Selasa , 4 Agustus 2020
Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (27)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (27)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Sementara aku di kamar berbincang-bincang dengan Warni, di ruang tamu Wiwien, Rina, Lasmi dan Aniek, asyik berceloteh pula. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi yang pasti, mereka membicarakan sesuatu yang menarik hingga derai tawa terlepas berulang kali.

Barangkali, seperti biasanya mereka sedang saling bertukar cerita atau pengalaman dengan tamu-tamu yang dilayani. Memang, sesuatu yang biasa terjadi pada hampir setiap kopel di komplek ini, bahwa sesama penghuninya sering berbagi cinta tentang bagaimana mereka melayani para tamu. Terlebih-lebih bila ada tamu baru. Tamu yang baru pertama kali masuk ke kopel atau ke komplek. Tamu yang masih canggung. Tamu yang bergaya malu-malu.

“Kau tadi ngomong apa, War?” tanyaku setelah derai tawa itu agak reda.

“Barangkali dia memang punya kelainan.”

“Kelainan?”

“Ya, kelainan.”

“Kelainan, bagaimana? Kelainan jiwa, maksudmu?”

“Oh, tidak sejauh itu.”

“Lantas?”

“Biasanya tamu itu cepat bosan bila diperlakukan seperti itu. Tapi, dia ini tidak. Dia justru suka dengan perempuan
yang tidak ramah. Yang tidak mau tersenyum. Yang tidak bereaksi. Yang diam saja, ketika dia sibuk dan aktif bekerja. Pokoknya, dia tidak suka dengan perempuan yang binal. Perempuan yang hot. Yang dia sukai, perempuan yang kalem seperti patung. Kalau ada tamu yang seperti itu, bisa disebut dia punya kelainan.”

“Ah, apa iya, War?” aku tertarik juga dengan kata-kata Warni itu.

Simak juga:  Sulis Bambang dan Bengkel Sastra Taman Maluku di Sastra Bulan Purnama

“Lho, lagi lelaki yang menjadi tamu di komplek seperti ini macam-macam kelakuannya. Macam-macam ulahnya. Ada yang lembut, romantis, ada yang kasar, brutal, sadis, dan punya kelainan-kelainan lainnya. Jadi, kalau kau dapatkan tamu seperti lelaki gendut itu tadi. ya kau tidak perlu terkejut. Dan, itu masih belum apa-apa. Beruntung kau dapat tamu yang seperti itu. Bagaimana, kalau kau mendapat tamu yang brutal, beringas, sadis dan suka menyakiti?”

Agak ngeri juga aku mendengar penjelasan Warni.

“Ah, apa ada tamu yang seperti itu, War?”

“Ada saja. Yat. Dan, tidak sedikit yang begitu.”

“”Ada saja, Yat. Dan, tidak sedikit yang begitu.”

“Yang sadis dan menyakiti kita?” aku semakin menjadi ingin tahu.

“Ya.”

“Masak?’

“Aku sudah pernah mendapatkan tamu seperti itu.”

“Hah?!”

“Bahkan sudah dua kali.’

“Ceritakan, ceritakan, War,” aku jadi penasaran.

Warni pun menceritakan pengalamannya.

“Semula kukira dia tamu yang baik, karena kelihatannya ramah dan sopan. Maka begitu ia mengajakku, aku langsung saja membawanya ke kamar. Tapi, setelah di dalam kamar, ya Tuhan, dia ternyata berlaku sadis kepadaku!

Kau tahu, apa yang dilakukannya padaku, Yat?”

“Apa? Apa yang dilakukannya, War?”

“Ketika akan memulai, tiba-tiba ditamparnya pipiku. Tentu saja aku terkejut dan menjerit. Tapi, belum sempat jeritanku terdengar keras, ia sudah buru-buru membungkam mulutku, dan menamparku sekali lagi. Di saat aku meronta untuk melepaskan diri darinya, dia langsung meminta maaf dan memohon kepadaku agar tidak berteriak-teriak. Dia mengatakan, hal semacam itu terpaksa dilakukannya, karena dengan cara seperti itulah birahinya baru bisa terangsang dan bangkit. Menurutnya, nafsunya akan bangkit bila melihat perempuan yang bersamanya menjerit dan kesakitan.”

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (50)

“Hih, kok mengerikan sekali, War?”

“Ya, seperti itulah kenyataannya.”

“Setelah itu, bagaimana War? Apa kau tetap melayaninya juga?”

“Ya, tetap. Setelah begitu, dia kembali menjadi seperti layaknya lelaki normal. Dan, dia memberiku bayaran yang cukup lumayan juga.”

Terus terang, hatiku ciut juga mendengar pengakuan Warni.

Perasaan takut dan ngeri mendadak menghinggapiku. Betapa ngerinya, jika peristiwa yang dialami Warni terjadi padaku. Ah, tak bisa kubayangkan bila hal seperti itu menimpa atas diriku. Bersama lelaki yang kasar saja, aku sudah merasa tersiksa. Apalagi dengan lelaki yang sadis dan brutal. Betapa ngerinya. Betapa takutnya.

“Kau bercerita sesungguhnya atau hanya menakut-nakutiku saja, War?” tanyaku dengan perasaan kecut.

“Aku menceritakan pengalamanku sesungguhnya. Bukan mengada-ada, Yat. Bahkan, tidak hanya sekali itu saja aku mengalaminya. Dua kali lho, Yat,” jelas Warni.

“Dengan orang yang sama?”

“Tidak. Dengan tamu lainnya lagi.”

“Lainnya lagi?”

“Ya. Bahkan, lebih sadis.”

“Jangan menakut-nakuti, War.”

“Aku bicara apa adanya.”

Aku menahan napas. Perasaan ngeri semakin menunjamku. (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *