotor ini.

Sepuluh tahun lebih kami tak pernah bertemu. Tapi, sikap dan gaya, serta caranya memandangku, tidak juga berubah. Masih tetap seperti dulu. Masih tetap seperti saat ia selalu mengantar dan menjemputku di sekolah.

Terlebih-lebih keteduhan di tatap matanya itu masih juga seperti dulu. Tatap mata yang membuat hati remajaku saat itu senantiasa berbunga-bunga. Tatap mata yang keteduhannya membuat hatiku terasa sejuk serta damai, manakala berada di dekatnya atau berjalan bersamanya di jalan-jalan kota asalku. Satu hal lagi, ia masih tetap tampan. Senyumnya masih tetap memikat. Masih tetap membuat dadaku berdebar-debar bila memandangnya.

Simak juga:  PASAR KEMBANG: Wajah Yogya yang Buram (2)

“Hei, sore-sore kok melamun. Ayo, mandi sana!” kata-kata Warni yang berdiri di mulut pintu mengejutkan lamunanku.

Aku bangun dari berbaring, dan duduk.

“Sudah pulang tamumu itu?” tanyaku.

“Sudah,” jawabnya sambil melangkah masuk dan duduk di sampingku. “Dan, kau kelihatannya asyik juga dengan
tamu yang barusan,” tambahnya.

“Ah, biasa-biasa saja, War,” aku menjawab seadanya.

“Tapi, menurut Aniek, kau telah mengantarkan tamumu itu pulang sampai ke pintu masuk komplek. Siapa dia, Yat?

Kelihatannya yang ini jauh lebih istimewa dibanding tamumu yang kemarin itu. Siapa?”

Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Warni ini. Senyuman itu ternyata membuat Warni menjadi semakin penasaran.

“Jangan hanya senyum-senyum. Ayo, ceritakan padaku, siapa dia itu,” desak Warni.

“Kau tentu tidak akan percaya bila aku katakan bahwa tamumu itu adalah teman baikku semasa remaja dulu,” kucoba untuk berterus-terang sambil membayangkan kembali wajah, senyum dan tatap mata Mas Pras yang telah bertahun-tahun hilang, dan datang lagi.

“Jadi, dia kenalan baikmu dulu?”

“Ya.”

“Kenalan baik atau pacar?” (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x