Selasa , 19 November 2019
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (3)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (3)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

“Mas Bim?! Mana Mas Bim?! Mana?!!” teriakku sambil mencoba bangkit dari tempat tidur.
Bu Irah dan Mbak Wanti cepat-cepat menenangkanku.

“Sudahlah, Jeng. Sabar dulu. Berbaring saja dulu. Sabar ya,” ujar Bu Irah seraya memegangi tanganku.
Kemudian dua lelaki masuk ke kamar, mereka tetangga dekatku juga. Salah seorang di antaranya mendekat sambil berkata, “Mas Bim sudah dibawa ke rumah sakit. Kita tunggu saja bagaimana perkembangannya nanti.”

“Apa dia masih hidup? Apa dia bisa diselamatkan?” tanyaku lemah.

“Entahlah. Kita tunggu saja kabarnya,” katanya dengan wajah pasrah seraya menarik napas dalam-dalam.
Kuingat lagi tubuh Mas Bim yang tergeletak bersimbah darah. Kuingat lagi kemejanya yang basah oleh merahnya darah. Kuingat lagi wajah tamu-tamu yang datang mencari Mas Bim. Kuingat suara letusan senjata api. Aku kembali menjerit. Kembali meneriakkan nama Mas Bim. Dan kembali, dunia kurasakan teramat gelap. Teramat gulita. Kembali aku tidak sadarkan diri. Pingsan.

Menjelang pukul delapan malam, Pak Darman ketua RT-ku, datang dari rumah sakit. Begitu datang ia langsung menemuiku yang masih terbaring di kamar ditemani Bu Irah. Ia mencoba tersenyum, meski balutan-balutan ketegangan jelas terlihat di wajahnya.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (55)

“Begini, Dik. Saya baru pulang dari rumah sakit. Saya ingin memberitahukan bahwa pihak rumah sakit sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan jiwa suamimu. Akan tetapi, Allah menghendaki lain,” kata-kata Pak Darman terhenti, seakan-akan ada benda kecil yang tiba-tiba menyekat di kerongkongannya.

Aku sadar dengan apa yang telah terjadi. Aku cukup mengerti kata-kata apa lagi yang sesungguhnya ingin dikatakan Pak Darman, tapi tak mampu diucapkan. Kendati pun begitu kata-kata yang tidak terucapkan itu seakan belati tajam yang menghujam dalam-dalam dan menghentikan detaknya. Aku kehilangan daya. Aku lemah. Aku tak mampu lagi menjerit. Tak lagi mampu berkata-kata. Bahkan, aku seakan tak mampu lagi mengeluarkan air mata. Aku bagaikan terhempas ke lorong bumi yang teramat dalam.

Samar-samar kudengar isak tangis Bu Irah. Samar-samar pula kudengar kata-kata Pak Darman lagi, “Menurut keterangan petugas yang tadi menemui saya di rumah sakit, jenazah suamimu baru besok bisa dibawa pulang, setelah urusan administrasi di rumah sakit diselesaikan. Dan menurut keterangan petugas pula, malam ini anggota keluarga tidak diizinkan melihat ke rumah sakit. Katanya, besok saja, sekalian membawa jenazah pulang.”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (10)

Hatiku benar-benar hancur. Remuk. Dan terpukul. Jiwaku teramat hampa. Aku bagaikan mengambang di awang-awang. Dalam ketakberdayaan itu ada protes yang meletup-letup di nuraniku. Betapa tidak. Tubuh Mas Bim yang tergeletak di kamar mayat rumah sakit belum boleh dilihat keluarganya! Bagaimana mungkin hal semacam ini terjadi?! Aku kan istrinya. Aku berhak melihat dan mendampingi Mas Bim dalam keadaan seperti apa pun!

Jangankan hanya semalam, seminggu atau bahkan sebulan sekalipun lamanya jasad Mas Bim terbaring di kamar mayat, aku berhak menungguinya! Ya, aku berhak! Aku berhak! Tapi, kenapa sekarang ada yang mencegahnya?!

Kenapa?!

Gebalau protes itu tak mampu terucap. Mulutku seakan tidak memiliki daya lagi untuk mengucapkannya barang sepatah kata pun. Letupan-letupan protes itu hanya mengharu-biru dan mencabik-cabik dadaku. Menyayat-nyayat perasaanku. Meremuk-redamkan jiwaku. Melemahkan seluruh daya dan kekuatanku. Bahkan, untuk mengeluh pun, aku sudah tak mampu. Aku sungguh-sungguh tidak berdaya. Dan, aku tak sadarkan diri lagi. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x