Beranda » Novel » Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (24)

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (24)

Novel karya Sutirman Eka Ardhana

Baru saja aku merebahkan badan, ia tiba-tiba berubah seperti seekor serigala yang lapar. Dalam hitungan beberapa detik saja, ia sudah menerkam dan menggumulku.

Mulutnya menjarah leher, bibir dan wajahku dengan buas. Sementara tangannya menjalar ke seluruh tubuh. Aku benar-benar mual. Aku benar-benar ingin muntah. Ingin rasanya aku meneriakkan kejengkelanku sekeras-kerasnya.

Ia benar-benar tak sabar. Ia benar-benar bagaikan serigala liar. Serigala kelaparan yang berhari-hari tidak mendapatkan mangsa. Napasnya mendengus-dengus. Tangannya beraksi cepat. Lalu, pakaian yang melekat di tubuhku terlepas. Tidak satu pun yang tersisa. Aku tak bereaksi apa-apa. Aku diam. Diam, seribu diam.

Dan, yang terjadi kemudian, perutnya yang gendut itu telah menghimpitku. Menghimpit dengan keras. Menghimpit dengan paksa. Napasku jadi sesak. Sangat sesak. Aku sulit bernapas, karena tubuhku seakan terhimpit bongkahan batu gunung yang besar. Aku lemas. Aku seperti ingin pingsan dibuatnya.

Kupejamkan mata. Mungkin ia mengira aku menikmati apa yang sedang diperbuatnya. Padahal tidak. Aku sama sekali tidak menikmatinya. Kupejamkan mata agar tidak melihat wajahnya yang memuakkan itu.

Setelah itu, kurasakan tubuhnya mengejang. Dan, mengejang.

Bongkahan batu gunung yang besar itu tak lagi menindihku. Ia sudah tergolek di samping. Aku bisa bernapas lega kembali. Namun, rasa nyeri kurasakan menjalar di sekujur tubuh.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (31)

Ingin segera kuakhiri suasana menyebalkan ini dengan berusaha untuk bangun.

“Mau ke mana?” tanyanya begitu melihat aku sudah dalam posisi duduk.

“Mau membersihkan diri dulu,” kataku dengan harapan agar ia tahu bahwa aku tak ingin melanjutkannya lagi.

“Kenapa buru-buru? Nanti saja. Kita ulangi sekali lagi dulu,” serunya disertai senyum yang mesum.

“Tapi……..,” aku berusaha menghindar.

“Ayo, nanti saja. Nanti saya bayar dua kali lipat. Jangan khawatir.”

Senyumnya terlihat menyeringai.

Dasar badak! Aku menggerutu dalam hati. Dikiranya aku sedang membuat strategi murahan agar ia membayar dua kali lipat. Hah, aku tak tertarik dengan uangnya. Sama sekali tidak!

Tetapi mendadak, aku ingat pesan Mami Narti. “Layanilah setiap tamu dengan sebaik mungkin, sekalipun engkau tidak menyukainya. Jangan kecewakan tamu, karena dari tamulah kau mendapatkan uang,’ pesan Mami Narti kepadaku, di awal-awal kujalani kehidupan di komplek ini.

Ada perasaan saling berbenturan di hatiku. Memenuhi permintaannya atau tidak. Belum lagi sempat kutemukan jawaban, ia sudah merengkuh badanku, sehingga membuat aku kembali terbaring.

Serigala itu ternyata masih lapar. Ia kembali menerkamku. Kembali melumatku.

Bongkahan batu besar itu kembali menghimpitku. Kembali membuat dadaku sesak dan sulit bernapas. Dan, kembali membuat perutku mual, teramat mual. Kurasakan nyeri yang sangat. Nyeri yang panjang.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (48)

Ketika selesai, aku berharap agar ia segera keluar dari kamar. Ternyata tidak. Ia justru masih ingin berlama-lama di kamarku.

“Saya ingin istirahat dulu barang beberapa belas menit,’ ucapnya seraya menutupi tubuhnya dengan kain sarung yang memang disediakan untuk setiap tamu.

Dasar tidak tahu diri!

Betapa sebaiknya aku. Betapa jengkelnya. Ingin rasanya aku berteriak memanggil Mami Narti, agar menyuruh dia segera keluar dari kamar.

Apakah dia tidak tahu bahwa waktuku sangat sempit?! Apakah dia tidak tahu bahwa aku sesungguhnya tidak ingin melayaninya?! Dasar serigala! Serigala liar! Serigala lapar! Serigala yang memuakkan! Gerutuku bertubi-tubi dalam hati.

Aku tak sabar. Aku tidak betah menunggunya di dalam kamar. Aku lalu keluar dan menemui Warni di kamarnya.

“Bagaimana? Sudah keluar tamumu?” sambut Warni.

“Sudah apa,” suaraku kesal.

“Lho?”

“Dia masih ada di kamar. Belum mau keluar.”

“Kok? Apa mau minta tambah lagi?”

“Dia mendengkur. Dongkol aku dibuatnya.’

Warni tertawa melihat wajahku yang cemberut.

“Jangan dongkol kepada pengagum beratmu. Seharusnya kau bersyukur, karena dia telah menjadi salah satu dari sekian banyak pengagummu,” goda Warni.

“Jangan menggoda, War. Aku benar-benar dongkol dibuatnya. Gara-gara dia rencana kita jadi terhambat. Dan, ini dandananku jadi hancur semuanya.” (Bersambung)

Lihat Juga

Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (65)

Aku menghela napas. “Bagaimana dengan Mas Pras tadi? Lancar-lancar saja?” tanya Warni kemudian. “Kami berjanji …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *