Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (28)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (28)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Warni kembali bercerita. Bercerita tentang pengalaman yang membuat bulu romaku seakan berdiri semuanya. Pengalaman menyeramkan, yang membuat ciut nyaliku. Cerita tentang tamu yang perilakunya jauh lebih sadis dan brutal.

“Kau tahu, apa yang ingin dilakukannya padaku? Dia ingin melukaiku. Ingin menyiksaku. Aku benar-benar diberlakukannya bagai binatang. Hih, bergidik bulu romaku bila ingat peristiwa itu. Karena takutnya, aku sampai menjerit-jerit. Sampai-sampai pintu kamarku didobrak dari luar,” urai Warni.

“Lantas bagaimana?” tanyaku semakin penasaran dan ngeri.

“Ada tamu yang di luar ikut masuk dan menggeret lelaki itu keluar dari kamarku. Sempat terjadi keributan di kopel ini. Dan, dia nyaris dihajar banyak orang, kalau saja aku tidak cepat-cepat mencoba menjelaskan bagaimana peristiwa sebenarnya. Dia terus dibawa keluar oleh keamanan di sini,” cerita Warni membuat rasa takutku kian menebal.

“Kok mengerikan seperti itu sih?!”

“Begitulah, Yat. Banyak suka-dukanya di sini. Banyak pengalaman yang membuat kita takut. Dan, hari itu aku benar-benar lagi bernasib sial.”

“Kok?” rasa ngeri yang sangat membuat aku seakan kehilangan kata-kata untuk bertanya.

“Bagaimana tidak sial. Sampai keesokan harinya aku tak berani menerima tamu. Aku dihantui bayangan tamu seperti itu. Berhari-hari rasa takut itu baru benar-benar hilang,” jelas Warni.

“Dia pergi tanpa meninggalkan uang?’

“Waktu keluar dari kamarku, dia memang belum memberiku uang serupiah pun. Dalam ketakutan seperti itu, aku tak sempat berpikir soal uang lagi. Aku selamat dari siksaannya saja sudah beruntung. Tapi, setelah dia dibawa keamanan, beberapa saat kemudian penjaga keamanan datang lagi sambil menyerahkan uang. Katanya, lelaki itu ketika di pos penjagaan minta maaf, dan kemudian meninggalkan uang yang menurutnya untukku.”

Simak juga:  Malam 7 Tahun Sastra Bulan Purnama Puisi Tidak Berhenti Dibacakan

“Amit-amit, jangan sampai ada tamu seperti itu yang masuk ke kamarku. Kalau sampai ada, aku bisa mati lemas dibuatnya,” harapku.

“Makanya, tamumu yang gendut itu belum apa-apa. Menurutku masih biasa-biasa saja. Belum keterlaluan. Jadi, menurutku kau tidak harus berlebihan membencinya. Coba bayangkan, bagaimana bila ada tamu yang ngamar denganmu perilakunya sama seperti yang kualami dulu?”

“Aku tak mau membayangkannya. Aku ngeri. Ngeri sekali.”

Warni bercerita banyak hal lagi. Bercerita tentang kisah-kisah yang dialaminya semenjak ia menjadi penghuni di komplek prostitusi ini. Aku pun demikian. Aku pun menceritakan beberapa pengalaman yang kuanggap berkesan, menarik dan menakutkan, selama berada di sini. Kami asyik bercerita, sampai akhirnya Mami Narti berteriak memanggil Warni, karena ada tamunya yang datang.

“War, dicari Mas Wid,” seru Mami Narti dari ruang tamu.

“Hah, Mas Wid datang. Aku keluar dulu,” katanya dengan senyum mengembang.

“Apa tamu sadismu itu bernama Mas Wid?” gurauku.

“Ngawur saja kau, Yat,” katanya seraya melangkah keluar kamar.

Ketika Warni keluar dan membawa tamunya ke kamar, perasaan ngeri itu tak juga kunjung hilang. Aku jadi berpikir yang bukan-bukan. Bahkan pikiranku juga tertuju kepada tamu yang seperti Mas Bim itu.

Tamu yang wajah dan gayanya seperti Mas Bim itu juga sopan dan lembut. Padahal menurut Warni, tamunya yang sadis dan menyiksanya itu pun berpenampilan lembut dan sopan. Serta ramah. Hah, jangan-jangan dia juga seperti tamunya yang sadis itu?

Tapi, apa mungkin dia seperti itu? Apa mungkin dia punya kelainan? Apa mungkin dia mau menyiksa? Mau menyakiti? Menampar? Memukul? Atau apa? Ah, rasanya tidak mungkin dia seperti tamunya Warni itu? Dia begitu ramah. Begitu sopan dan santun. Pikiranku jadi bergebalau. Beragam tanya saling berbenturan di benakku.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (55)

Tiba-tiba Warni muncul lagi. Ia tersenyum-senyum gembira.

“Mana tamumu?” tanyaku.

“Ya, di kamar.”

“Kenapa kau tinggal? Apa sudah selesai pekerjaanmu? Kok, hanya sekitar dua menit saja?”

“Sembarangan saja kau ini, Yat. Apa-apa juga belum. Dia baru mencium pipiku saja. Dia sengaja kutinggal, biar istirahat dulu,” ujar Warni.

“Kok? Apa dia datang kemari hanya sekadar untuk istirahat saja?”

“Ya tidak, to. Dia kemari tentu untuk melepaskan rasa kangen yang tertahan selama berbulan-bulan. Dia itu tamu istimewa. Jadi, pelayanannya juga harus istimewa. Nah, kusuruh dia istirahat dulu. Biar capeknya hilang. Nanti, setelah capeknya hilang, baru……”

“Baru apa?”

“Baru diberesi,’ tawa Warni berderai.

Tawaku juga berderai mengisi ruangan.

“Kok, aku belum pernah dengar yang namanya Mas Wid? Baru sekarang aku mendengarnya.”

“Ya, dia tamu lamaku. Lama sekali dia tidak kemari. Ya, selama kau berada di sini, baru sekali ini dia datang. Padahal, dulu dia adalah tamu istimewaku.Hampir dua kali seminggu ia pasti kemari menemuiku. Orangnya baik. Murah hati. Dan, murah duitnya. Dia itu duda. Duda kaya yang kesepian. Katanya, selama beberapa bulan ini ia pergi ke Eropa untuk urusan bisnisnya. Makanya dia lama tidak pernah datang kemari,” jelas Warni dengan mata berbinar-binar.

“Wah, pantas kau gembira sekali, begitu mendengar dia datang.”

“Sudah ya, Yat. Aku mau terbang dulu di kamar,” ujar Warni seraya menghilang dari pintu.

Aku tersenyum melihat tingkah Warni. * (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *